![]() |
| Bronjong pengaman tebing di kawasan wisata Lubuk Minturun kini menjadi sorotan masyarakat setelah ditemukan kerusakan pada konstruksi yang belum lama dibangun. |
Padang, MP----- Kondisi konstruksi kawat bronjong batu kali di kawasan Sungai Batang Air Dingin, tepatnya di dekat objek wisata Pemandian Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, menuai sorotan tajam. Infrastruktur yang dibangun melalui kegiatan penanganan tanggap darurat pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025 itu kini terlihat mengalami kerusakan di sejumlah titik, meski usia pekerjaan baru beberapa bulan.
Berdasarkan informasi warga serta pantauan langsung tim jurnalis mp di lokasi pada Minggu (12/7/2026) menunjukkan susunan bronjong tidak lagi utuh. Sejumlah anyaman kawat baja tampak berubah bentuk, batu pengisi mulai berhamburan, sementara pada bagian bawah konstruksi terlihat terjadi penggerusan (scouring) yang menyebabkan pondasi bronjong menggantung akibat tanah penyangga terkikis aliran sungai.
Padahal, bronjong batu kali merupakan salah satu konstruksi teknik sipil yang dirancang sebagai dinding penahan tanah, peredam energi aliran air, sekaligus pengendali erosi pada bantaran sungai. Dalam pelaksanaannya, konstruksi ini semestinya memiliki daya tahan tinggi terhadap arus sungai apabila didukung kualitas material, metode pemasangan, sistem pondasi, serta perlindungan terhadap gerusan dasar sungai yang sesuai dengan standar teknis.
Pekerjaan tersebut diketahui dilaksanakan oleh PT Nindya Karya dalam rangka penanganan tanggap darurat pascabencana hidrometeorologi di Sumatera Barat. Program itu menggunakan anggaran pemerintah yang dialokasikan khusus untuk mempercepat pemulihan infrastruktur terdampak bencana sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman kerusakan susulan.
Namun, kondisi bronjong yang kini telah mengalami kerusakan memunculkan pertanyaan serius mengenai kualitas pelaksanaan pekerjaan. Dari sisi teknis, kerusakan dini pada konstruksi bronjong dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari mutu material kawat dan batu pengisi, kualitas pekerjaan pemasangan, kekuatan pondasi, hingga tidak optimalnya perlindungan terhadap gerusan pada bagian kaki konstruksi. Apabila aspek-aspek tersebut tidak terpenuhi secara baik, umur layanan konstruksi berpotensi jauh lebih pendek dibandingkan yang direncanakan.
Sejumlah warga yang ditemui wartawan di lokasi menyampaikan kekecewaan mereka terhadap kondisi tersebut.
"Kalau baru beberapa bulan sudah rusak seperti ini, tentu masyarakat bertanya-tanya bagaimana kualitas pekerjaannya. Ini memakai uang negara yang seharusnya menghasilkan bangunan yang kuat dan memberi rasa aman bagi masyarakat," ujar seorang warga.
Warga lainnya menilai kerusakan tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
"Kami berharap instansi terkait segera turun mengecek. Jangan sampai ketika banjir besar datang, bronjong ini benar-benar jebol dan mengancam keselamatan warga maupun pengunjung Lubuk Minturun," katanya.
Pendapat senada juga disampaikan warga lainnya yang meminta adanya pemeriksaan menyeluruh terhadap pekerjaan tersebut.
"Anggaran tanggap darurat itu menggunakan dana pemerintah yang nilainya tentu tidak sedikit. Karena itu mutu pekerjaan harus benar-benar dipertanggungjawabkan. Kalau hasilnya cepat rusak, harus ada evaluasi dan penjelasan terbuka kepada masyarakat," ungkapnya.
Masyarakat juga berharap pihak yang berwenang segera melakukan audit teknis terhadap kondisi bronjong, termasuk mengevaluasi kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi kontrak, mutu material, metode pelaksanaan, kualitas pengawasan selama proses pembangunan, serta penyebab terjadinya kerusakan dalam waktu yang relatif singkat.
Sebagai upaya memperoleh konfirmasi dan memenuhi prinsip keberimbangan pemberitaan, jurnalis Momen Pembaruan (MP) telah menyampaikan permintaan konfirmasi secara tertulis melalui aplikasi WhatsApp kepada Mashudi Agung, Project Manager (PM) PT Nindya Karya, pada Minggu (12/7/2026) pukul 11.42 WIB. Konfirmasi tersebut meminta penjelasan terkait kondisi kerusakan konstruksi bronjong di kawasan Lubuk Minturun, dugaan penyebab kerusakan, kualitas pelaksanaan pekerjaan, serta langkah yang akan ditempuh perusahaan dalam menangani kondisi tersebut. Namun, hingga berita ini ditulis, Mashudi Agung belum memberikan jawaban maupun tanggapan atas konfirmasi yang disampaikan.
Kerusakan konstruksi pengaman tebing sungai ini menjadi perhatian serius mengingat fungsi bronjong bukan sekadar pelengkap infrastruktur, melainkan bagian penting dalam mengurangi risiko erosi, longsor bantaran sungai, serta melindungi fasilitas umum dan permukiman dari ancaman bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
Hingga berita ini diterbitkan, PT Nindya Karya maupun instansi yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kerusakan konstruksi bronjong di kawasan Lubuk Minturun. Apabila klarifikasi atau tanggapan resmi telah diterima, Momen Pembaruan akan memuatnya sebagai bagian dari pembaruan pemberitaan sesuai dengan prinsip jurnalistik yang berimbang.
(Tp/red)
