-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Nof Hendra: Tragedi Biak Bukti Sisa Bom Perang Dunia II Masih Menjadi Ancaman Nyata di Papua

Rabu, 03 Juni 2026 | Juni 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-03T14:07:07Z

Padang, MP----- Tragedi ledakan bom peninggalan Perang Dunia II yang menewaskan sedikitnya tujuh warga di Kabupaten Biak Numfor, Papua, menjadi peringatan serius bahwa sisa-sisa konflik global yang telah berakhir puluhan tahun lalu masih menyimpan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.


Aktivis lingkungan dan pegiat media sosial Indonesia, Nof Hendra, menyampaikan duka cita mendalam atas musibah yang terjadi di Kompleks Perumahan Nelayan, Biak Kota, pada Minggu (31/5/2026). Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa warisan perang yang tertinggal di bumi Papua masih berpotensi merenggut korban jiwa jika tidak ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.


"Saya kehilangan kata-kata ketika membaca nama-nama korban di Biak. Ada anak-anak berusia 5 dan 7 tahun, ada pula ibu rumah tangga. Mereka meninggal bukan karena kesalahan mereka, melainkan akibat warisan perang yang telah terkubur selama puluhan tahun. Ini menjadi tamparan keras bagi kita semua bahwa sejarah yang tidak diselesaikan dapat kembali menagih korban," ujar Nof Hendra kepada wartawan, Rabu (3/6/2026).


Pernyataan tersebut disampaikan menyusul penemuan bom mortir aktif di Kali Ariyau, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (2/6/2026). Berdasarkan keterangan Kapolsek Sentani Kota AKP Bernadus Yunus Ick, mortir tersebut memiliki panjang sekitar 85 sentimeter, diameter 18 sentimeter, dan berat mencapai 10 kilogram.


Bom ditemukan warga saat mencari ikan di sungai. Setelah diketahui mengeluarkan asap, warga segera menjauh dari lokasi dan melaporkannya kepada aparat kepolisian. Tim Penjinak Bom (Jibom) Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Papua kemudian melakukan sterilisasi dan pemusnahan guna mencegah risiko ledakan.


Sementara itu, ledakan di Biak menyebabkan tujuh warga meninggal dunia, yakni Deflin Raubaba, Moris Raubaba, Karmila Ayorbaba, Israel Raubaba, Isril Raubaba, Mina Puadi, serta satu korban lainnya yang dilaporkan dalam proses identifikasi. Tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap beberapa korban lain yang diduga terdampak ledakan.


Dari lokasi kejadian, Tim Jibom juga menemukan dua proyektil dan satu granat aktif jenis nanas. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa masih terdapat sejumlah bahan peledak peninggalan Perang Dunia II yang tersebar di sejumlah wilayah Papua.


Menurut Nof Hendra, keberadaan bom aktif di kawasan pemukiman maupun aliran sungai bukan hanya menjadi ancaman kemanusiaan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius.


"Jika bom seberat 10 kilogram itu meledak di Kali Ariyau, dampaknya tidak hanya mengancam keselamatan warga. Ledakan dapat merusak ekosistem sungai, mematikan biota air, menurunkan kualitas lingkungan, dan mengganggu mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya sungai. Sungai bukan tempat pembuangan sejarah perang," tegasnya.


Pendiri Utama Forum Dinamika Indonesia (FDI) dan Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) itu juga mengapresiasi langkah cepat warga Sentani yang tidak menyentuh benda mencurigakan tersebut dan segera melaporkannya kepada pihak berwenang.


"Kesadaran masyarakat untuk tidak memegang atau memindahkan benda yang diduga bahan peledak sangat penting. Respons cepat warga Sentani telah menyelamatkan banyak nyawa dan patut menjadi contoh bagi masyarakat di seluruh Papua," katanya.


Menyikapi rentetan temuan bahan peledak tersebut, Nof Hendra mengajukan tiga rekomendasi mendesak kepada pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.


Pertama, melakukan audit serta pemetaan wilayah rawan sisa peninggalan Perang Dunia II melalui kolaborasi TNI, Polri, Badan Geologi, akademisi, dan arkeolog pada kawasan-kawasan yang pernah menjadi medan pertempuran.


Kedua, memperkuat edukasi publik secara masif melalui sekolah, tokoh adat, lembaga keagamaan, dan komunitas masyarakat dengan pesan sederhana namun krusial, yakni "Lihat benda aneh, jangan sentuh, segera laporkan ke aparat atau layanan darurat 110."


Ketiga, memastikan pendampingan menyeluruh bagi keluarga korban di Biak, mulai dari proses identifikasi, pemakaman yang layak, hingga dukungan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan.


Nof Hendra menegaskan bahwa Papua yang dikenal kaya akan sumber daya alam, keindahan laut, serta keragaman budaya tidak seharusnya terus dibayangi ancaman sisa-sisa perang yang terjadi puluhan tahun silam.


"Papua adalah tanah yang diberkati dengan hutan, gunung, sungai, dan laut yang luar biasa indah. Jangan biarkan tanah yang damai ini terus menyimpan luka dari perang yang bukan perang orang Papua. Sudah saatnya negara dan masyarakat bekerja bersama memastikan tidak ada lagi korban akibat sisa bom Perang Dunia II," tutupnya.

(Red/NH)

×
Berita Terbaru Update