![]() |
| Nof Hendra Pendiri Utama Forum Dinamika Sumatera Barat |
Padang, MP----- Pendiri Utama Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB), Nof Hendra, menegaskan bahwa FDSB dibangun sebagai sistem pelayanan terpadu satu atap berbasis nagari dan teknologi digital untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat Sumatera Barat yang semakin kompleks dan saling berkaitan.
Pernyataan tersebut disampaikan Nof Hendra menanggapi masukan sejumlah anggota yang mengusulkan agar FDSB memusatkan perhatian hanya pada satu sektor tertentu.
Menurutnya, nama “Dinamika” yang melekat pada organisasi itu mengandung makna pergerakan dan perubahan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, sehingga tidak tepat jika aktivitas organisasi dibatasi pada satu bidang saja.
“Kalau FDSB hanya fokus pada satu sektor, maka namanya bukan Dinamika lagi. Bisa menjadi Forum Petani, Forum Pendidikan, atau Forum UMKM. Itu bagus, tetapi belum menjawab persoalan masyarakat secara utuh,” ujar Nof Hendra dalam keterangannya kepada awak media di Padang, Rabu (17/6).
Ia menjelaskan, permasalahan yang dihadapi masyarakat di tingkat nagari tidak pernah hadir secara terpisah. Persoalan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga kesejahteraan sosial saling berhubungan dan membutuhkan pendekatan yang terintegrasi.
Karena itu, FDSB dirancang sebagai satu pintu layanan yang menampung seluruh aspirasi masyarakat, kemudian menyalurkannya kepada bidang yang berwenang untuk ditindaklanjuti.
“FDSB hadir untuk memotong mata rantai yang selama ini membuat masyarakat harus berpindah-pindah mencari solusi. Semua aspirasi masuk melalui satu pintu dan diteruskan kepada pihak yang tepat,” katanya.
Memangkas Rantai Birokrasi
Nof Hendra menegaskan, FDSB bukanlah organisasi yang menambah lapisan birokrasi baru, melainkan berupaya memperpendek jalur penyelesaian persoalan masyarakat melalui pemanfaatan data, jejaring, dan teknologi digital.
Skema kerja yang disiapkan dimulai dari penyampaian aspirasi masyarakat melalui grup WhatsApp nagari. Selanjutnya, aduan didata dan dianalisis oleh bidang terkait sebelum diteruskan kepada instansi pemerintah, organisasi nonpemerintah, kalangan pengusaha, maupun perantau Minang yang memiliki kapasitas membantu.
Setiap proses, lanjutnya, akan dikawal hingga tuntas dan dilaporkan kembali kepada masyarakat secara transparan.
“Selama ini rantainya panjang, mulai dari masyarakat, lurah, camat, hingga dinas dan pemerintah provinsi. Belum tentu persoalannya sampai ke tujuan. Lewat FDSB, proses itu dipersingkat dengan dukungan data dan jejaring yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Bangun Konsep “Rumah Gadang Digital”
Untuk mendukung sistem tersebut, FDSB mengusung konsep “Rumah Gadang Digital”, yakni sebuah wadah besar yang memiliki banyak ruang kerja, namun tetap berada di bawah satu tujuan yang sama.
Basis utamanya tetap nagari sebagai unit terkecil pembangunan, kemudian dihubungkan dengan platform digital agar masyarakat perantauan dapat terlibat aktif dalam pembangunan daerah.
Sedikitnya terdapat delapan bidang utama yang dipersiapkan, yakni Bidang Nagari dan Tata Kelola, Bidang Ekonomi dan UMKM, Bidang Pendidikan dan SDM, Bidang Kesehatan dan Sosial, Bidang Infrastruktur dan Lingkungan, Bidang Hukum dan Advokasi, Bidang Rantau dan Investasi, serta Bidang Media, Data, dan Teknologi.
Masing-masing bidang memiliki fungsi spesifik, mulai dari pengelolaan basis data, pengembangan ekonomi nagari, pendampingan pendidikan, layanan sosial, penguatan infrastruktur, hingga membangun konektivitas antara ranah dan rantau.
Berbasis Data dan Teknologi
Nof Hendra menyebut, terdapat empat keunggulan utama konsep yang diusung FDSB. Pertama, tidak terjadi tumpang tindih fungsi karena FDSB bertindak sebagai kurator dan akselerator, sementara pelaksanaan teknis tetap berada di tangan instansi terkait.
Kedua, membuka ruang partisipasi bagi perantau Minang di berbagai negara melalui platform digital. Ketiga, seluruh kerja organisasi didasarkan pada data riil di tingkat nagari. Keempat, setiap bidang tetap memiliki fokus yang jelas meskipun berada dalam satu sistem terpadu.
Ia juga menegaskan bahwa FDSB dirancang sebagai solusi jangka panjang yang menggabungkan tiga fondasi utama, yakni berbasis nagari untuk memperkuat akar adat, berbasis digital untuk menghubungkan ranah dan rantau, serta berbasis data agar setiap program terukur dan dapat dipercaya.
“FDSB tidak hanya membangkitkan semangat kebersamaan, tetapi menyalurkannya menjadi solusi nyata. Kita tidak menambah kerumunan, melainkan memotong antrean birokrasi untuk masa depan Sumatera Barat yang lebih baik,” tegasnya.
Sebagai ilustrasi, ia mengibaratkan FDSB layaknya sebuah pusat layanan terpadu bagi seluruh persoalan nagari.
“Bayangkan FDSB seperti Puskesmas Digital untuk berbagai persoalan masyarakat. Bidangnya berbeda-beda, tetapi loket masuknya satu. Masyarakat tidak perlu lagi berlari ke sana kemari mencari pertolongan,” tuturnya.
FDSB sendiri merupakan wadah silaturahmi dan pengabdian masyarakat Minangkabau di ranah dan rantau yang berfokus pada solusi kolektif berbasis data, jejaring, dan teknologi digital untuk mendukung kemajuan Sumatera Barat.
(Red)
