-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Warga Keluhkan Sistem Penukaran Uang Baru BI, Aplikasi PINTAR Dinilai Menyulitkan

Jumat, 13 Maret 2026 | Maret 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-13T07:05:22Z
Warga menyampaikan keluhan kepada jurnalis MP terkait sulitnya mendapatkan nomor antrian penukaran uang baru di kawasan parkir Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Padang.

Padang, MP----- Antusiasme masyarakat untuk menukarkan uang baru menjelang hari raya justru diwarnai keluhan. Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh nomor antrian penukaran uang baru yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia.

Suasana masyarakat di kawasan parkir Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi saat mencoba memperoleh nomor antrian penukaran uang baru yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, Jumat (13/3/2026).

Kesulitan tersebut muncul karena masyarakat diwajibkan mendaftar terlebih dahulu melalui layanan aplikasi pintar.bi.go.id sebelum dapat menukarkan uang di lokasi yang telah ditentukan. Namun, banyak warga mengaku tidak berhasil masuk ke sistem pendaftaran sehingga gagal memperoleh nomor antrian.

Pantauan di lokasi penukaran yang digelar di kawasan parkir Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Jumat (13/3/2026), sejumlah warga tampak mendatangi petugas untuk menyampaikan keluhan mereka.

Namun petugas di lapangan menyampaikan bahwa persoalan terkait sistem pendaftaran bukan menjadi kewenangan mereka. Warga hanya diminta menyampaikan keluhan kepada bagian humas. Sayangnya, saat masyarakat meminta penjelasan lebih lanjut, pihak humas yang dimaksud tidak berada di lokasi.

Akibatnya, sejumlah warga yang datang dengan harapan bisa menukarkan uang baru akhirnya memilih meninggalkan lokasi dengan raut wajah kecewa.

Keluhan tersebut juga disampaikan langsung masyarakat kepada jurnalis MP (momenpembaruan.com) yang berada di lokasi.

Darmen Rajo Alam, salah seorang warga, mengatakan dirinya telah berulang kali mencoba mendaftar melalui aplikasi tersebut namun tidak berhasil.

“Saya sudah mengunduh aplikasi pintar.bi.go.id dan mencoba masuk berkali - kali. Bahkan sudah berjam - jam mencoba mendaftar untuk mendapatkan nomor antrian, tapi tetap tidak berhasil,” ujarnya kepada jurnalis MP di lokasi.

Menurutnya, sistem yang diberlakukan tahun ini justru mempersulit masyarakat dibanding tahun - tahun sebelumnya.

“Percuma kami menabung di bank kalau akhirnya dibuat sulit seperti ini. Tahun lalu tidak seperti ini. Kita bisa datang langsung ke bank sesuai jadwal dan dengan mudah menukarkan uang baru,” tegasnya.

Keluhan serupa juga disampaikan M Husni Nahar. Ia mengaku sudah mencoba mengakses layanan pendaftaran sejak pagi namun tetap tidak mendapatkan nomor antrian.

“Saya sudah mencoba beberapa kali masuk ke aplikasi, bahkan menunggu lama supaya bisa mendapatkan nomor antrian. Tapi sampai sekarang tetap tidak bisa. Banyak masyarakat yang mengalami hal yang sama,” katanya kepada jurnalis MP.

Ia juga menambahkan bahwa bahkan anaknya yang bekerja di salah satu bank pun tidak dapat membantu menyelesaikan kendala tersebut.

“Anak saya juga bekerja di bank. Saya sempat bertanya dan meminta bantuannya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa - apa karena semuanya harus melalui sistem aplikasi dari Bank Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Yuni, warga lainnya, mengaku telah berulang kali mencoba mengakses aplikasi tersebut dari ponsel miliknya namun tidak juga berhasil.

“Kami sudah unduh aplikasinya dan mencoba masuk berkali - kali. Bahkan menunggu berjam - jam, tapi tetap tidak bisa mendaftar. Akhirnya kami datang langsung ke lokasi, tapi tetap tidak bisa menukar uang karena harus lewat sistem itu,” tuturnya kepada jurnalis MP.

Hal senada disampaikan Vira, yang menilai sistem berbasis aplikasi belum sepenuhnya siap digunakan oleh seluruh masyarakat.

“Tidak semua masyarakat terbiasa menggunakan aplikasi seperti itu. Kalau sistemnya sulit diakses, akhirnya masyarakat jadi kebingungan. Lebih baik seperti dulu, ada jadwal dan masyarakat bisa langsung datang ke bank untuk menukar uang baru,” ujarnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah warga yang tidak mendapatkan kepastian akhirnya meninggalkan area penukaran uang dengan rasa kecewa.

Masyarakat berharap pihak Bank Indonesia dapat mengevaluasi sistem penukaran uang baru melalui aplikasi tersebut agar layanan publik tetap mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan uang pecahan baru di tengah tradisi masyarakat saat hari raya.

(Pdg/red)

×
Berita Terbaru Update