![]() |
| Peta VOC Belanda tambang emas salido saat ini posisi tambang emas berada di Nagari salido yang mekar menjadi nagari tambang kecamatan IV Jurai kabupaten Pesisir Selatan |
Pesisir Selatan, MP----- Rimbun pepohonan dan gemericik alur sungai di Salido Ketek, Nagari Tambang, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, hari ini tampak begitu tenang. Namun, di balik kedamaian lanskap pesisir tersebut, tersembunyi jejak peradaban industri modern tertua di Nusantara.
Melalui laporan penelusuran mendalam yang dirangkum oleh Idul Fitri, S.H., M.H., M.Kn.—seorang jurnalis, praktisi hukum, sekaligus putra asli Salido—berbagai dokumen lisan masyarakat lokal serta catatan sejarah era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Hindia Belanda, hingga pendudukan Jepang kembali disingkap. Salido bukan sekadar nama nagari, melainkan panggung sejarah tempat bertemunya ambisi dagang Eropa, lompatan teknologi pertambangan abad ke-17, dan keringat masyarakat Pesisir Selatan.
Awal Mula Ambisi: Traktat Painan 1662
Jauh sebelum kapal-kapal layar VOC berlabuh, masyarakat lokal Pesisir Selatan telah mengenali potensi emas di tanah kelahiran mereka. Secara tradisional, warga mendulang kilau logam mulia dari alur-alur sungai serta membuat terowongan-terowongan dangkal di perbukitan.
Kabar tentang berlimpahnya kandungan emas di pantai barat Sumatra akhirnya sampai ke markas besar VOC di Batavia. Pada tahun 1662, momentum politik-ekonomi besar terjadi lewat Penandatanganan Traktat Painan (Verdrag van Painan). Pemimpin adat setempat menyetujui kerja sama dengan VOC guna memperoleh perlindungan militer dari dominasi Kesultanan Aceh.
Sebagai imbal baliknya, VOC menggenggam hak monopoli perdagangan dan hak pengusahaan tambang. Tepat pada tahun 1669, VOC secara resmi mengekspansi Salido dan memulai proyek pertambangan emas skala besar pertama di Nusantara.
Era Kejayaan: Ketika Teknologi Eropa Berpacu di Gunung Arum
VOC tidak main-main dalam menggarap Salido. Salido diproyeksikan menjadi mesin pencetak kekayaan baru bagi Kerajaan Belanda. Idul Fitri mengungkapkan bahwa VOC mendatangkan langsung para ahli geologi dan teknisi tambang profesional dari Jerman (wilayah Harz dan Freiberg) serta Hungaria—pusat teknologi pertambangan bawah tanah (underground mining) terbaik Eropa masa itu. Salah satu tokoh pengawas legendaris yang dikirim adalah Benjamin Olitzsch, yang memimpin pengoperasian hingga akhir hayatnya di Salido pada tahun 1682.
Infrastruktur raksasa pun dibangun:
Kincir Air (Watermolen): Dibuat dengan memanfaatkan bentang alam Sungai Salido untuk menggerakkan mesin penghancur batuan bijih emas (stamping mill).
Terowongan Bawah Tanah: Lorong-lorong gelap ditembus melintasi urat kuarsa emas di dalam Gunung Arum / Saribulan.
Benteng & Pelabuhan: Pusat pengolahan, benteng pertahanan, dan fasilitas dermaga dibangun di Painan dan Salido untuk mengamankan dan mengangkut batangan emas murni menuju Batavia hingga pasar Eropa.
Sisi Gelam: Penderitaan, Wabah, dan Penutupan Operasi (1735)
Namun, kejayaan tersebut harus dibayar mahal. Di balik kilau emas, Salido menyimpan duka dan kekelaman. Iklim tropis yang lembab menjadikan kawasan ini endemik penyakit malaria dan demam berdarah. Ratusan pekerja paksa (keting/kettingganger), tahanan perang, budak impor dari Nias dan Madagaskar, hingga tentara Belanda dan teknisi Eropa tewas dalam waktu singkat.
Eksploitasi yang tidak manusiawi serta pelanggaran batas wilayah adat memicu gelombang perlawanan dan pemberontakan dari masyarakat lokal. Di sisi lain, tingginya biaya perawatan mesin dan pemompaan air terowongan bawah tanah tak lagi sebanding dengan kadar emas lapisan dangkal yang kian menipis. Pada tahun 1735, VOC menyerah, menutup terowongan, dan meninggalkan Salido.
Bangkitnya Raksasa Listrik: Era Kolonial 1908–1928
Setelah tertidur lebih dari satu abadPasca-kebrangkrutan VOC, pemerintah Hindia Belanda bersama pihak swasta N.V. Mijnbouw Maatschappij Salida kembali melirik Salido pada tahun 1908.
Dengan sentuhan teknologi modern pertambangan abad ke-20—seperti mesin dinamo listrik, peledak, dan metode sianidasi—Salido kembali bergeliat. Guna menyuplai energi operasional tambang, didirikanlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan Salido, yang menjadi salah satu fasilitas pelopor kelistrikan di Sumatra Barat.
Sayangnya, era keemasan kedua ini tak bertahan lama. Memasuki akhir tahun 1928, cadangan emas dinyatakan habis secara ekonomis. Operasi ditutup secara permanen sebelum pecahnya Perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang.
Menjaga Warisan Kuno: Monumen Bisu di Nagari Tambang
Hari ini, penelusuran sejarah Idul Fitri membawa kita pada kenyataan bahwa kejayaan masa lalu itu masih meninggalkan jejak otentik di Nagari Tambang:
Mulut Terowongan Kuno (Lobang Tambang): Lorong-lorong batu peninggalan VOC dan era Kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh.
Puing Kincir & Pondasi Beton: Bintangan pilar beton bekas saluran air dan dudukan mesin pemecah batu.
Makam-Makam Kuno: Kompleks pemakaman para teknisi Eropa (termasuk era VOC dan Belanda) yang menjadi bukti bisu pengorbanan jiwa dalam perburuan emas Salido.
"Salido bukan sekadar cerita tambang yang habis dieksploitasi, melainkan identitas kultural dan bukti bahwa Pesisir Selatan pernah menjadi pusat perhatian dunia internasional," tutur Idul Fitri, S.H., M.H., M.Kn.
Oleh: Tim Redaksi :
Narasumber Utama & Penelusuran Riset: Idul Fitri, S.H., M.H., M.Kn. (Jurnalis, Akademisi/Praktisi Hukum, sekaligus Putra Daerah Salido)
