Padang, MP----- Pendiri Utama Forum Dinamika Sumatera Barat, Nof Hendra, meluncurkan gerakan donasi publik bertajuk “Rp5.000 per Orang” untuk menyukseskan Musyawarah Besar (MUBES) FDSB 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Kota Padang pada 12 September 2026. Program ini digagas sebagai gerakan kolektif berbasis gotong royong yang melibatkan masyarakat Sumatera Barat, perantau Minang, hingga insan pers di berbagai daerah dan luar negeri.
Dalam keterangannya kepada awak media di Padang, Rabu (20/5/2026), Nof Hendra menegaskan bahwa kekuatan masyarakat tidak selalu diukur dari besarnya nominal bantuan, melainkan dari luasnya partisipasi yang terbangun. Menurutnya, donasi Rp5.000 dipilih agar seluruh lapisan masyarakat dapat ikut ambil bagian tanpa merasa terbebani.
“Kalau urang Minang basatu, kekuatan itu luar biasa. Rp5.000 mungkin kecil, tapi kalau digerakkan bersama, dampaknya bisa menjadi energi besar untuk membangun kebersamaan dan marwah organisasi,” ujar Nof Hendra.
Ia menyebut, gerakan tersebut bukan sekadar pengumpulan dana, melainkan simbol solidaritas sosial dan budaya yang menegaskan semangat “alek basamo” di tengah masyarakat Minangkabau. FDSB menilai MUBES 2026 harus menjadi momentum konsolidasi gagasan, persatuan, serta ruang bersama bagi tokoh masyarakat, akademisi, pemuda, perantau, dan insan pers dalam merumuskan arah kontribusi sosial organisasi ke depan.
Menurut Nof Hendra, skema donasi kecil dipilih dengan sejumlah pertimbangan strategis. Selain ringan dijangkau semua kalangan, pola tersebut diyakini mampu menumbuhkan rasa memiliki yang lebih luas terhadap pelaksanaan MUBES. Ia mencontohkan, apabila 50 ribu orang ikut berdonasi Rp5.000, maka dana yang terkumpul dapat mencapai Rp250 juta dan cukup menopang kebutuhan utama kegiatan seperti konsumsi, tenda, publikasi, dokumentasi, hingga sistem pendukung acara.
“Kalau satu juta urang Minang di rantau dan di ranah satuju, MUBES ko bisa jadi MUBES tagadang di Sumbar,” katanya.
Untuk menjaga kepercayaan publik, FDSB menyiapkan mekanisme pengelolaan dana yang diklaim transparan dan akuntabel. Panitia akan membentuk tim khusus beranggotakan tujuh orang yang terdiri dari bendahara pusat, koordinator wilayah, dan koordinator sektoral. Tim tersebut bertugas melakukan verifikasi, pendataan, hingga pelaporan perkembangan donasi secara berkala melalui grup komunikasi resmi FDSB.
Selain itu, seluruh transaksi donasi nantinya dilakukan melalui rekening resmi atas nama Panitia MUBES FDSB 2026 yang mencakup sejumlah bank nasional dan layanan pembayaran digital seperti QRIS, DANA, OVO, serta GoPay. FDSB juga berencana membuka akses laporan keuangan secara real-time melalui sistem daring yang dapat dipantau publik.
“Kalau ada Rp1 yang hilang, panitia mundur,” tegas Nof Hendra menekankan komitmen transparansi.
Gerakan penggalangan dana ini akan diperkuat melalui pola “Ajak 5 Kawan”, pembentukan koordinator di tingkat nagari, hingga jaringan perantau FDSB di Batam, Jakarta, Malaysia, dan sejumlah wilayah lainnya. Donatur nantinya cukup mengirim bukti transfer kepada bendahara panitia untuk memperoleh tanda terima digital sebagai bentuk dokumentasi dan akuntabilitas.
FDSB juga memastikan penggunaan dana akan dibagi secara terukur, mulai dari kebutuhan konsumsi dan logistik kegiatan, publikasi dan dokumentasi, transportasi tokoh adat dan pemateri, hingga dana cadangan organisasi. Jika terdapat sisa anggaran, dana tersebut akan dialokasikan menjadi dana sosial FDSB pasca pelaksanaan MUBES.
Di akhir keterangannya, Nof Hendra mengajak seluruh masyarakat Minangkabau menjadikan gerakan ini sebagai simbol kebersamaan dan kepedulian sosial lintas generasi.
“Basamo-samo kito buktikan, urang Minang indak miskin ide, indak miskin hati. Dengan Rp5.000 per urang, kito bisa tunjukkan ka Indonesia bahwa MUBES FDSB 2026 adalah alek gadang urang rami, bukan alek gadang urang kayo surang,” pungkasnya.
(Red/NH)
