-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Rantau Penuh Lika - Liku, Azwar Kembali Menepi di Surau Syech Ampalam

Kamis, 26 Februari 2026 | Februari 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-26T02:33:47Z
Azwar (64) berbincang santai dengan jurnalis mp di Surau Syech Ampalam, Korong Kubu, Nagari Tapakis, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, mengenang perjalanan panjang hidupnya sebagai perantau yang penuh lika-liku.

Tapakis, MP----- Pagi itu, Kamis (26/2/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, suasana di Surau Syech Ampalam, Korong Kubu, Nagari Tapakis, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, tampak tenang. Di sela menunggu jadwal kerja Kantor Wali Nagari Tapakis, perbincangan santai mengalir hangat antara Azwar dan Darmen Rajo Alam, jurnalis media momenpembaruan.com.

Surau Syech Ampalam di Korong Kubu, Nagari Tapakih, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, masih berdiri kokoh dan menjadi pusat aktivitas keagamaan serta ruang silaturahmi masyarakat setempat.

Duduk bersahaja di surau, Azwar pria 64 tahun dengan empat orang anak, membuka lembaran kisah panjang perantauannya. Cerita tentang keberanian meninggalkan kampung halaman, jatuh bangun di tanah orang, hingga akhirnya kembali pulang.

Azwar pertama kali merantau pada 1986 ke Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Kabupaten Manggarai. Ia bertahan hingga 1993, saat pecah kerusuhan antaragama yang menyebabkan pasar tempatnya berdagang ikut dibakar massa.

“Waktu itu situasi tidak memungkinkan lagi. Pasar dibakar, usaha tidak bisa jalan. Saya putuskan pulang dulu ke Sumatera Barat,” kenangnya.

Setelah beberapa tahun di kampung, pada 2006 Azwar kembali mengadu nasib, kali ini ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun hanya setahun di sana, ia kembali melanjutkan perantauan ke Kabupaten Flores Timur, NTT. Di daerah itu, ia bertahan cukup lama hingga badai pandemi Covid-19 melanda.

Rencana pulang kampung sebenarnya sudah ia niatkan sejak 2020. Namun pandemi yang tak kunjung reda membuat langkahnya tertahan. Aktivitas berdagang dibatasi ketat. Bahkan ketika hendak membuka lapak, aparat Satpol PP datang menegur.

“Baru mau jualan, sudah dilarang. Katanya masih Covid, tidak boleh buka. Jadi memang betul - betul tidak bisa usaha waktu itu,” ujarnya lirih.

Pandemi menjadi titik balik. Pada 2022, setelah situasi mulai membaik, Azwar memutuskan pulang ke Sumatera Barat. Tak lama di kampung, semangat berdagangnya kembali tumbuh. Ia merantau lagi ke Pekanbaru, Riau, membuka usaha rumah makan bersama keponakannya.

Namun dinamika kembali terjadi. Selama bulan Ramadan, Pemerintah Kabupaten Kampar membatasi operasional rumah makan pada siang hari. Azwar pun memilih pulang sementara ke kampung halaman.

“Paling tiga hari setelah Lebaran, saya balik lagi ke Riau,” katanya optimistis.

Di balik perjalanan panjang itu, Azwar bersyukur. Keempat anaknya telah berkeluarga dan mandiri. Baginya, itulah hasil nyata dari puluhan tahun perjuangan di rantau.

“Alhamdulillah, anak-anak semua sudah menikah dan berkeluarga. Itu yang membuat saya tenang,” ucapnya dengan mata berbinar.

Kisah Azwar menjadi potret keteguhan perantau Minang, pantang menyerah menghadapi badai, setia pada keluarga, dan selalu memiliki jalan pulang ke kampung halaman. Di surau sederhana itu, cerita hidupnya mengalir apa adanya, menjadi saksi bahwa setiap langkah di rantau selalu menyimpan makna dan pelajaran berharga.

(Red)

×
Berita Terbaru Update