![]() |
| Permukaan badan Jalan Tol Palembang–Bakauheni terlihat bergelombang akibat tambal sulam (patching), memaksa kendaraan mengurangi kecepatan demi keselamatan. |
Palembang, MP----- Kondisi Jalan Tol Palembang–Bakauheni sepanjang 336 kilometer kembali menuai sorotan serius. Sepanjang perjalanan pada Kamis (5/2/2026), ditemukan banyak titik perbaikan berupa tambal sulam (patching) pada badan jalan, baik berlapis aspal maupun beton, yang menyebabkan permukaan jalan tidak rata dan bergelombang. Kondisi ini membuat kendaraan tidak dapat melaju optimal serta berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
![]() |
| Bus Gumarang yang membawa rombongan jurnalis Sumbar menuju HPN 2026 di Serang melaju perlahan saat melintasi titik perbaikan badan jalan tol. |
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh rombongan jurnalis asal Sumatera Barat yang sedang dalam perjalanan menuju Kota Serang, Provinsi Banten, untuk mengikuti rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Rombongan menumpang Bus Gumarang, namun perjalanan di ruas tol yang seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman justru diwarnai guncangan, perlambatan laju kendaraan, serta kekhawatiran akan risiko kecelakaan.
![]() |
| Sejumlah titik perbaikan pada ruas Tol Palembang–Bakauheni |
Sopir Bus Gumarang, Yendra, mengaku terpaksa mengurangi kecepatan kendaraan demi menjaga keselamatan penumpang sekaligus menghindari dampak kerusakan akibat badan jalan yang ditambal namun tidak rata.
“Banyak titik tambal sulam yang permukaannya lebih tinggi atau lebih rendah dari badan jalan. Kalau dipacu, kendaraan bisa oleng. Jadi kecepatan terpaksa dikurangi supaya aman dan mobil tidak rusak,” ujar Yendra.
Kondisi jalan yang dipenuhi patching tidak rata tersebut berdampak langsung pada kenyamanan penumpang. Ikhwan, jurnalis figur.com, mengungkapkan sulitnya beristirahat selama perjalanan.
“Mobil tidak berjalan tenang. Ada hentakan setiap melewati tambalan jalan. Walaupun lelah dan mengantuk, mata susah dipejamkan,” katanya.
Keluhan senada disampaikan Mebri Tanjung, yang menilai karakter jalan tol tersebut tidak mencerminkan standar jalan bebas hambatan.
“Bus sering bergetar dan berguncang karena tambalan jalan tidak rata. Kondisi seperti ini jelas berisiko,” ujarnya.
Bagi pengguna yang baru pertama kali melintasi jalan tol, kondisi ini menimbulkan keheranan sekaligus kekhawatiran. Afridon Rajo Bungsu, jurnalis editorial.com, menilai kualitas jalan tol belum sesuai harapan.
“Setahu saya jalan tol itu harusnya lebih rata dan stabil. Tapi di sini, kualitasnya tidak jauh berbeda dengan jalan nasional,” ungkapnya.
Kritik lebih tajam disampaikan Syafrijon, jurnalis asal Sumatera Barat lainnya, yang membandingkan langsung mutu jalan tol dengan Jalan Lintas Sumatera.
“Kalau dilihat dan dirasakan, kualitas jalan tol ini ternyata tidak lebih baik dari Jalan Lintas Sumatera. Tambal sulam di mana-mana, dan permukaannya hampir sama. Padahal ini jalan tol berbayar,” tegas Syafrijon.
Sementara itu, Darmen Rajo Alam, jurnalis momenpembaruan.com, yang kerap melintasi ruas tol tersebut, menilai persoalan ini sudah berlangsung lama.
“Sejak tol ini digunakan, hampir tidak pernah lepas dari perbaikan. Selalu ada tambal sulam aspal atau beton di badan jalan, dan hasilnya sering kali tidak rata,” tuturnya.
Kondisi badan jalan tol yang dipenuhi patching tidak rata, bergelombang, dan berulang kali diperbaiki bukan lagi sekadar soal kenyamanan. Situasi ini telah menyentuh aspek keselamatan publik, karena berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas dan menimbulkan korban, terutama bagi kendaraan yang melaju pada kecepatan tinggi.
Padahal, tujuan utama pembangunan jalan tol adalah menghadirkan infrastruktur dengan standar keselamatan tinggi, mempercepat mobilitas orang dan barang, serta memberikan kenyamanan dan efisiensi yang jelas berbeda dibandingkan jalan non-tol. Ketika manfaat tersebut tidak sepenuhnya dirasakan, evaluasi menyeluruh terhadap kualitas konstruksi dan metode pemeliharaan menjadi sebuah keharusan.
Di tengah perjalanan panjang menuju perhelatan nasional HPN 2026, para jurnalis Sumbar menyuarakan harapan yang sederhana namun mendasar: jalan tol yang benar-benar rata, aman, dan manusiawi. Sebab, di balik setiap kilometer jalan, ada keselamatan, kenyamanan, dan nyawa pengguna yang tidak boleh dipertaruhkan.
(Rajo Alam)


