-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Dari Ambon yang Bergolak hingga Tarutung yang Harmonis Kolonel Inf. Risa Wilsi : Indonesia Akan Kuat Jika Perbedaan Dirawat dengan Musyawarah

Jumat, 05 Juni 2026 | Juni 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-05T03:18:15Z
Kebersamaan dan sinergi Kasiren Korem 032/Wirabraja, Kolonel Inf. Risa Wilsi, bersama awak media berfoto usai berbincang, di Makorem 032/Wirabraja.


Padang, MP----- Hampir tiga puluh tahun mengenakan seragam loreng, Kepala Seksi Perencana (Kasiren) Korem 032/Wirabraja, Kolonel Inf. Risa Wilsi, telah mengarungi berbagai medan pengabdian di Nusantara. Dari Papua, Maluku, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Lampung hingga Kepulauan Riau, ia menyaksikan langsung wajah Indonesia dalam berbagai situasi; mulai dari konflik sosial yang memilukan hingga kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi.


Di ruang kerjanya di Makorem 032/Wirabraja, Rabu (3/6/2026), Kolonel Risa Wilsi berbagi kisah perjalanan karier yang tidak hanya sarat pengalaman militer, tetapi juga penuh pelajaran tentang kehidupan, persatuan, dan arti keberagaman.


Mengawali Langkah dari Timur Indonesia


Karier militernya dimulai setelah menempuh pendidikan pembentukan perwira SEPA PK di Magelang. Pada 13 Mei 1996, ia resmi dilantik sebagai Letnan Dua Infanteri dan mendapat penugasan pertama ke Kodam VIII/Trikora yang kini menjadi Kodam XVII/Cenderawasih.


Tak lama kemudian, ia ditempatkan di Batalyon Infanteri Lintas Udara 733/Masariku, Ambon, Maluku. Di wilayah inilah perjalanan panjangnya sebagai prajurit benar-benar dimulai.


Selama hampir sepuluh tahun bertugas di Maluku, ia menjalani berbagai penugasan mulai dari satuan tempur, intelijen hingga kewilayahan. Namun di daerah itulah pula ia menyaksikan salah satu peristiwa paling membekas dalam hidupnya, yakni konflik sosial Ambon yang sempat mengguncang Indonesia.


“Sebelum konflik, masyarakat hidup rukun. Umat Islam dan Kristen saling bergaul dan saling membantu. Tetapi ketika provokasi berkembang, semuanya berubah. Saya melihat langsung bagaimana konflik bisa menghancurkan persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun,” kenangnya.


Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa persatuan bangsa tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu ada tanpa dijaga.


Menjadi Saksi Bencana di Ranah Minang


Setelah mengikuti Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa), Risa Wilsi ditempatkan di Kodam I/Bukit Barisan sebelum mendapat tugas ke Korem 032/Wirabraja pada tahun 2008 sebagai Pasi Wanwil.


Penugasan di Sumatera Barat memberikan pengalaman yang berbeda. Saat itu daerah ini sedang menghadapi bencana besar, mulai dari Gempa Padang 2009 hingga tsunami Mentawai 2010.


Sebagai perwira teritorial, ia ikut terlibat dalam berbagai upaya penanganan dan pendampingan masyarakat yang terdampak bencana.


“Dalam situasi bencana, kita melihat betapa kuatnya semangat gotong royong masyarakat Indonesia. Semua bergerak membantu tanpa melihat latar belakang,” ujarnya.


Belajar Toleransi dari Tapanuli Utara


Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya justru terjadi ketika menjabat Kasdim 0210/Tapanuli Utara, Sumatera Utara.


Sebagai seorang Muslim yang bertugas di wilayah dengan mayoritas penduduk Kristen, ia merasakan kehidupan sosial yang menurutnya menjadi contoh nyata toleransi antarumat beragama.


“Saya Muslim, Dandim saya Kristen, anggota banyak yang Kristen. Tetapi kami hidup dalam suasana penuh kekeluargaan. Kami saling menjaga dan saling menghormati,” katanya.


Selama tiga tahun bertugas di wilayah yang meliputi Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Samosir dan Toba itu, ia melihat bagaimana masyarakat menjadikan perbedaan sebagai perekat kehidupan sosial.


“Di sana saya merasakan bahwa persaudaraan lebih penting daripada perbedaan. Nilai-nilai toleransi benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.


Tugas di Tujuh Provinsi, Mengenal Indonesia Lebih Dekat


Karier Kolonel Risa Wilsi kemudian terus berkembang. Ia pernah bertugas di berbagai jabatan strategis, mulai dari Rindam Siantar, Kodam I/Bukit Barisan, mengikuti pendidikan Seskoad, hingga menjabat Kepala Jasmani Militer Kodam VI/Mulawarman di Kalimantan Timur.


Ia juga pernah bertugas di Korem 043/Garuda Hitam Lampung dan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.


Dari seluruh perjalanan tersebut, ia mencatat sedikitnya tujuh provinsi pernah menjadi bagian dari pengabdiannya.


“Saya bersyukur diberikan kesempatan bertugas di tujuh provinsi. Dari Papua sampai Kepulauan Riau saya melihat langsung betapa luar biasanya Indonesia. Budaya berbeda, bahasa berbeda, tetapi semangat persaudaraannya sama,” ujarnya.


Menurutnya, pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai suku dan agama membuat dirinya semakin yakin bahwa keberagaman adalah kekuatan terbesar bangsa Indonesia.


“Kalau kita mau melihat Indonesia secara utuh, kita harus mau memahami perbedaan. Setelah bertugas di berbagai daerah, saya semakin yakin bahwa perbedaan bukan ancaman, tetapi aset bangsa yang harus dijaga bersama,” katanya.


Musyawarah, Warisan yang Jangan Hilang


Berbekal pengalaman panjang di berbagai daerah, Kolonel Risa Wilsi menaruh perhatian besar terhadap pentingnya menjaga budaya musyawarah di tengah masyarakat.


Ia menilai perkembangan teknologi dan media sosial sering kali membuat masyarakat mudah terpancing emosi sebelum memahami persoalan secara utuh.


Padahal, menurutnya, bangsa Indonesia sejak dahulu dikenal memiliki budaya dialog dan mufakat dalam menyelesaikan masalah.


“Dulu nenek moyang kita selalu mengedepankan musyawarah. Sekarang kadang sedikit masalah langsung marah, langsung bertengkar. Padahal kalau duduk bersama, banyak persoalan bisa diselesaikan dengan baik,” ujarnya.


Ia pun mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk terus menjaga persaudaraan dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah belah bangsa.


“Saya pernah melihat dampak konflik dan saya juga pernah merasakan indahnya toleransi. Karena itu saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kebhinekaan yang kita miliki. Indonesia ini besar bukan karena semua orang sama, tetapi karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan,” tegasnya.


Bagi Kolonel Risa Wilsi, pengabdian seorang prajurit bukan hanya menjaga batas negara dan kedaulatan bangsa. Lebih dari itu, menjaga persatuan di tengah keberagaman juga merupakan bagian penting dari tugas mempertahankan Indonesia.


Dan dari perjalanan panjang yang telah membawanya melintasi tujuh provinsi, satu pelajaran yang selalu ia pegang teguh adalah bahwa persaudaraan, toleransi, dan musyawarah tetap menjadi fondasi utama yang menjaga Indonesia tetap berdiri kokoh hingga hari ini.

(Rajo.A/red)

×
Berita Terbaru Update