![]() |
| Pekerjaan fisik di SMP Negeri 5 Lubuk Alung yang dikatakan Kepsek melalui dana langsung dari Presiden, tapi di plang tertulis dana bersumber dan APBN tahun 2025 ? |
Padang Pariaman, MP----- Jarak begol kolom praktis pada pekerjaan revitalisasi satuan pendidikan di SMPN 5 Lubuk Alung, terpantau tidak sesuai rencana teknis. Mendapati informasi tersebut, Kepala Sekolah mengambil langkah cepat dengan memerintahkan Yuli Kepala Pelaksana Pekerjaan untuk segera memperbaiki jarak begol pada kolom praktis.
![]() |
| Jarak begol pada kolom praktis ditemukan berjarak 24 cm sedangkan di perencanaan jarak begolnya 15 cm, terjadi di pekerjaan 1,3 miliyar di SMP Negeri 5 Lubuk Alung |
Seperti diketahui saat ini SMP Negeri 5 Lubuk Alung yang berlokasi di Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, mendapat bantuan pemerintah program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2025, dengan jumlah dana bantuan sebesar Rp. 1.341.383.000 (Satu Milyar Tiga Ratus Empat Puluh Satu Juta Tiga Ratus Delapan Puluh Tiga Ribu Rupiah). Anggaran tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan serta rehabilitasi seperti rencana gedung administrasi, rencana gedung labor komputer, rencana gedung UKS, dan rencana rehabilitasi perpustakaan.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengerjaan yang sedang berproses di SMP Negeri 5 Lubuk Alung, media mp bersama tim melakukan peninjauan serta berdialog dengan pekerja dilokasi. Kepada media, para pekerja menyampaikan bahwa pihak yang berkompeten dengan pekerjaan ini sedang keluar.
" Tadi ada Pak Yuli dan Pak Kamba selaku pengawas dan pelaksana, tapi sekarang sudah keluar, " tutur salah seorang pekerja kepada media dilokasi pekerjaan, Kamis 18 September 2025.
Ketika itu para pekerja masih sedang beristirahat siang, dari pengamatan dilokasi, proses pengerjaan nampak telah sampai pada tahap pemasangan dinding bata, bahkan kolom pada bangunan telah diselimuti beton, namun pandangan mata terhenti pada kolom praktis yang belum diselimuti beton itu terlihat jarak begolnya seperti tidak sesuai RKS (Rencana Kerja dan Syarat - syarat Teknis). Benar saja, ketika diukur menggunakan meter pekerja, jarak begol rata - rata diatas 24 cm. Kolom praktis itu terdiri dari 4 besi polos berdiameter 10 mm dan begol besi polos 8 mm.
Tidak sesuainya jarak begol itu dikuatkan dari keterangan pekerja, bahwa jarak begol pada kolom besar 10 cm, kolom praktis atau kolom kecil jarak begolnya 15 cm (terpasang 20 cm sampai 24 cm-red). Disamping kejanggalan itu, selimut beton pada kolom juga nampak berpori atau beronga, begitujuga dengan dinding yang telah di plaster terlihat tidak rata.
Fakta lapangan tersebut seolah memberi sinyal bahwa pekerjaan yang sedang berproses patut diduga telah menyimpan dari rencana teknis yang telah ditentukan. Dugaan ini juga mengindikasikan lemahnya pengawasan dilakukan sehingga aspek teknis dalam bekerja kurang diperhatikan oleh pekerja.
Ditemui dikantornya, Kepala SMP Negeri 5 Lubuk Alung, Yasmirwati, SPd, kepada media mp bersama tim menyampaikan bahwa pekerjaan tersebut menggunakan dana Repit (Revitalisasi-red) langsung dari Presiden. Dan Kepala Sekolah menyakini pekerjaan itu tidak akan menyimpang dari SOP, karena banyak pihak yang mengawasi antara lain dari UNP, UNRI, dan terakhir dari Kementerian.
Apalagi untuk proses pencairan dana sangat ketat, dari Presiden langsung ke Bank BNI. " Kepala Sekolah saja tidak bisa mencairkan dana itu sendiri tanpa melibatkan bendahara, sebelumnya dibuat laporan tertulis ke pusat, ada foto - foto hasil pekerjaan serta material yang dibeli, " katanya.
Ia mencontohkan misalnya membeli semen 10 sak, batu bata sebanyak 1000, dana nya ini diajukan ke bendahara, kemudian setelah disetujui baru dilakukan pembelian. " Dan itu harus diketahui perencana, harus kerjasama tim, ini namanya sistem MCM yang dibuat bank. Jadi mengambil barang tidak bisa kita sendiri harus dengan bendahara, begitu juga membayarnya, cara bayar melalui sistem aplikasi, ke pihak kedai bangunan, " jelasnya lagi.
Selama proses pengerjaan, Kepala Sekolah mengatakan dibantu oleh dua orang tenaga ahli sebagai Perencana dan Kepala Pelaksana Pekerjaan. Tenaga ahli dimaksud diusulkan oleh Kepala Sekolah ke pusat dengan mengajukan persyaratan seperti ijazah teknik sipil, memiliki sertifikat ke ahlian dibidang bangunan, dan KTP yang domisili di Kabupaten Padang Pariaman. " Kita yang mencari orangnya lengkap dengan persyaratan, data itu yang kita ajukan ke pusat, " katanya sembari menegaskan bahwa untuk pekerjaan ini Dinas Pendidikan tidak terlibat, hanya mengetahui saja.
Dikatakannya juga, mungkin ada pekerjaan yang tidak semuanya utuh dilakukan sesuai RAB, misalnya lantai hanya di cor tidak dapat di keramik atau ada dinding yang belum bisa di cat. Namun disisi lain Kepala Sekolah juga mengatakan menambah pekerjaan yang tidak ada di RAB misalnya menambah pembuatan WC.
" Yang penting dari pusat anggaran tidak ditambah, kalau ingin menambah pekerjaan silahkan tapi tidak mengurangi mutu, " ungkapnya.
Kepada Kepala Tukang/Pelaksana, Kepala Sekolah mengaku selalu mengingatkan untuk bekerja sesuai SOP, jangan ada yang bermain. " Pak Yuli (kepala tukang-red) sudah saya ingatkan jangan ada main - main, kalau nanti terjerat bapak juga saya libatkan, " kata Yasmirwati.
Dan sejauh ini, kata Yasmirwati, belum ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan perencanaan. " Alhamdulillah belum ada.
Kalau main main saya suruh bongkar, sebelum orang pusat menyuruh bongkar, kita dulu yang menyuruh bongkar, " ulasnya.
Namun Yasmirwati tersontak kaget ketika media memperlihatkan bukti vidio dan foto kondisi sebenarnya dilapangan ada jarak begol pada pembesian tiang bangunan terlihat tidak sesuai dengan SOP yang disebutkannnya. Sementara tiang atau kolom praktis itu sebagian atau separoh sudah diselimuti beton. " Saya tidak tahu mengenai teknis apalagi jarak begol itu, " kata Yasmirwati sembari menghubungi Yuli untuk datang ke sekolah.
Pada kesempatan tersebut Kepala Sekolah meminta Yuli segera memperbaiki jarak begolnya, dan disesuaikan kembali dengan perencanaan. Yuli mengakui, sesuai perencanaan jarak begol pada kolom besar 10 cm, sedangkan kolom praktis atau kolom kecil 15 cm, namun mendapati fakta dilapangan jarak begol 20 cm sampai 24 cm pada kolom praktis tidak sesuai dengan perencanaan, Yuli berjanji segera membenahi nya. " Mungkin pekerjaan itu belum selesai, nanti segera kita benahi, " tepis Yuli.
Pasca diinformasikan tersebut, Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Lubuk Alung, Yasmirwati, SPd, menyampaikan informasi yang ditulisnya melalui watshap yang dikirim kepada media mp, bahwa jarak begol sudah diperbaiki sesuai dengan perencanaan. " Ini sudah ditindaklanjuti pak, kata tukang batu berdiri belum di stel pak. Saya bilang mohon di perbaiki sesuai dengan SOP nya pak, " tulisnya. (Rj/mp)

