-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Tiga Tahun Mengabdi Di Teluk Bayur, Wawan Yunisetiawan Pegang Teguh "Manajemen Hati" Dalam Melayani

Kamis, 11 Juni 2026 | Juni 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-11T14:20:25Z
Suasana hangat perbincangan antara Kasubag Kepegawaian KSOP Kelas II Teluk Bayur, Wawan Yunisetiawan, bersama insan pers di Kota Padang.


Padang, MP----- Di tengah tuntutan birokrasi yang semakin kompleks dan dinamika pelayanan sektor transportasi laut yang terus berkembang, sosok Wawan Yunisetiawan memilih menjalankan tugasnya dengan pendekatan sederhana namun penuh makna: bekerja dengan hati.


Pria kelahiran Jawa Barat yang saat ini mengemban tugas sebagai Kepala Sub Bagian Kepegawaian pada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Teluk Bayur itu mengaku perjalanan kariernya telah membawanya ke berbagai daerah di Indonesia. Sebelum bertugas di Sumatera Barat, ia sempat menjalankan amanah sebagai Kasubag Kepegawaian di Distrik Navigasi Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau.


"Pada tahun 2023 saya mendapat penugasan ke Sumatera Barat, tepatnya di Distrik Navigasi Teluk Bayur Padang. Hampir tiga tahun saya bertugas di sini," ujar Wawan saat berbincang santai bersama sejumlah jurnalis di ruang kerjanya di lantai dua KSOP Kelas II Teluk Bayur, Kamis (11/6/2026).


Perbincangan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Dari balik meja kerjanya, Wawan menceritakan perjalanan pengabdiannya sebagai aparatur negara yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melayani masyarakat melalui sektor perhubungan laut.


Memasuki pertengahan tahun 2027, Wawan mengungkapkan dirinya akan mulai memasuki tahapan persiapan pensiun. Meski masa tugasnya sebagai ASN akan segera berakhir, semangat pengabdian dan nilai-nilai yang selama ini dipegangnya tetap ingin diwariskan kepada generasi penerus.


"Bulan Juli 2027 saya sudah mulai memasuki masa persiapan pensiun. Namun bagi saya, pengabdian tidak berhenti hanya karena masa kerja selesai," tuturnya.


Suami dari Indah Susilawati dan ayah dari seorang anak tunggal tersebut menilai bahwa keberhasilan seorang pegawai tidak semata-mata diukur dari capaian administratif ataupun jabatan yang disandang. Menurutnya, kualitas pelayanan lahir dari keikhlasan dan niat yang tulus dalam bekerja.


"Moto saya sederhana, bagaimana menghadirkan pelayanan yang terbaik. Bekerja harus tulus. Kalau kita bekerja tidak dari hati, apalagi motivasinya sudah kurang baik, tentu hasil kerja juga tidak akan baik. Yang penting bekerja dengan hati," katanya.


Prinsip itulah yang kemudian ia sebut sebagai "manajemen hati", sebuah pendekatan kepemimpinan dan pelayanan yang menempatkan nilai kemanusiaan, kejujuran, dan empati sebagai fondasi utama dalam bekerja.


Menurut Wawan, lingkungan kerja yang sehat tidak hanya dibangun melalui aturan dan sistem administrasi yang baik, tetapi juga melalui hubungan antarpegawai yang harmonis dan saling menghargai. Baginya, sumber daya manusia merupakan aset paling berharga dalam sebuah organisasi.


"Dalam mengelola kepegawaian, yang kita urus bukan sekadar data dan administrasi. Kita berhadapan dengan manusia yang memiliki harapan, tanggung jawab keluarga, dan cita-cita. Karena itu harus ada sentuhan hati dalam setiap pelayanan," ujarnya.


Rekan-rekan kerja yang mengenalnya menilai Wawan sebagai sosok yang sederhana, mudah bergaul, dan terbuka dalam berkomunikasi. Karakter tersebut membuatnya mampu membangun suasana kerja yang kondusif serta menjembatani berbagai persoalan kepegawaian secara bijaksana.


Di penghujung perbincangan, Wawan berharap semangat pelayanan yang tulus dapat terus menjadi budaya kerja di lingkungan KSOP dan Distrik Navigasi Teluk Bayur. Menurutnya, jabatan hanyalah amanah sementara, sedangkan integritas dan dedikasi akan menjadi warisan yang dikenang sepanjang masa.


"Bekerjalah dengan hati, karena dari hati akan lahir kejujuran, tanggung jawab, dan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Itu yang selalu saya pegang selama menjalankan tugas," pungkasnya.


Sosok Wawan Yunisetiawan menjadi gambaran bahwa di balik rutinitas birokrasi dan administrasi pemerintahan, masih terdapat aparatur yang menjadikan ketulusan sebagai kompas utama dalam mengabdi. Menjelang akhir masa tugasnya, ia meninggalkan pesan sederhana namun mendalam: pelayanan publik yang berkualitas selalu bermula dari hati yang ikhlas untuk melayani.

(Rajo.A/MP)

×
Berita Terbaru Update