![]() |
| Pesawat Hercules siap lepas landas dari Lanud Halim membawa bantuan darurat ke wilayah terdampak. |
Jakarta, MP----- Pemerintah kembali mengirimkan gelombang bantuan besar ke Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada Jumat pagi (28/11). Tetapi di balik mobilisasi cepat ini, pertanyaan publik menguat: apakah semua bantuan benar - benar menjangkau warga yang terjebak di titik terdalam bencana?
![]() |
| Seskab Teddy Indra Wijaya mengecek kesiapan logistik sebelum pemberangkatan bantuan. |
Instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mengerahkan armada udara tanpa jeda dieksekusi sejak pukul 07.30 WIB dari Lanud Halim Perdanakusuma. Empat pesawat tiga Hercules dan satu A400 diterbangkan menuju Padang, Silangit, Banda Aceh, dan Lhokseumawe, bandara-bandara yang menjadi pintu masuk bantuan ke kawasan paling parah terdampak.
Seskab Teddy Indra Wijaya memastikan bahwa seluruh pengiriman berbasis laporan langsung dari kepala daerah, bukan daftar kebutuhan administratif. Total bantuan yang diterbangkan mencakup ±150 tenda, ±64 perahu karet, genset, 100 alat komunikasi, makanan siap saji, hingga tim medis gabungan TNI - Kemenkes.
Namun laporan - laporan awal dari lapangan menunjukkan masih adanya wilayah yang terisolasi, dengan akses darat terputus dan sinyal komunikasi lumpuh total. Di sinilah kritik muncul: seberapa cepat bantuan yang dikirim dari Jakarta benar - benar tiba di tangan korban yang masih menunggu pertolongan?
Presiden menegaskan bahwa distribusi harus menembus “titik terdalam”, bukan hanya berhenti di kota - kota besar atau pusat komando. Pemerintah berjanji operasi ini akan terus berlangsung hingga seluruh wilayah terdampak terjangkau.
Mobilisasi besar dari pusat telah bergerak, tetapi efektivitasnya hanya bisa diukur dari satu hal: apakah warga yang terjebak, terluka, dan terputus aksesnya akhirnya ditemukan dan diselamatkan. Di banyak bencana sebelumnya, kecepatan distribusi di lapangan sering menjadi titik lemah. Kini, publik akan menguji apakah instruksi tegas Presiden mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata tanpa terhambat birokrasi dan koordinasi yang kerap tersendat.
(Red-mp)

