![]() |
| Batu - batu besar yang berjejer di tebing Sungai Batang Kandis tampak tetap kokoh pasca banjir, menjadi tameng utama yang melindungi permukiman warga dari terjangan arus deras. |
Padang, MP----- Pagi itu cerah, namun isi obrolan warga di Lapau Pak Syamsu terasa berat. Senin (8 Desember), di sebuah lapau sederhana di Gang Golkar, Kampung Jambak, Kelurahan Batipuh Panjang, Kecamatan Koto Tangah, deretan kursi kayu tampak penuh oleh warga yang masih membicarakan bencana banjir bandang yang mengguncang Kota Padang beberapa hari terakhir.
![]() |
| Sawah dan permukiman warga terlihat tetap aman dari terjangan derasnya air sungai, tampak tanggul penahan banjir yang menjulang cukup tinggi melindungi kawasan tersebut. |
Di antara suara gelak kecil dan dentingan gelas kopi, terselip nada pilu yang sulit diabaikan. Cuaca ekstrem yang mengguyur wilayah Sumbar telah memicu banjir bandang besar, menyapu permukiman, menghancurkan rumah, menyeret harta benda, bahkan merenggut nyawa. Obrolan itu merekam langsung bagaimana luka itu masih terasa hangat di hati warga.
“Banjir Bandang kali ini luar biasa dampaknya. Rumah hanyut, isi rumah tak tersisa. Bahkan ada keluarga yang hilang disapu air bah,” ujar Pamber, suaranya terdengar dari dalam lapau yang pagi itu ramai.
Bencana tersebut semakin ganas akibat hantaman gelondongan kayu besar yang ikut terbawa arus dari hulu. Sejumlah warga yakin bahwa kayu - kayu itu menjadi salah satu penyebab kerusakan makin parah.
“Banjir kali ini diperparah oleh gelondongan kayu. Ratusan kubik kayu menghantam apa saja yang dilaluinya. Tidak ada yang bisa bertahan dengan hantaman seperti itu,” kata Syamsu, pemilik lapau, sambil menggeleng ringan.
Namun dalam suasana penuh duka itu, terselip rasa syukur. Warga Kampung Jambak menyadari bahwa proyek pengendalian banjir di Batang Kandis yang dibangun oleh BWSS V Padang telah menyelamatkan permukiman mereka dari bencana yang lebih besar.
“Alhamdulillah, kami hanya dapat genangan. Kalau tidak ada tanggul penahan tebing sungai itu, mungkin rumah kami sudah habis diterjang air dan kayu - kayu itu,” timpal Eli, salah seorang warga yang duduk di sudut lapau.
Masyarakat mengakui bahwa pembangunan pengendalian banjir oleh Kementerian PUPR itu benar - benar terasa manfaatnya, terutama di musim hujan seperti saat ini. Tanggul - tanggul yang dibangun memecah kekuatan arus sungai, memberikan ruang aman bagi permukiman di sekitarnya.
Hari itu, di Lapau Pak Syamsu, obrolan warga tidak hanya menjadi curahan hati, tetapi juga pengingat bahwa upaya mitigasi bencana sangat berarti bagi keselamatan mereka.
(Red-mp)

