-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Geopark Silokek, Jejak Bumi Purba Sumatera Barat yang Harus Dijaga Bersama

Minggu, 17 Mei 2026 | Mei 17, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-17T03:15:40Z
Geopark Silokek menjadi salah satu aset geologi kebanggaan Sumatera Barat yang kaya nilai sejarah dan keanekaragaman hayati.


Padang, MP----- Di balik hamparan alam hijau Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, berdiri sebuah kawasan yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menyimpan jejak sejarah bumi berusia ratusan juta tahun. Kawasan itu adalah Geopark Silokek, geopark nasional yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Ranah Minang sekaligus aset geologi Indonesia yang bernilai tinggi.

Keindahan Geopark Silokek di Kabupaten Sijunjung menyimpan jejak sejarah bumi sekaligus potensi wisata kelas dunia.


Pendiri Utama Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB), Nof Hendra, menegaskan pentingnya menjaga dan merawat kawasan tersebut agar tetap lestari di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap wisata berbasis alam dan geologi.

“Silokek harus kita rawat dan jaga,” ujar Nof Hendra melalui pesan WhatsApp kepada awak media di Padang, Minggu (17/05/2026).


Geopark Silokek berada di Kecamatan Sumpur Kudus dan Kecamatan Sijunjung dengan luas kawasan mencapai sekitar 130 ribu hektare. Kawasan ini menyimpan kekayaan geologi berupa batuan sedimen purba, tebing karst megah, gua alami, hingga aliran sungai yang terbentuk sejak era awal perjalanan bumi.


Berbagai penelitian menyebutkan sebagian batuan di kawasan tersebut berasal dari Era Paleozoikum, khususnya periode Carboniferous hingga Permian, yang diperkirakan berumur antara 299 juta hingga 359 juta tahun. Fakta itu menjadikan Silokek sebagai salah satu laboratorium alam terbuka yang sangat penting bagi dunia ilmu pengetahuan dan konservasi.


Tidak hanya kaya secara geologi, Geopark Silokek juga menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Kawasan ini menjadi habitat berbagai flora dan fauna khas Sumatera, termasuk sejumlah satwa langka seperti harimau Sumatera, tapir, siamang, dan burung enggang.


Menurut Nof Hendra, potensi besar tersebut harus mampu dikelola menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar melalui pengembangan geowisata yang berkelanjutan.


“Wisata geologi atau geowisata kini menjadi salah satu sektor yang berkembang di dunia. Banyak wisatawan tertarik mengunjungi lokasi yang memiliki sejarah pembentukan bumi dan keunikan batuan purba,” ungkapnya.


Pandangan serupa disampaikan tokoh pengacara muda Minang di Kota Depok, Jawa Barat, Andhika Yudha Perwira, S.H. Ia mengingatkan agar Geopark Silokek tidak mengalami kerusakan akibat eksploitasi berlebihan maupun aktivitas yang merusak lingkungan.


Menurut Andhika, pelestarian kawasan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.


“Saya sepakat Geopark Silokek bukan sekadar destinasi wisata biasa, tetapi laboratorium alam terbuka yang menyimpan kisah panjang perjalanan bumi sejak ratusan juta tahun silam. Kawasan ini harus dijaga agar generasi mendatang tetap dapat menyaksikan kekayaan alam yang sangat langka ini,” tegasnya.


Ia juga meyakini Geopark Silokek memiliki peluang besar menjadi destinasi wisata kelas dunia apabila didukung pengelolaan profesional, promosi yang kuat, serta kesadaran kolektif dalam menjaga kelestariannya.


Untuk mengoptimalkan pengembangan kawasan tersebut, Nof Hendra menyampaikan tiga langkah strategis yang dinilai penting dilakukan ke depan. Pertama, pengelolaan berbasis kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, akademisi, dan pelaku wisata agar keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan ekonomi tetap terjaga.


Kedua, memperkuat promosi dan edukasi publik di tingkat nasional maupun internasional agar masyarakat memahami nilai ilmiah dan sejarah bumi yang tersimpan di kawasan Silokek.


Ketiga, memberdayakan masyarakat lokal sebagai pelaku utama sektor pariwisata dan konservasi sehingga manfaat ekonomi dapat langsung dirasakan warga nagari sekitar kawasan geopark.


Di akhir keterangannya, Nof Hendra juga memohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Sumatera Barat, para perantau, insan pers, TNI-Polri, serta pemerintah daerah demi kelancaran Musyawarah Besar (MUBES) Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) yang dijadwalkan berlangsung di Kota Padang pada Sabtu, 12 September 2026.

(NH/Red)

×
Berita Terbaru Update