![]() |
| Ratusan buruh TKBM Teluk Bayur berkumpul dalam aksi damai, memperjuangkan kepastian regulasi dan masa depan profesi mereka. |
Padang, MP----- Suasana Pelabuhan Teluk Bayur tampak berbeda pada Senin (8/12). Ratusan buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) berseragam rompi oranye memenuhi halaman pelabuhan. Mereka berkumpul bukan untuk menyambut kapal sandar, tetapi untuk menyuarakan masa depan profesi yang mereka anggap kian terdesak oleh ketidakpastian regulasi.
Aksi damai ini digelar PUK FSPTI TKBM Teluk Bayur serta mendapat dukungan penuh dari PC FSPTI Kota Padang dan PD FSPTI Sumbar. Hadir lengkap para pengurus antara lain Ketua PC FSPTI Kota Padang Zakirudin, Wakil Ketua Syafrizal Koto, Ketua Koperbam Chandra, dan PD FSPTI Sumbar Yunisman SE., MM.
Sejak pukul 09.00 WIB, massa berkumpul dan bergerak tertib menuju titik aksi. Tidak ada bentrokan, tidak ada provokasi. Spanduk tuntutan dikibarkan, namun suasana tetap tertib seakan menunjukkan bahwa perjuangan buruh kini ditempuh melalui cara - cara dialogis.
Dalam orasinya, Ketua PC FSPTI Kota Padang Zakirudin menegaskan bahwa aksi tersebut dilakukan untuk menuntut penegakan hukum, bukan menciptakan kegaduhan. "Kami hadir bukan untuk membuat keributan. Kami menuntut aturan ditegakkan, karena masa depan keluarga kami bergantung pada pekerjaan ini," katanya.
Sorakan dukungan menguat ketika Ketua Koperbam Chandra menyampaikan sejarah legalitas organisasi yang telah mengelola TKBM Teluk Bayur sejak 1989. “Legalitas Koperbam jelas dan diakui pusat. Pelabuhan Teluk Bayur harus kembali pada aturan yang benar," sebutnya.
Sementara itu, Wakil Ketua FSPTI Kota Padang Syafrizal Koto menyampaikan pesan tegas namun tetap menyejukkan. “Jika putusan PTUN Medan No. 63/B/TF/2025 tidak dihormati, aksi damai akan berlanjut dalam skala lebih besar," katanya menegaskan.
Usai penyampaian aspirasi, Kepala KSOP Teluk Bayur Chaerul Awaluddin memberikan pernyataan resmi di hadapan massa. Ia menyampaikan penghargaan atas tertibnya aksi dan menegaskan tiga sikap KSOP yaitu mengajak buruh turut mendoakan korban bencana di Sumatera, menghormati dan akan meneruskan seluruh pernyataan sikap kepada pimpinan, dan mengapresiasi aksi damai yang berlangsung tanpa mengganggu operasional pelabuhan.
Pernyataan Chaerul disambut tepuk tangan panjang, menandakan penghormatan dua arah antara pekerja dan otoritas pelabuhan.
Pada pukul 11.00 WIB, aksi resmi ditutup. Buruh kembali bekerja, truk kontainer kembali bergerak, dan pelabuhan berjalan seperti biasa. Namun pesan hari itu tidak hilang, buruh Teluk Bayur bukan menolak pekerjaan, mereka menolak ketidakadilan.
Aksi damai ini menjadi pengingat bahwa pelabuhan tidak akan hidup tanpa pekerja yang menggerakkan roda ekonomi maritim. Ketika hak buruh dihormati dan regulasi ditegakkan, industri kepelabuhanan dapat berjalan lebih manusiawi, berkelanjutan, dan bermartabat.
FSPTI dan Koperbam hari itu tidak berdiri di balik meja, melainkan berdiri di antara buruh. Sebuah refleksi bahwa perjuangan pekerja bukan sekadar administrasi, tetapi perjuangan untuk menjaga martabat profesi.
(red/mp)
