Mentawai, MP----- Keluhan masyarakat terhadap layanan air bersih di Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, kembali mencuat. Sejumlah pelanggan Perusahaan Air Minum (PAM) daerah mengaku pasokan air bersih ke rumah mereka kerap terhenti selama berhari-hari tanpa pemberitahuan yang jelas dari pihak pengelola.
Akibatnya, warga terpaksa merogoh kocek tambahan untuk membeli air bersih demi memenuhi kebutuhan sehari - hari, mulai dari memasak, minum, mandi hingga mencuci.
Salah seorang pelanggan PAM di Tua Pejat, Ken Narton, mengungkapkan bahwa dalam beberapa minggu terakhir aliran air ke rumahnya sering tidak mengalir. Bahkan, dalam beberapa kesempatan air tidak mengalir hingga dua hari penuh.
“Sudah beberapa minggu ini air sering mati. Ada sampai dua hari tidak mengalir sama sekali. Akibatnya kami harus beriyuran dengan tetangga untuk membeli air bersih,” ujar Ken kepada wartawan, Selasa (17/3).
Menurutnya, kondisi ini sangat menyulitkan warga karena air bersih merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan sehari - hari. Ia menilai pelayanan distribusi air dari pihak pengelola masih jauh dari harapan masyarakat.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Pambers. Ia mengatakan tidak adanya suplai air bersih dari PAM daerah berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat di Tua Pejat.
“Kalau air tidak mengalir, semua aktivitas jadi terganggu. Kami menyayangkan pihak UPT PAM Dinas PUPR Mentawai tidak pernah memberikan informasi resmi kepada pelanggan mengenai penyebab air tidak mengalir,” ungkapnya.
Pambers menambahkan, selama ini pihak pengelola baru merespons ketika pelanggan menyampaikan keluhan. Padahal, menurutnya sebagai penyedia layanan publik, PAM seharusnya memberikan pemberitahuan lebih awal kepada masyarakat jika terjadi gangguan distribusi air.
“Kami berharap ada transparansi. Jangan menunggu masyarakat mengeluh dulu baru ada penjelasan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala UPT PAM/Air Minum Dinas PUPR Kabupaten Kepulauan Mentawai, Erawati, menilai gangguan distribusi air merupakan hal yang biasa terjadi di wilayah tersebut. Ia menyebut salah satu penyebab utama air tidak mengalir adalah gangguan listrik yang membuat mesin pompa di reservoir tidak berfungsi.
“Kalau listrik mati, otomatis mesin di reservoir tidak berjalan. Jadi distribusi air ke pelanggan juga terganggu. Itu sudah biasa terjadi di Mentawai,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.
Erawati juga menyebutkan bahwa informasi mengenai gangguan distribusi air biasanya disampaikan melalui media sosial Facebook.
“Untuk informasi ke pelanggan biasanya kami sampaikan melalui Facebook. Jadi kalau listrik mati, distribusi air juga akan terganggu,” katanya.
Namun, alasan tersebut justru memunculkan tanda tanya di kalangan pelanggan. Sebab tidak semua masyarakat memiliki akses atau aktif memantau informasi melalui media sosial. Warga berharap pemerintah daerah melalui Dinas PUPR Mentawai dapat memperbaiki sistem layanan serta memastikan distribusi air bersih berjalan normal, mengingat air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga meminta adanya solusi konkret dari pemerintah daerah untuk mengantisipasi gangguan distribusi akibat listrik padam, seperti penyediaan sistem cadangan listrik atau manajemen distribusi yang lebih baik.
Hingga kini, warga Tua Pejat masih berharap persoalan ini segera mendapat perhatian serius, agar krisis air bersih yang berulang tidak lagi menjadi beban tambahan bagi masyarakat.
(Rajo Alam/red)
