-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Bangkit dari Galodo, Warga Kampung Talang Bangun Huntara dan Surau Bambu Berbasis Gotong Royong

Selasa, 20 Januari 2026 | Januari 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-20T00:25:00Z
Gubernur Mahyeldi berdialog dengan warga penghuni Huntara Kampung Talang usai meninjau lokasi hunian sementara pascabencana banjir bandang.

Padang, MP----- Semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama warga Kampung Talang, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, dalam menata kembali kehidupan pascabencana banjir bandang. Dengan mengandalkan gotong royong dan kearifan lokal, masyarakat setempat membangun hunian sementara (huntara) sekaligus sarana ibadah secara mandiri.

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah melakukan peletakan batu pertama pembangunan Surau Bambu Talang di kawasan Huntara Kampung Talang, Pauh, Kota Padang.

Upaya pemulihan berbasis masyarakat tersebut mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Surau Bambu Talang di kawasan Huntara Kampung Talang, Senin (19/1/2026). Kawasan ini sebelumnya mengalami kerusakan cukup berat akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 lalu.

Gubernur Mahyeldi menilai, langkah warga yang memanfaatkan material sederhana seperti kayu, asbes, dan bambu dari lingkungan sekitar menunjukkan ketangguhan sekaligus kecerdasan sosial masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.

“Pemulihan tidak selalu harus menunggu bantuan besar. Apa yang dilakukan warga Kampung Talang adalah contoh nyata bagaimana gotong royong dan kearifan lokal mampu menjadi solusi cepat dan bermartabat,” ujar Mahyeldi.

Huntara Mandiri yang dibangun di RT 03 RW 04 Kelurahan Kapalo Koto berdiri di atas lahan sekitar tiga hektare dan saat ini telah dihuni oleh 10 kepala keluarga yang terdampak langsung banjir bandang. Kehadiran huntara ini memberikan ruang aman sementara bagi warga untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain hunian, pembangunan Surau Bambu Talang menjadi bagian penting dalam pemulihan sosial dan spiritual masyarakat. Penggunaan bambu sebagai material utama dinilai selaras dengan kondisi alam sekitar serta mencerminkan identitas budaya lokal yang tetap dijaga di tengah proses rehabilitasi.

“Surau ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol kebangkitan dan kebersamaan warga setelah bencana,” kata Mahyeldi.

Sementara itu, perwakilan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Bias, Khalid Syaifullah, menjelaskan bahwa pembangunan huntara dan surau merupakan hasil kolaborasi lintas elemen yang dilandasi kepedulian kemanusiaan.

“Warga, TNI, mahasiswa, dan relawan bergandengan tangan menghadirkan hunian sementara yang layak serta surau yang memiliki nilai sosial dan budaya,” ujarnya.

Ia menambahkan, bambu yang digunakan untuk pembangunan surau sebagian besar berasal dari sekitar lokasi, sehingga bangunan tersebut dinamai Surau Bambu Talang.

Keberadaan Huntara Mandiri dan Surau Bambu Talang diharapkan menjadi titik awal pemulihan kehidupan masyarakat Kampung Talang, tidak hanya secara fisik, tetapi juga sosial dan spiritual, menuju masa depan yang lebih tangguh pascabencana.

(hms.sb/red)

×
Berita Terbaru Update