-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Jalan PLTU Teluk Sirih Memprihatinkan, Warga Terdampak

Kamis, 09 April 2026 | April 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-09T13:48:43Z
Potret kondisi jalan beton akses PLTU Teluk Sirih yang rusak dan berlubang, dilalui truk batu bara yang memicu debu tebal hingga menyelimuti permukiman warga, mengganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan pengguna jalan, sementara perbaikan mulai dilakukan dan warga berharap penyiraman rutin kembali digelar demi keselamatan dan kesehatan lingkungan.

Padang, MP----- Deru mesin truk terdengar tak henti di ruas jalan beton menuju PLTU Teluk Sirih, Kamis (9/4/2026). Siang itu, panas matahari mempertegas satu pemandangan yang sulit diabaikan, jalan yang retak, berlubang, dan debu yang menggantung di udara, seolah menjadi bagian dari keseharian warga sekitar.

Jalan beton ini bukan sekadar ruas biasa. Ia merupakan jalan khusus yang dibangun oleh PT PLN (Persero) sebagai akses utama menuju Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sirih, yang berada di Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat. Namun kini, kondisi jalan tersebut justru menimbulkan persoalan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Jalan yang semestinya menopang kelancaran distribusi energi dan aktivitas industri, perlahan berubah menjadi jalur penuh risiko. Sejumlah titik rusak memaksa kendaraan melambat, menghindari lubang dan permukaan jalan yang tak lagi rata. Bagi pengendara roda dua, situasi ini menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi setiap hari.

Persoalan tidak berhenti di situ. Aktivitas lalu lintas truk pengangkut batu bara oleh PT SAE menuju PLTU memunculkan dampak lanjutan berupa debu tebal yang beterbangan. Partikel halus itu tak hanya mengotori jalan, tetapi juga masuk ke rumah - rumah warga, menempel di perabot, bahkan terhirup dalam aktivitas sehari - hari.

“Kalau siang hari, debu masuk ke dalam rumah. Kami terpaksa tutup semua pintu dan jendela,” tutur seorang ibu rumah tangga. Suaranya lirih, mencerminkan kelelahan menghadapi kondisi yang terus berulang.

Di sisi lain, anak - anak tetap bermain di sekitar rumah, meski sesekali menutup hidung. Warga dewasa pun membatasi aktivitas di luar ruangan. Ruang hidup terasa menyempit, terdesak oleh lalu lintas industri yang tak pernah benar - benar berhenti.

Kasrizal, tokoh masyarakat setempat, ketika dikonfirmasi wartawan terkait keluhan warga itu, menilai kondisi ini tidak bisa lagi dianggap sebagai hal biasa. Ia menegaskan bahwa jalan tersebut memang dibangun untuk kepentingan operasional, namun dampaknya kini turut dirasakan masyarakat luas. PT SAE selalu suplayer batu bara diharapkan secepatnya memperbaiki jalan yang rusak.

“Jalan ini memang akses ke PLTU, tapi masyarakat juga ikut menggunakannya. Jangan sampai warga hanya menerima dampak buruknya saja. Perbaikan harus segera dilakukan oleh PT SAE,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya langkah pengendalian debu, seperti penyiraman rutin yang sebelumnya sempat dilakukan. Menurutnya, langkah sederhana itu terbukti mampu mengurangi dampak debu, namun kini tidak lagi berjalan optimal.

Dari sisi pemerintah kelurahan, Lurah Teluk Kabung Tengah, Febri Yeni, menyampaikan bahwa berbagai keluhan warga terkait kerusakan jalan dan debu telah ditindaklanjuti. Ia menegaskan aspirasi masyarakat sudah diteruskan hingga ke tingkat kecamatan sebagai bentuk respon terhadap keresahan yang berkembang.

Sementara itu, saat ditemui di kantornya, Plt Camat Bungus Teluk Kabung, Zulfahmi, menjelaskan bahwa pihak perusahaan telah mulai merespons keluhan warga. Saat ini, menurutnya, perbaikan pada ruas jalan tengah berlangsung.

“Sejauh ini PLN sangat responsif memperhatikan lingkungan serta warga, jalan yang rusak saat ini tengah dalam pengerjaan perbaikan,” ujarnya.

Ia juga menghimbau agar perusahaan terus melakukan penyiraman jalan secara rutin guna mengurangi debu yang berterbangan dan berdampak langsung terhadap permukiman warga

Harapan warga sesungguhnya sederhana, jalan yang layak dilalui, udara yang lebih bersih untuk dihirup, serta rasa aman dalam menjalani aktivitas sehari - hari. Mereka tidak menolak keberadaan PLTU sebagai bagian dari kebutuhan energi, tetapi menginginkan adanya tanggung jawab yang seimbang terhadap lingkungan sekitar.

Kisah dari Teluk Sirih menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur, termasuk akses menuju pembangkit listrik, tidak bisa dilepaskan dari dampak sosial yang ditimbulkan. Jalan yang dibangun untuk mendukung energi nasional, pada akhirnya juga harus mampu menjamin keselamatan dan kenyamanan masyarakat di sekitarnya.

Jika tidak segera ditangani, kerusakan jalan dan persoalan debu ini bukan hanya akan memperburuk kondisi lingkungan, tetapi juga mengikis kepercayaan warga terhadap kehadiran pembangunan itu sendiri.

(Red/Rj)


×
Berita Terbaru Update