Oleh: Nofri Hamdi, S.H.I
Internet dan Android kini sudah seperti “anggota keluarga baru” bagi anak-anak kita. Mereka belajar, bermain, bahkan mencari jati diri lewat layar ponsel. Era 5.0 memang menawarkan kemudahan luar biasa. Namun, bersamaan dengan itu, ancaman seperti konten pornografi, radikalisme, hoaks agama, hingga kecanduan media sosial semakin mudah masuk tanpa filter.
Di tengah derasnya arus informasi ini, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran yang sangat penting. Mereka bukan lagi sekadar pengajar materi agama, tetapi penjaga akhlak dan iman generasi muda.
Guru PAI Harus Melek Teknologi
Dulu, guru hanya mengajar lewat papan tulis. Sekarang, guru harus juga hadir di dunia digital. Mengapa? Karena murid-murid mendapatkan lebih banyak pengaruh dari algoritma TikTok dan YouTube dibanding dari rumah. Maka guru PAI harus bisa menjadi “filter hidup” yakni membuat konten dakwah yang menarik, mengarahkan siswa pada tontonan yang sehat, dan mengadakan kelas daring tentang etika bermedsos.
Dengan begitu, siswa tidak hanya menonton, tetapi juga belajar nilai agama dari dunia digital.
Menjaga Hati Anak di Tengah Budaya Instan
Media sosial membuat semua hal bisa diperoleh secara cepat. Sayangnya, budaya ini sering bertentangan dengan nilai sabar, syukur, dan tawakal. Flexing, pamer gaya hidup, dan keinginan viral membuat banyak anak kehilangan orientasi hidup.
Di sini guru PAI hadir untuk menanamkan nilai qana’ah, zuhud, dan bahaya riya dalam bahasa yang dekat dengan keseharian murid. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjaga hati mereka.
Menjadi Pembimbing Berpikir Kritis
Banyak siswa merasa lebih pintar hanya karena membaca artikel daring, padahal sumbernya belum tentu benar. Maka guru PAI harus sering mengajak diskusi, mengajarkan cara tabayyun, dan membedakan informasi valid dan palsu. Dengan begitu, murid-murid tidak mudah terjebak radikalisme atau paham keagamaan yang keliru.
Mengajak Orang Tua Terlibat
Tantangan digital tidak bisa dihadapi guru sendirian. Orang tua perlu dilibatkan, misalnya lewat kelas parenting bertema “Mendampingi Anak di Era Android”. Sekolah juga bisa membentuk komunitas “Muslim Millennial Beretika Digital” untuk memperkuat nilai akhlak.
Era 5.0 bukan era untuk menghindari teknologi, melainkan era untuk mengarahkan teknologi sesuai nilai Islam. Guru PAI adalah benteng terakhir saat filter keluarga dan negara belum mampu menahan arus informasi negatif. Jika peran ini diperkuat, kita akan melahirkan generasi yang bukan hanya ahli teknologi, tetapi juga teguh iman dan mulia akhlaknya. (*)
