![]() |
| H. Mukali Kumar, SH., MH Sekjen SMSI |
Lebak, MP----- Museum Multatuli di Kabupaten Lebak menjadi salah satu titik bersejarah yang dikunjungi Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) dalam agenda Ekspedisi Budaya dan Sejarah Banten pada rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
![]() |
| Momen foto bersama Sekjen SMSI, H. Makali Kumar, SH., MH., dengan jajaran pengurus SMSI Daerah, di museum Mutaltuli, Kabupaten Lebak, Banten. |
Multatuli adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker (1820–1887), seorang penulis Belanda dan mantan asisten residen di Lebak, Banten, yang terkenal karena novel satir Max Havelaar (1860). Dan dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah bangsa. Meski bukan pribumi, ia dengan berani menentang praktik kolonialisme yang kejam dan menindas rakyat Hindia Belanda. Melalui karya-karyanya yang tajam dan berani, Multatuli menguliti ketidakadilan sistem kolonial dan liberalisme yang saat itu menyengsarakan rakyat kecil.
Sekretaris Jenderal SMSI, Makali Kumar, menegaskan bahwa Multatuli adalah contoh nyata bagaimana kekuatan tulisan dapat menjadi alat perlawanan terhadap ketidakadilan.
“Multatuli mengajarkan kita bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi keberanian untuk berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan. Ia menulis dengan nurani, meski harus berhadapan dengan kekuasaan,” ujar Makali Kumar di sela kunjungan ke Museum Multatuli, Jumat (6/2/2026).
Ia menekankan, semangat kritis yang digambarkan Multatuli harus menjadi teladan bagi jurnalis Indonesia saat ini, terutama di tengah tantangan zaman dan derasnya arus kepentingan.
“Jurnalis hari ini harus meneladani keberanian Multatuli, tajam, jujur, dan konsisten mengawal bangsa agar tidak terjebak pada ketidakadilan yang dibungkus kepentingan. Pers harus tetap menjadi suara nurani publik,” tegasnya.
Makali menambahkan, kunjungan ke Museum Multatuli bukan sekadar wisata sejarah, melainkan pengingat bahwa pers memiliki peran strategis dalam menjaga keadilan sosial dan demokrasi.
(Rajo Alam)

