-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Truk Batu Bara Diduga Rusak Jalan dan Picu Debu, Warga Bungus Mengadu ke Ditlantas Polda Sumbar

Senin, 13 April 2026 | April 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-13T13:09:06Z
Kondisi jalan rusak di Teluk Kabung Tengah yang diduga akibat aktivitas truk batu bara.

Padang, MP----- Aktivitas mobilitas truk pengangkut batu bara milik PT SAE menuju PLTU Teluk Sirih diduga menjadi pemicu kerusakan jalan serta polusi debu yang meresahkan warga Kampung Lolo, Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang.

Keresahan itu akhirnya dibawa ke meja pertemuan yang difasilitasi Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumatera Barat pada 26 September 2025. Pertemuan tersebut mempertemukan warga sebagai pelapor dengan pihak perusahaan serta sejumlah instansi terkait.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Sumbar, AKBP Dewi Suryani, membenarkan adanya forum mediasi tersebut. Ia menyebut, pihaknya hadir untuk menjembatani laporan masyarakat yang merasa terdampak langsung oleh aktivitas truk batu bara.

“Kami memfasilitasi pertemuan terkait adanya laporan masyarakat yang mengadukan keresahan terhadap aktivitas truk pengangkut batu bara yang disinyalir menjadi penyebab kerusakan jalan dan debu,” ujar Dewi.

Dalam forum itu, hadir perwakilan warga Dian selaku Ketua RT 03/RW 03, tokoh pemuda Boby Ramansyah Putra, Ketua KAN, pihak PT SAE, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, serta Koperasi Kanteka.

Kanit Laka Subdit Gakkum Ditlantas Polda Sumbar, AKP Baypul, mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut pihak perusahaan menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti keluhan warga.

Beberapa poin yang disepakati antara lain perbaikan jalan yang rusak, kewajiban menutup bak truk dengan terpal untuk mengurangi debu, pengaturan jarak antar kendaraan, serta pembatasan operasional truk di luar jam sibuk.

“Perusahaan berjanji melaksanakan poin-poin tersebut,” kata Baypul.

Ia juga menambahkan, pertemuan serupa sebelumnya telah lebih dulu dilakukan sebagai upaya mencari solusi atas persoalan yang sama.

“Sebelumnya pertemuan juga pernah digelar di kantor Polsek Bungus Teluk Kabung, dengan melibatkan pihak terkait dan masyarakat,” tambahnya.

Namun demikian, tokoh pemuda Teluk Kabung Tengah, Boby Ramansyah Putra, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, menyatakan hingga kini masyarakat masih mempertanyakan komitmen perusahaan dan merasa kecewa atas hasil pertemuan tersebut.

“Sampai saat ini kami masih mempertanyakan itikad baik dari PT SAE. Karena poin - poin yang disampaikan dalam pertemuan itu belum sepenuhnya dijalankan,” tegas Boby.

“Kami juga kecewa, pertemuan yang digelar terkesan hanya formalitas saja. Faktanya, sampai sekarang PT SAE belum sepenuhnya menjalankan komitmennya,” tambahnya.

Meski demikian, soal dugaan penyebab utama kerusakan jalan, apakah akibat kelebihan tonase kendaraan, masih menjadi pembahasan lanjutan. Dewi menegaskan bahwa hal tersebut merupakan kewenangan teknis instansi terkait.

“Untuk tonase dan rambu menjadi ranah Dinas Perhubungan, sedangkan standar kekuatan jalan menjadi kewenangan Dinas PU,” jelasnya.

Sebelumnya, warga Kampung Lolo mengaku telah lama merasakan dampak dari lalu lintas truk batu bara yang melintas setiap hari. Selain jalan yang cepat rusak, debu yang ditimbulkan dinilai mengganggu kesehatan dan aktivitas harian masyarakat.

Hingga berita ini ditulis, Hendri Cing yang dikonfirmasi pada Jumat, 10 April 2026, belum memberikan klarifikasi terkait persoalan tersebut.

Warga berharap komitmen yang telah disampaikan dalam pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai janji, melainkan segera direalisasikan di lapangan. Jika tidak, mereka mengisyaratkan akan kembali melayangkan protes ke pihak berwenang.

Dari sisi pemerintah kelurahan, Lurah Teluk Kabung Tengah, Febri Yeni, menyampaikan bahwa berbagai keluhan warga terkait kerusakan jalan dan debu telah ditindaklanjuti. Ia menegaskan aspirasi masyarakat sudah diteruskan hingga ke tingkat kecamatan sebagai bentuk respon terhadap keresahan yang berkembang.


Sementara itu, saat ditemui di kantornya, Plt Camat Bungus Teluk Kabung, Zulfahmi, menjelaskan bahwa pihak perusahaan telah mulai merespons keluhan warga. Saat ini, menurutnya, perbaikan pada ruas jalan tengah berlangsung.


“Sejauh ini PLN sangat responsif memperhatikan lingkungan serta warga, jalan yang rusak saat ini tengah dalam pengerjaan perbaikan,” ujarnya.


Ia juga menghimbau agar perusahaan terus melakukan penyiraman jalan secara rutin guna mengurangi debu yang berterbangan dan berdampak langsung terhadap permukiman warga.


Harapan warga sesungguhnya sederhana, jalan yang layak dilalui, udara yang lebih bersih untuk dihirup, serta rasa aman dalam menjalani aktivitas sehari - hari. Mereka tidak menolak keberadaan PLTU sebagai bagian dari kebutuhan energi, tetapi menginginkan adanya tanggung jawab yang seimbang terhadap lingkungan sekitar.


Kisah dari Teluk Sirih menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur, termasuk akses menuju pembangkit listrik, tidak bisa dilepaskan dari dampak sosial yang ditimbulkan. Jalan yang dibangun untuk mendukung energi nasional, pada akhirnya juga harus mampu menjamin keselamatan dan kenyamanan masyarakat di sekitarnya.


Jika tidak segera ditangani, kerusakan jalan dan persoalan debu ini bukan hanya akan memperburuk kondisi lingkungan, tetapi juga mengikis kepercayaan warga terhadap kehadiran pembangunan itu sendiri.

(Red/Rj)


×
Berita Terbaru Update