![]() |
| Dandim 0307/Tanah Datar Letkol Arm Hendriyana menghadiri peletakan batu pertama Monumen 100 Tahun Gempa Padang Panjang di kawasan PDIKM, Sabtu (27/6/2026). |
Padang Panjang, MP----- Upaya menjaga ingatan kolektif terhadap salah satu peristiwa paling bersejarah di Sumatera Barat diwujudkan melalui peletakan batu pertama Monumen 100 Tahun Gempa Padang Panjang. Kegiatan yang berlangsung di Amphitheater Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM), Jalan Bustanil Arifin, Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Sabtu (27/6/2026), menjadi bagian penting dari rangkaian Refleksi Satu Abad Gempa 1926.
![]() |
| Prosesi peletakan batu pertama Monumen 100 Tahun Gempa Padang Panjang menjadi simbol penguatan budaya mitigasi bencana bagi generasi mendatang. |
Hadir dalam kegiatan tersebut Komandan Kodim 0307/Tanah Datar, Letkol Arm Hendriyana, S.Sos., M.M., bersama unsur pemerintah daerah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta berbagai elemen masyarakat yang turut memberikan penghormatan terhadap peristiwa bersejarah yang membentuk perjalanan Kota Padang Panjang.
Acara dibuka oleh Wali Kota Padang Panjang yang diwakili Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, I Putu Venda, S.STP., M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peringatan satu abad gempa bukan sekadar mengenang bencana yang terjadi pada 28 Juni 1926, melainkan menjadi momentum untuk meneladani semangat masyarakat yang mampu bangkit dan membangun kembali kehidupan setelah dilanda musibah besar.
Menurutnya, nilai-nilai ketangguhan, solidaritas, dan kebersamaan yang diwariskan para pendahulu harus terus dijaga sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan kebencanaan di masa depan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa pembangunan monumen tersebut juga memiliki fungsi edukatif. Monumen diharapkan menjadi media pembelajaran yang mengingatkan masyarakat tentang pentingnya memahami risiko kebencanaan serta memperkuat budaya mitigasi sejak dini.
Ia menilai kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana perlu terus ditingkatkan melalui edukasi yang berkelanjutan, sehingga kesiapsiagaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Peletakan batu pertama monumen ini menjadi simbol dimulainya pembangunan penanda sejarah yang tidak hanya mengenang tragedi besar satu abad silam, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi mendatang agar selalu siap, tangguh, dan mampu menghadapi ancaman bencana dengan semangat kebersamaan.
Kehadiran Dandim 0307/Tanah Datar bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan berbagai pemangku kepentingan menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung upaya pelestarian sejarah sekaligus memperkuat sinergi membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana.
(PJ/MP)

