-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Enam Titik Jalan Sikabau–Tanjung Simalidu Sudah Diaspal, Warga Koto Baru Minta Drainase Turut Dibangun

Selasa, 03 November 2026 | November 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-11-03T07:02:17Z
Warga Koto Baru berharap pembangunan jalan turut dilengkapi saluran drainase.


Koto Baru, MP----- Pekerjaan rehabilitasi jalan provinsi pada ruas Sikabau–Tanjung Simalidu, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, terus berproses. Dari total 10 titik lokasi pekerjaan, enam titik dilaporkan telah selesai diaspal, sementara empat titik lainnya sudah menyelesaikan pekerjaan lapis dasar (base) dan dijadwalkan memasuki tahap pengaspalan pada 6 November 2026.


Namun, di balik apresiasi masyarakat terhadap perbaikan infrastruktur tersebut, muncul harapan agar pemerintah juga memperhatikan persoalan drainase atau saluran pembuangan air. Warga Koto Baru menginginkan pembangunan saluran air dilakukan agar genangan ketika hujan tidak mengganggu badan jalan maupun memasuki rumah penduduk.


Berdasarkan pantauan wartawan di lapangan, Selasa (3/11/2026), pekerjaan rehabilitasi jalan ini mencakup pengaspalan badan jalan serta pembangunan bahu jalan menggunakan konstruksi beton pada sisi kiri dan kanan.


Pelaksana Lapangan CV Putra M Mandiri, Dasrice Juni Putra, saat memberikan keterangan kepada wartawan di lokasi pekerjaan, menjelaskan bahwa pengerjaan dilakukan secara bertahap sesuai tahapan teknis yang telah direncanakan.


Menurut Dasrice, dari 10 titik pekerjaan, enam titik telah selesai diaspal. Sedangkan empat titik lainnya sudah berada pada tahap penyelesaian lapis dasar (base) dan direncanakan dilanjutkan dengan pengaspalan pada 6 November 2026.


Selain badan jalan, pihak pelaksana juga mengerjakan bahu jalan dengan konstruksi beton mutu FC 15, ketebalan 15 sentimeter dan lebar satu meter.


Sebelum dilakukan pengecoran, terlebih dahulu disiapkan lapisan timbunan material pilihan setebal 15 sentimeter. Setelah pemadatan dan persiapan lapisan dasar, beton kemudian dihamparkan di atasnya.


Sementara itu, untuk badan jalan digunakan campuran aspal AC-WC dengan ketebalan enam sentimeter dalam satu lapis pengaspalan.


Bahu Jalan Curam dan Rambu Keselamatan Jadi Perhatian


Menanggapi informasi masyarakat mengenai kondisi bahu jalan yang dinilai cukup curam, Dasrice menjelaskan bahwa pihaknya telah memasukkan pekerjaan bahu beton pada sisi kiri dan kanan jalan sebagai bagian dari penanganan konstruksi.


Ia juga menanggapi persoalan rambu-rambu keselamatan pekerjaan yang sempat menjadi perhatian pengguna jalan.


Menurutnya, rambu peringatan sebenarnya telah dipasang di sekitar lokasi pekerjaan. Namun, beberapa rambu tersebut dilaporkan hilang setelah dipasang.


"Rambu sebenarnya sudah kita pasang, tetapi ada saja yang iseng. Bahkan, rambu yang dipasang ada yang dibuang sampai ke kebun sawit. Nanti akan kita pasang kembali," jelas Dasrice.


Keberadaan rambu keselamatan menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan, mengingat kawasan pekerjaan masih dilalui kendaraan masyarakat. Pemasangan kembali rambu peringatan, penanda pekerjaan, serta pengamanan area konstruksi diperlukan untuk mengantisipasi potensi kecelakaan, terutama pada malam hari maupun ketika cuaca kurang bersahabat.


Warga Koto Baru Apresiasi Perbaikan, Minta Drainase Dibangun


Di sisi lain, masyarakat Koto Baru menyambut baik perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui rehabilitasi jalan tersebut. Meski demikian, warga berharap pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada pengaspalan dan bahu jalan, tetapi juga dilengkapi saluran drainase yang memadai.


Aspirasi itu bukan tanpa alasan. Selama ini, ketika hujan turun, air kerap menggenangi badan jalan dan bahkan meluap hingga membanjiri rumah warga.


"Kalau hujan, air tergenang di jalan, bahkan membanjiri rumah kami," tutur Awe Asril kepada wartawan di Simpang Tiga Koto Baru, Selasa (3/11/2026).


Menurutnya, pembangunan drainase sangat dibutuhkan agar aliran air hujan memiliki jalur pembuangan yang jelas dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat.


Senada dengan itu, Sudirman juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang telah mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki jalan tersebut.


Namun, ia berharap pekerjaan dapat dilengkapi dengan pembangunan saluran drainase sehingga persoalan genangan air yang selama ini dirasakan masyarakat dapat ditangani.


"Air bisa mempercepat aspal rusak. Kalau ada saluran drainase, tentu air bisa dikendalikan dan tidak menggenangi aspal jalan," timpal Sudirman.


Harapan warga tersebut patut menjadi perhatian dinas teknis terkait. Sebab, kualitas jalan tidak hanya ditentukan oleh mutu campuran aspal, ketebalan konstruksi, maupun kekuatan bahu jalan, tetapi juga dipengaruhi sistem drainase yang berfungsi mengalirkan air secara optimal.


Genangan yang berlangsung berulang dapat mempercepat penurunan kualitas perkerasan jalan, terutama apabila air masuk melalui celah atau bagian konstruksi yang rentan. Di samping itu, air yang tidak tertangani juga berpotensi mengganggu keselamatan pengendara dan merendam kawasan permukiman.


Karena itu, masyarakat berharap pembangunan drainase dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari penanganan infrastruktur lanjutan di kawasan Koto Baru.


UPTD Wilayah V Benarkan Pekerjaan Masih Berproses


Terpisah, Kepala UPTD Jalan dan Jembatan Wilayah V Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat, H. Erizal, membenarkan bahwa pekerjaan rehabilitasi jalan tersebut masih berlangsung di lapangan.


Ia menjelaskan bahwa bahu jalan nantinya dikerjakan menggunakan konstruksi beton mutu FC 15 dengan ketebalan 15 sentimeter.


Dengan demikian, pekerjaan rehabilitasi ini tidak hanya mencakup pengaspalan badan jalan, tetapi juga pembangunan bahu beton sebagai bagian dari kelengkapan infrastruktur pendukung keselamatan pengguna jalan.


Sementara itu, aspirasi warga mengenai kebutuhan drainase menjadi persoalan yang perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait, terutama apakah pembangunan saluran air telah masuk dalam lingkup pekerjaan atau memerlukan penanganan melalui program tersendiri.


Nilai Kontrak Capai Rp1,87 Miliar


Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, kegiatan tersebut merupakan rehabilitasi jalan UPTD Jalan dan Jembatan Wilayah V, khususnya pekerjaan rehabilitasi jalan provinsi ruas SP. Koto Baru–Junction (P.012), Kabupaten Dharmasraya.


Proyek ini memiliki nilai pekerjaan sebesar Rp1.875.175.085 atau sekitar Rp1,87 miliar, dengan masa pelaksanaan 120 hari kalender.


Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Putra M Mandiri, sedangkan perusahaan konsultan yang tercantum pada papan informasi proyek adalah PT Andalas Raya Consulindo.


Adapun nomor kontrak yang tertera yakni 620/012/PBJ-TKD-P.012/UPTD-WIL.V/VIII/2026.


Besarnya anggaran yang dialokasikan tentu harus diikuti dengan pelaksanaan pekerjaan yang memenuhi spesifikasi teknis, kualitas konstruksi, serta ketentuan waktu yang telah disepakati.


Pada akhirnya, masyarakat berharap rehabilitasi ruas Sikabau–Tanjung Simalidu benar-benar memberikan manfaat jangka panjang. Tidak sekadar menghadirkan jalan yang mulus, tetapi juga bahu jalan yang aman, sistem pembuangan air yang memadai, serta lingkungan jalan yang terbebas dari persoalan genangan.


Pembangunan infrastruktur yang bersumber dari uang negara harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Sebab, jalan yang baik bukan hanya memudahkan mobilitas, melainkan juga memberikan rasa aman, mendukung aktivitas ekonomi, dan meningkatkan kualitas kehidupan warga di sepanjang kawasan tersebut.


Kini, masyarakat menantikan bukan hanya selesainya pengaspalan, tetapi juga perhatian pemerintah terhadap persoalan drainase agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara berkelanjutan.


(MP)

×
Berita Terbaru Update