![]() |
| Momen foto bersama Kapten TNI AD Syafrudin dan awak media usai perbincangan di depan Kantor Koramil 12 Sangir, Solok Selatan. |
Padang Aro, MP----- Sosok sederhana dan bersahaja terlihat dari pribadi Kapten TNI AD Syafrudin saat berbincang santai bersama wartawan di sebuah warung sederhana yang tidak jauh dari kantor Koramil 12 Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Jumat (22/5/2026). Di balik gaya bicaranya yang tenang, tersimpan perjalanan panjang pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang telah ditempuh selama puluhan tahun di berbagai daerah penugasan.
Kapten TNI AD Syafrudin mengawali karier militernya setelah lulus sebagai prajurit TNI AD dengan pangkat Sersan Dua (Serda). Penugasan perdana dijalani di Batalyon 112/Darmajaya Korem 012/Teuku Umar, Provinsi Aceh. Di wilayah yang dikenal memiliki dinamika keamanan cukup tinggi itu, dirinya menghabiskan waktu pengabdian lebih kurang selama 10 tahun.
Setelah itu, perjalanan tugasnya berlanjut ke Kodim 0112/Sabang selama hampir enam tahun. Pengabdian berikutnya dijalani di Batalyon Raider 113/Jaya Sakti Bireuen yang juga ditempati hampir enam tahun lamanya. Tidak berhenti di situ, Syafrudin kembali dipercaya bertugas di Kodim 0102/Pidie sebelum akhirnya dipindahkan ke Sumatera Barat pada tahun 2023.
Di Ranah Minang, dirinya dipercaya mengemban amanah sebagai Pasi Pers di Kodim 0309/Solok dengan pangkat Kapten. Jabatan tersebut dijalani selama sekitar 1,7 tahun sebelum akhirnya melanjutkan tugas sebagai Danramil di Koramil 12 Sangir, Kabupaten Solok Selatan.
“Selama 24 tahun saya bertugas di Provinsi Aceh sebelum pindah ke Sumbar,” ujar Kapten TNI AD Syafrudin yang juga merupakan ayah dari tiga orang anak tersebut.
Pengalaman panjang bertugas di Aceh membentuk karakter kepemimpinan dan kedewasaan berpikirnya sebagai seorang prajurit. Baginya, menjadi anggota TNI bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian penuh tanggung jawab kepada negara dan masyarakat.
Ia menegaskan, prinsip hidup yang selalu dipegang selama menjadi prajurit adalah menjalankan tugas sesuai aturan, bekerja dengan ikhlas, serta bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan negara.
“Prinsip hidup sebagai prajurit itu harus sesuai aturan, ikhlas, dan bertanggung jawab,” tuturnya dengan nada tenang.
Di tengah perkembangan tantangan sosial masyarakat saat ini, Kapten Syafrudin menilai keberadaan TNI di tengah masyarakat tidak hanya berkaitan dengan tugas pertahanan negara, namun juga menyangkut kedekatan emosional dan kepedulian sosial.
Menurutnya, komunikasi sosial atau komsos menjadi salah satu cara utama membangun hubungan harmonis antara TNI dan masyarakat. Dengan turun langsung ke lapangan, mendengar keluhan warga, hingga membantu kesulitan masyarakat, kehadiran TNI diharapkan benar-benar dirasakan manfaatnya.
“Kalau ada kesulitan masyarakat, kita membantu. Bentuk kedekatan TNI dengan masyarakat itu melalui komunikasi sosial,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga aktif mendukung berbagai program pemerintah yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Di antaranya program ketahanan pangan, pembentukan Koperasi Merah Putih, hingga berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat di wilayah binaan.
Menurut Kapten Syafrudin, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, perangkat nagari, dan masyarakat menjadi kunci utama agar setiap program negara dapat berjalan maksimal dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Kalau ada program dari negara, kita membantu supaya manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Karena itu kita terus berkoordinasi dengan perangkat daerah dan masyarakat,” katanya.
Di balik ketegasan seorang perwira TNI, sosok Kapten TNI AD Syafrudin tampil humanis dan sederhana. Perbincangan hangat di warung kecil itu menggambarkan bagaimana seorang prajurit tidak hanya hadir sebagai aparat negara, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang terus berupaya menjaga kedekatan, kebersamaan, dan pengabdian tanpa batas.
(Rajo.A/Mt/red)
