-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Revitalisasi Pendidikan Keagamaan Remaja, Pemko Padang Hidupkan Kembali MDTW/TQA Berbasis Masjid

Jumat, 01 Mei 2026 | Mei 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-01T00:31:27Z
Wali Kota Fadly Amran memimpin rapat revisi kurikulum MDTW/TQA di Aula Dinas Pendidikan Kota Padang.

Padang, MP----- Pemerintah Kota Padang kembali menegaskan komitmennya dalam membangun karakter generasi muda melalui penguatan pendidikan agama Islam. Lewat kebijakan terbaru, siswa tingkat SMP dan MTs akan mengikuti pembelajaran keagamaan di masjid dan musala di lingkungan masing-masing, sebanyak tiga kali dalam sepekan: Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Wakil Wali Kota Maigus Nasir memaparkan kesiapan peluncuran program pendidikan keagamaan berbasis masjid.

Program ini merupakan hasil pembahasan dalam rapat revisi kurikulum MDTW/TQA yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Fadly Amran bersama Wakil Wali Kota Maigus Nasir di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Kamis (30/4/2026). Kebijakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka menengah daerah yang menitikberatkan pada pembinaan karakter religius generasi muda.

Fadly Amran menegaskan bahwa implementasi program ini harus dilakukan secara terukur dan tidak membebani siswa. Ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara kegiatan belajar, ibadah, waktu bersama keluarga, dan istirahat.

“Anak-anak kita sudah memulai aktivitas sejak subuh melalui program Subuh Mubarakah. Jika kegiatan ditambah terlalu panjang, tentu berdampak pada kondisi fisik mereka. Pengaturan waktu harus benar-benar proporsional,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mendorong agar pelaksanaan program dilakukan secara tertib dan, jika memungkinkan, berbasis digital untuk memastikan pengawasan berjalan optimal. Dinas Pendidikan diminta segera melakukan sosialisasi menyeluruh kepada seluruh kepala sekolah agar implementasi di lapangan berjalan seragam.

Sementara itu, Maigus Nasir mengungkapkan bahwa program MDTW/TQA akan resmi diluncurkan pada 2 Mei mendatang dengan skala yang cukup besar. Sebanyak 970 masjid dan musala akan menjadi pusat kegiatan, didukung oleh 1.227 tenaga pengajar, serta melibatkan lebih dari 44 ribu santri dari jenjang SMP dan MTs.

“Pembelajaran dimulai dengan salat Magrib berjamaah dan diakhiri dengan salat Isya. Materinya mengacu pada konsep 3T: Tahsin, Tahfidz, dan Tafsir, dengan metode halaqah dan klasikal yang disesuaikan kondisi lapangan,” jelasnya, didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Yopi Krislova.

Program ini tidak sekadar menjadi aktivitas tambahan, tetapi diharapkan mampu membentuk fondasi moral dan spiritual generasi muda di tengah tantangan era digital. Dengan pelibatan masjid dan musala sebagai pusat pembelajaran, Pemko Padang juga ingin menghidupkan kembali fungsi sosial keagamaan di lingkungan masyarakat.

(PD/red)

×
Berita Terbaru Update