-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Hangat dan Penuh Berkah, “Arisan Keluarga Alai Bersatu” Berlangsung di Bulan Ramadhan dengan Buka Bersama

Minggu, 22 Februari 2026 | Februari 22, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-22T12:32:33Z
Kebersamaan penuh berkah. Keluarga besar Alai Bersatu duduk bersama menanti azan Magrib dalam suasana arisan sekaligus buka puasa bersama.

Padang, MP----- Suasana penuh tawa, canda, dan kehangatan keluarga terasa begitu kental dalam pertemuan rutin “Arisan Keluarga Alai Bersatu” yang kali ini terasa lebih istimewa. Digelar pada Minggu keempat dan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, arisan tersebut sekaligus dirangkai dengan momen buka puasa bersama.

Momen penuh rindu. Pelukan hangat Muri yang pulang dari Malaysia disambut keluarga dalam arisan Ramadhan yang sarat makna.

Sejak sore hari, tuan rumah bersama anggota keluarga sudah disibukkan dengan persiapan hidangan berbuka. Aroma masakan khas rumahan, mulai dari kolak, gorengan hangat, hingga lauk pauk tradisional, menyatu dengan canda ringan yang mengalir di ruang tamu dan dapur.

Senyum kebahagiaan sesepuh keluarga. Enek dan Etek menikmati suasana kebersamaan yang terus terjaga dari generasi ke generasi.

Ketika azan Magrib berkumandang, seluruh anggota keluarga duduk bersama, menikmati hidangan berbuka dengan penuh syukur. Suasana terasa khidmat namun tetap hangat, menghadirkan rasa kebersamaan yang lebih dalam dibanding pertemuan biasa.

Rasa lelah terbayar lunas. Hidangan berbuka yang disajikan Mintuo Ros habis disantap, meninggalkan senyum puas di wajah tuan rumah.

Arisan yang selama ini rutin dilaksanakan secara bergilir setiap bulan memang telah menjadi wadah mempererat silaturahmi keluarga besar Alai. Namun, di bulan Ramadhan, maknanya terasa berlipat ganda, bukan hanya berkumpul, tetapi juga berbagi keberkahan.

Enek, salah satu sesepuh keluarga, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. “Berkumpul di bulan puasa seperti ini rasanya lebih sejuk di hati. Selain arisan, kita juga berbagi rezeki dan doa. Enek bangga melihat keluarga tetap kompak,” ujarnya lembut.

Etek menambahkan, buka bersama membuat suasana semakin menyentuh. “Ramadhan itu bulan menyatukan hati. Arisan kali ini terasa berbeda, lebih tenang, lebih hangat. Kita makan bersama, berdoa bersama, itu yang mahal,” katanya.

Bagi Nides, momen tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi keluarga. “Kesibukan sering membuat kita lupa waktu. Tapi arisan di bulan puasa ini seperti mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pulang yang paling utama,” ucapnya.

Sementara Nopi menilai, anak-anak mendapatkan pelajaran berharga dari kebersamaan itu. “Mereka belajar arti berbagi dan menghormati satu sama lain. Buka bersama ini bukan sekadar makan, tapi juga menanamkan nilai kebersamaan sejak dini,” tuturnya.

Yang paling mengharukan adalah kehadiran Muri yang datang jauh dari negeri jiran Malaysia demi mengikuti arisan dan berbuka bersama keluarga.

“Saya sengaja pulang karena ingin merasakan Ramadhan bersama keluarga. Di perantauan, suasana seperti ini yang paling dirindukan. Sederhana, tapi penuh makna,” ungkap Muri dengan mata berkaca-kaca.

Tak kalah menarik, Mintuo Ros selaku tuan rumah kali ini juga berbagi cerita di sela - sela kesibukannya. Sejak siang ia berjibaku di dapur menyiapkan berbagai hidangan untuk keluarga besar.

“Rasa penat di dapur itu langsung terbayar begitu melihat sanak saudara datang satu per satu. Apalagi semua makanan yang dihidangkan dilahap habis, itu membuat Mintuo Ros puas,” ujarnya sambil tersenyum lega.

Menurutnya, kebahagiaan seorang tuan rumah bukan pada kemewahan sajian, melainkan pada keikhlasan berbagi dan melihat keluarga menikmati hidangan dengan lahap.

Kehadiran seluruh anggota keluarga malam itu menjadi simbol bahwa jarak dan waktu tak mampu memutus tali kekeluargaan. Pelukan hangat, canda ringan, dan doa bersama menegaskan bahwa rumah sejati adalah tempat di mana keluarga berkumpul dengan hati yang lapang.

Arisan “Keluarga Alai Bersatu” bukan sekadar agenda bulanan. Di bulan Ramadhan, ia menjelma menjadi ruang berbagi, memperkuat iman, dan merawat cinta dalam lingkar keluarga. Tradisi sederhana ini membuktikan, kebersamaan yang dijaga dengan hati akan selalu menghadirkan keberkahan dan makna yang tak tergantikan.

(Rajo Alam)

×
Berita Terbaru Update