![]() |
| Ir. H. Magel, MM, Datuk Sati resmi dikukuhkan sebagai Ketua Limbago Suku Malayu Minangkabau di Istana Silinduang Bulan, Batusangkar. |
Batusangkar, MP----- Dari Istana Silinduang Bulan, Batusangkar, semangat menjaga adat, agama, dan persaudaraan kembali diteguhkan. Pengukuhan pengurus Perkumpulan Limbago Suku Malayu Minangkabau bersama Dewan Undang Kesultanan Pagaruyung Darul Qoror, Minggu (9/8/2026), menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menyiapkan generasi penerus Minangkabau.
![]() |
| Para tokoh adat dan keluarga besar Suku Malayu Minangkabau bersatu dalam semangat menjaga warisan budaya. |
Pengukuhan yang bertepatan dengan hari lahir Limbago Suku Malayu Minangkabau itu mengangkat tema “Mengabdi dengan Hati, Bergerak untuk Merajut Ikatan Badunsanak, Ikatan Suku Malayu Minangkabau, Perkuat Silaturahmi dan Identitas Budaya.”
![]() |
| Bundo Kanduang Limbago Suku Malayu Minangkabau mengabadikan momentum pengukuhan di Istana Silinduang Bulan. |
Tema tersebut menggambarkan arah kepengurusan baru: menjadikan persaudaraan sebagai kekuatan, silaturahmi sebagai jembatan, serta adat dan agama sebagai pijakan dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.
![]() |
| Merajut silaturahmi, menjaga adat, memperkuat persaudaraan menjadi semangat pengurus baru Limbago Suku Malayu Minangkabau. |
Ir. H. Magel, MM, Datuak Sati dikukuhkan sebagai Ketua Umum Limbago Suku Malayu Minangkabau. Ia didampingi Jasril Rajo Bungsu sebagai Sekretaris. Sementara jajaran pengawas di antaranya H. Windasnofil, SKM, MM, Rajo Mudo dan H. Suwirpen, S.Sos, Datuk Kayo, bersama jajaran pengurus lainnya.
Momentum tersebut mendapat penekanan khusus melalui titah Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror, Sultan Dr. H. Muhammad Farid Thaib, Tuanku Abdul Fattah.
Dalam titahnya, ia mengingatkan agar Limbago Suku Malayu Minangkabau tetap menjalankan nilai yang diwariskan niniak moyang dengan berpegang pada falsafah Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Falsafah tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, yang menempatkan nilai agama sebagai pedoman dan adat sebagai jalan penerapannya dalam kehidupan sosial.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Bagi sebuah komunitas adat, tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan simbol-simbol budaya, tetapi memastikan nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami dan diamalkan generasi berikutnya.
Karena itu, pengukuhan pengurus Limbago Suku Malayu Minangkabau diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih luas dalam menjaga kesinambungan adat dan budaya.
Bundo Soko Puti Reno Prof. Dr. Ir. Hj. Raudhatul Jannah Thaib, MP, Tuan Gadih Pagaruyung, selaku Ketua Pembina Limbago Suku Malayu Minangkabau, juga menitipkan pesan kepada pengurus yang baru dikukuhkan.
Ia meminta Ketua Umum beserta seluruh pengurus menjalankan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh seluruh dunsanak Suku Malayu Minangkabau dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, nilai Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah harus benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat. Begitu pula prinsip “Sarak Mangato, Adat Mamakai” harus dapat diterapkan secara nyata, terutama dalam membentuk karakter generasi muda.
Pesan itu menyiratkan bahwa pelestarian adat tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Adat harus hadir dalam cara masyarakat bersikap, bermusyawarah, membangun hubungan sosial, menghormati orang tua, menjaga keluarga, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Generasi muda pun menjadi perhatian utama. Mereka diharapkan tidak sekadar menjadi penerima warisan budaya, tetapi juga menjadi pelaku yang mampu membawa nilai-nilai Minangkabau ke tengah perkembangan zaman.
Ketua Umum Limbago Suku Malayu Minangkabau Ir. H. Magel, MM, Datuak Sati, menegaskan kesiapan menjalankan amanah tersebut secara bersama-sama.
“Ini bukan hanya amanah sebuah jabatan, tetapi amanah untuk mengabdi kepada kaum, menjaga hubungan badunsanak dan merawat nilai-nilai adat yang telah diwariskan para pendahulu kita. Kita ingin bergerak bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Magel menilai kekuatan sebuah limbago tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi, tetapi oleh kuatnya hubungan antardunsanak.
“Kalau hubungan badunsanak kuat, insyaallah berbagai persoalan dapat kita hadapi melalui musyawarah dan kebersamaan. Jangan sampai perbedaan membuat kita terpecah, karena yang harus kita jaga adalah persaudaraan dan marwah Suku Malayu Minangkabau,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal adat dan akar budayanya.
“Budaya tidak boleh berhenti sebagai kenangan. Budaya harus hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda harus mengenal siapa dirinya, dari mana asalnya, dan nilai-nilai apa yang harus mereka jaga,” tuturnya.
Pengukuhan di Istana Silinduang Bulan dengan demikian menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia menjadi simbol pertemuan antara sejarah, adat, agama dan masa depan.
Di tengah dunia yang terus berubah, identitas budaya membutuhkan orang-orang yang bersedia merawatnya. Bukan dengan menutup diri terhadap zaman, tetapi dengan membawa nilai-nilai luhur ke dalam kehidupan modern.
Dari Pagaruyung, pesan itu kembali mengemuka: adat harus tetap hidup, agama menjadi pedoman, dan badunsanak menjadi kekuatan.
Dengan semangat tersebut, Limbago Suku Malayu Minangkabau diharapkan mampu menjadi wadah yang memperkuat persaudaraan, menjaga marwah kaum, serta menanamkan nilai adat dan agama kepada generasi muda agar jati diri Minangkabau tetap tumbuh dan berakar dari generasi ke generasi.
(Rajo.A/red)



