-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Jalur Wisata Mandeh Terancam, Truk Batu Bara Diduga Picu Kerusakan Jalan dan Polusi Udara

Selasa, 14 April 2026 | April 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-14T11:05:24Z
Akses jalan ke wisata Mandeh rusak parah di wilayah Kampung Lolo Kelurahan Teluk Kabung Tengah, diduga akibat aktivitas mobilitas truk pengangkut batu bara ke PLTU Teluk Sirih 

Padang, MP----- Deru mesin dump truk bermuatan batu bara tak hanya memecah keheningan Kampung Lolo, Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang. Di balik lalu lintas kendaraan bertonase tinggi itu, tersimpan keresahan warga yang kian memuncak, mulai dari jalan rusak parah hingga debu pekat yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan, akses jalan umum yang menjadi urat nadi mobilitas warga sekaligus jalur utama menuju kawasan wisata Mandeh kini dalam kondisi memprihatinkan. Permukaan jalan retak, berlubang, dan di beberapa titik mengalami amblas, diduga kuat akibat intensitas tinggi kendaraan angkutan batu bara menuju PLTU Teluk Sirih.

Tak hanya kerusakan fisik jalan, dampak lain yang dirasakan warga adalah polusi debu. Setiap kali truk melintas, kepulan debu membumbung tinggi dan menyelimuti rumah-rumah penduduk. Aktivitas harian seperti berdagang, bersekolah, hingga sekadar beraktivitas di luar rumah pun terganggu.

“Kalau truk lewat, debu masuk ke rumah. Kami harus tutup pintu terus,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Sorotan terhadap persoalan ini juga datang dari Novermal Yuska Anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan. Ia menilai aktivitas dump truk tronton pengangkut batu bara tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan, khususnya wisatawan yang melintasi jalur menuju kawasan Mandeh.

“Ini sudah lama merusak jalan dari Padang ke kawasan wisata Mandeh,” ujar Novermal, saat dihubungi jurnalis mp, Selasa (14/4/2026).

Ia menegaskan, jalan yang dilalui bukanlah jalur yang dirancang untuk kendaraan bertonase besar. Kondisi jalan yang sempit, ditambah dengan kontur tanjakan seperti di kawasan Sungai Pisang, dinilai sangat berisiko bagi keselamatan.

“Truk besar lewat di jalan sempit itu juga membahayakan keselamatan wisatawan,” tambahnya.

Lebih jauh, Novermal mendesak pihak terkait, khususnya PLN sebagai pihak yang diduga berkepentingan terhadap distribusi batu bara ke PLTU Teluk Sirih, agar segera melakukan penertiban terhadap armada angkutan tersebut. Ia juga meminta Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat turun tangan melakukan evaluasi, termasuk meninjau dokumen Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) dari aktivitas angkutan batu bara tersebut.

“Jalan itu jalur wisata, bukan untuk truk tronton bermuatan 20 ton. Jangan hancurkan pariwisata Pesisir Selatan demi keuntungan segelintir pihak,” tegas politisi PAN itu.

Situasi ini menempatkan kawasan Mandeh, yang selama ini dikenal sebagai “Raja Ampat-nya Sumatera Barat”, dalam ancaman serius. Jika kerusakan infrastruktur dan gangguan lingkungan terus dibiarkan, bukan tidak mungkin daya tarik wisata kawasan tersebut akan meredup, berdampak langsung pada ekonomi masyarakat lokal.

Investigasi ini menemukan adanya indikasi lemahnya pengawasan terhadap kendaraan bertonase besar yang melintas di jalur provinsi tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai langkah konkret penanganan persoalan ini.

Di tengah geliat pembangunan dan kebutuhan energi, warga Kampung Lolo kini berada di persimpangan: antara bertahan dengan kondisi yang kian memburuk, atau menunggu ketegasan pemerintah menata ulang kepentingan industri dan keselamatan publik.

(Rj/red)

×
Berita Terbaru Update