-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Bundo Kanduang Sedunia Satukan Langkah Lestarikan Adat dan Lingkungan

Sabtu, 27 Juni 2026 | Juni 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-26T23:37:14Z
Potret festival Minangkabau 2026, di Kabupaten Tanah Datar


Batusangkar, MP----- Sehari setelah pembukaan Festival Minangkabau 2026, perhatian publik kembali tertuju ke Kabupaten Tanah Datar. Kongres dan Seminar Bundo Kanduang Sedunia III yang menjadi salah satu agenda utama festival resmi digelar di Gedung Nasional Maharajo Dirajo, Batusangkar, Jumat (26/6/2026), mempertemukan tokoh-tokoh Bundo Kanduang dari berbagai negara, provinsi di Indonesia, hingga seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat.


Mengusung tema "Membaca Alam Takambang dalam Memelihara Lingkungan Hidup Berbasis Nilai Kearifan Lokal dalam Konsep Berpikir Ekologis", forum internasional tersebut menegaskan kembali posisi strategis perempuan Minangkabau sebagai penjaga adat, pelestari lingkungan, sekaligus pembentuk karakter generasi penerus bangsa.


Bupati Tanah Datar, Eka Putra, saat membuka kongres menyampaikan bahwa kehadiran peserta dari Malaysia, Australia, dan berbagai daerah di Indonesia menjadi cerminan kuatnya ikatan batin masyarakat Minangkabau terhadap tanah kelahirannya.


"Sejauh apa pun masyarakat Minang merantau, kecintaan terhadap kampung halaman tidak pernah luntur. Kongres ini menjadi bukti bahwa nilai adat dan budaya tetap menjadi perekat persaudaraan masyarakat Minangkabau di seluruh dunia," ujar Eka Putra.


Menurutnya, Kongres Bundo Kanduang Sedunia tidak sekadar menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga wadah strategis merumuskan gagasan untuk memperkuat eksistensi budaya Minangkabau di tengah perubahan zaman. Ia berharap berbagai rekomendasi yang dihasilkan mampu menjadi pijakan dalam membangun sumber daya manusia yang berkarakter, berbudaya, dan berlandaskan nilai-nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.


Eka Putra menegaskan bahwa dalam sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau, Bundo Kanduang memiliki posisi yang sangat istimewa sebagai pewaris sako dan pusako, penjaga kehormatan kaum, sekaligus pendidik pertama dalam keluarga.


Menurutnya, peran tersebut harus terus diperkuat agar perempuan Minangkabau mampu menjadi benteng utama dalam membentuk karakter generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial yang semakin dinamis.


"Ibarat sebuah bangunan, kekuatan Minangkabau ditentukan oleh kokohnya fondasi adat dan agama. Karena itu, peran Bundo Kanduang menjadi sangat penting dalam menjaga nilai-nilai tersebut agar tetap hidup di tengah masyarakat," katanya.


Ia juga mengajak seluruh Bundo Kanduang untuk terus mempererat persatuan, menjaga marwah adat, serta aktif mewariskan budaya kepada generasi muda sebagai investasi peradaban yang akan menentukan masa depan Minangkabau.


Sementara itu, Penasehat Bundo Kanduang Tanah Datar, Ny. Lise Eka Putra, menyampaikan apresiasi atas kehadiran peserta dari berbagai penjuru dunia. Menurutnya, antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa identitas budaya Minangkabau tetap tumbuh kuat di kalangan perantau.


Ia menilai kongres ini memiliki makna penting sebagai ruang berbagi pengalaman, mempererat jaringan antarkomunitas Bundo Kanduang, sekaligus memperkuat kontribusi perempuan Minangkabau dalam pembangunan sosial dan budaya.


Selain membahas pelestarian adat, Ny. Lise juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai amanah yang diwariskan kepada generasi mendatang. Nilai "alam takambang jadi guru", katanya, harus terus diimplementasikan melalui kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.


Di sisi lain, ia mengajak seluruh Bundo Kanduang meningkatkan perhatian terhadap pembinaan generasi muda agar terhindar dari ancaman penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan bangsa.


"Kita berharap seminar ini melahirkan gagasan dan rekomendasi yang dapat memperkuat peran Bundo Kanduang di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Semangat berbagi ilmu dan pengalaman juga harus terus diwariskan kepada generasi muda agar budaya Minangkabau tetap lestari sepanjang masa," ujarnya.


Rangkaian Kongres Bundo Kanduang Sedunia III juga diwarnai dengan pengukuhan Pengurus Cabang Bundo Kanduang Negara Malaysia oleh Ketua Bundo Kanduang Internasional, Prof. Dr. Hj. Puti Reno Raudha Thaib. Pengukuhan tersebut menjadi tonggak penting dalam memperluas jejaring organisasi Bundo Kanduang di tingkat internasional sekaligus memperkuat diplomasi budaya Minangkabau melalui peran perempuan di berbagai negara.


Melalui forum ini, Festival Minangkabau 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menghadirkan ruang strategis untuk memperkuat nilai adat, memperkokoh kepedulian terhadap lingkungan, serta meneguhkan peran perempuan sebagai penjaga identitas dan peradaban Minangkabau di tengah tantangan global.

(Bt/red)

×
Berita Terbaru Update