![]() |
| H. Maidestal Hari Mahesa Tokoh dan Politisi |
Padang, MP----- Dinamika pembangunan Kota Padang dalam beberapa waktu terakhir mendapat perhatian dari sejumlah tokoh masyarakat dan politik daerah. Salah satunya H. Maidestal Hari Mahesa yang menyampaikan pandangan positif terhadap arah kepemimpinan Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wakil Wali Kota Maigus Nasir dan Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Raju Mendropa.
Menurut Mahesa, kolaborasi ketiga unsur pimpinan pemerintahan tersebut memperlihatkan dorongan pembangunan yang menyentuh berbagai sektor strategis, mulai dari penataan infrastruktur perkotaan, revitalisasi kawasan perdagangan, transportasi, hingga penguatan kehidupan keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan.
Ia menilai sejumlah pekerjaan pembangunan yang sebelumnya belum terealisasi atau belum tuntas pada periode kepemimpinan terdahulu, kini mulai mendapatkan perhatian dan penanganan melalui berbagai program pemerintah kota.
Mahesa bahkan menyebut sinergi Fadly Amran, Maigus Nasir, dan Raju Mendropa sebagai Trio Pembangunan Kota Padang yang Agamis, sebuah kolaborasi yang menurut pandangannya membawa perubahan pada wajah dan tata kelola perkotaan.
Beberapa program yang menjadi sorotannya antara lain revitalisasi Pasar Raya Padang, pengoperasian Terminal Anak Aia, pembangunan dan penataan trotoar di kawasan Pantai Padang, serta pembukaan akses jalan tembus S. Parman–SMA 1–Khatib Sulaiman.
Selain itu, pembangunan Jalan Maransi, Jalan Pasir Jambak, revitalisasi kawasan Kota Tua, hingga pembenahan sejumlah taman kota juga dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat wajah baru Kota Padang.
Tidak hanya pembangunan fisik, Mahesa turut menyoroti pembenahan saluran drainase di sejumlah kawasan perkotaan. Menurutnya, infrastruktur drainase memiliki peranan penting dalam mengantisipasi genangan dan mendukung kenyamanan masyarakat, terutama ketika intensitas hujan meningkat.
Penataan fasilitas pedestrian juga menjadi perhatian tersendiri. Upaya mengoptimalkan fungsi trotoar melalui penertiban pedagang kaki lima (PKL), menurut Mahesa, merupakan bagian dari penataan ruang publik agar hak pejalan kaki tetap terjaga dan kawasan perkotaan lebih tertib.
Namun demikian, penataan tersebut diharapkan tetap memperhatikan keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil, sehingga kebijakan penertiban dapat berjalan seiring dengan penyediaan ruang usaha yang layak bagi para pedagang.
Pembangunan Fisik Berjalan Seiring Penguatan Nilai Agama dan Budaya
Di luar pembangunan infrastruktur, Mahesa juga memberikan perhatian terhadap program keagamaan yang menurut pengamatannya semakin menghidupkan aktivitas masjid dan musala di tengah masyarakat.
Ia menilai pembangunan kota tidak semestinya hanya diukur dari kemegahan gedung, panjang jalan, maupun banyaknya fasilitas publik. Penguatan nilai agama, pendidikan, adat istiadat, serta kebudayaan merupakan bagian penting dalam membangun karakter masyarakat perkotaan.
Dalam konteks tersebut, program-program pemerintah yang menyentuh kehidupan sosial dan keagamaan dinilai perlu terus dijaga kesinambungannya agar pembangunan tidak kehilangan dimensi kemanusiaan dan identitas budaya Minangkabau.
Mahesa juga menyoroti hubungan harmonis Pemerintah Kota Padang dengan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Sinergi antarlembaga tersebut dipandang penting untuk menjaga stabilitas pemerintahan, mempercepat koordinasi, serta menciptakan iklim pembangunan yang kondusif.
Tantangan Berikutnya Menjaga Konsistensi dan Manfaat Pembangunan
Terlepas dari berbagai apresiasi tersebut, keberhasilan pembangunan perkotaan tetap membutuhkan pengawasan, evaluasi, dan keterlibatan masyarakat. Setiap program strategis harus dipastikan berjalan sesuai perencanaan, memenuhi standar kualitas, serta memberikan manfaat nyata dan merata bagi warga.
Revitalisasi kawasan perdagangan, pembangunan jalan, penataan drainase, dan fasilitas publik, misalnya, tidak cukup hanya selesai secara fisik. Pemerintah juga perlu memastikan seluruh infrastruktur tersebut berfungsi optimal dan terpelihara dalam jangka panjang.
Begitu pula program keagamaan, pendidikan, adat, dan kebudayaan perlu memiliki kesinambungan agar tidak berhenti sebatas kegiatan seremonial.
Pandangan H. Maidestal Hari Mahesa tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi sekaligus catatan terhadap perjalanan pembangunan Kota Padang di bawah kepemimpinan Fadly Amran dan Maigus Nasir, bersama jajaran birokrasi yang dikoordinasikan Sekdako Raju Mendropa.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan semata-mata banyaknya proyek yang dikerjakan, melainkan sejauh mana hasil pembangunan mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat perekonomian masyarakat, menciptakan lingkungan perkotaan yang nyaman, serta menghadirkan kesejahteraan yang dapat dirasakan seluruh warga Kota Padang.
Pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan kepemimpinan yang bersinergi, birokrasi yang bekerja, pengawasan yang berjalan, dan partisipasi masyarakat. Dengan demikian, perubahan wajah Kota Padang tidak hanya terlihat hari ini, tetapi juga menjadi fondasi kemajuan bagi generasi mendatang.
(MP)
