-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Jurnalisme di Simpang Zaman : Ujian Integritas di Era Digital

Selasa, 03 Februari 2026 | Februari 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-03T02:15:44Z

Di tengah gemuruh notifikasi, algoritma yang bekerja tanpa henti, serta banjir informasi yang datang silih berganti, profesi jurnalis hari ini berdiri di persimpangan sejarah. Era digitalisasi bukan sekadar perubahan medium, melainkan ujian serius terhadap integritas, ketangguhan, dan jati diri jurnalisme itu sendiri.

Momen pelantikan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) masa bhakti 2024–2029 menjadi lebih dari sekadar seremoni organisasi. Ia hadir sebagai penanda zaman, bahwa jurnalisme Indonesia tengah memasuki fase krusial, di mana kecepatan sering kali mengalahkan ketepatan, viralitas menggeser verifikasi, dan opini berseliweran menyaru sebagai fakta.

Dari Mesin Ketik ke Algoritma

Jika dahulu jurnalis berjibaku dengan mesin ketik dan tenggat cetak, kini mereka berhadapan dengan dashboard analitik, engagement rate, dan tekanan klik. Ruang redaksi tak lagi hanya fisik, melainkan virtual, bergerak cepat mengikuti denyut media sosial dan selera pasar digital.

Namun, esensi jurnalisme sejatinya tak berubah: mencari kebenaran, menyajikan fakta, dan berpihak pada kepentingan publik. Tantangannya justru semakin kompleks. Disinformasi, hoaks, deepfake, hingga manipulasi data menjadi musuh baru yang menuntut kecakapan teknis sekaligus keteguhan moral.

Di sinilah profesi jurnalis diuji. Apakah tetap menjadi penjaga nalar publik, atau larut menjadi sekadar pengganda konten tanpa makna.

PWI dan Tanggung Jawab Zaman

Pelantikan pengurus PWI 2024–2029 menegaskan kembali peran strategis organisasi profesi di tengah disrupsi digital. PWI tidak hanya dituntut sebagai rumah besar wartawan, tetapi juga sebagai kompas etik, benteng profesionalisme, dan ruang penguatan kapasitas jurnalistik.

Pengurus baru memikul tanggung jawab besar: memastikan wartawan tidak hanya melek teknologi, tetapi juga teguh memegang Kode Etik Jurnalistik. Di era ketika siapa pun bisa memproduksi informasi, jurnalis profesional harus tampil berbeda, lebih terverifikasi, lebih berimbang, dan lebih bertanggung jawab.

Digitalisasi seharusnya menjadi alat untuk memperluas dampak jurnalisme, bukan alasan untuk menurunkan standar.

Antara Kecepatan dan Kebenaran

Era digital memaksa jurnalis berpacu dengan waktu. Namun, jurnalisme bukan lomba siapa tercepat, melainkan siapa yang paling benar. Sekali kepercayaan publik runtuh, tak ada algoritma yang mampu memulihkannya.

Karena itu, penguatan literasi digital, verifikasi berlapis, serta keberanian menolak intervensi, baik politik maupun ekonomi, menjadi keharusan. Wartawan dituntut tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara etik dan independen dalam sikap.

Tegak di Tengah Gelombang

Pelantikan Pengurus PWI 2024–2029 adalah momentum konsolidasi, refleksi, dan peneguhan arah. Di tengah derasnya arus digitalisasi, jurnalisme tidak boleh kehilangan ruhnya.

Wartawan harus tetap berdiri tegak sebagai penjaga kebenaran, bukan pengikut arus viral. Sebab di saat informasi kian mudah diproduksi, justru kebenaran menjadi barang paling mahal.

Dan di sanalah jurnalisme sejati menemukan maknanya: tidak sekadar memberitakan apa yang ramai, tetapi menyuarakan apa yang penting, dengan berani, jujur, dan bertanggung jawab.

Penulis: Darmen Rajo Alam 


×
Berita Terbaru Update