![]() |
| Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma memberikan kuliah umum kepada 355 kadet Unhan RI di Kampus Politeknik Ben Mboi, Kabupaten Belu. |
Belu, MP----- Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan bahwa supremasi hukum merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas negara, demokrasi, dan pembangunan. Penegasan tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum bertajuk "Menjaga Supremasi Hukum di Tengah Dinamika Sosial Politik Kekuasaan" kepada 355 kadet Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) di Kampus Politeknik Ben Mboi Unhan RI, Kabupaten Belu, Kamis (2/7/2026).
Kuliah umum yang diikuti ratusan kadet dari berbagai program studi itu turut dihadiri jajaran pimpinan Fakultas Logistik Militer Unhan RI, para dosen, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Belu.
Sebelum memasuki materi utama, peserta disuguhkan tayangan dokumenter mengenai perjalanan hidup dan pengabdian Johni Asadoma, mulai dari prestasinya sebagai atlet nasional, karier panjang di Kepolisian RI, kiprah di dunia pemerintahan, hingga keberhasilannya meraih gelar doktor. Tayangan tersebut menjadi inspirasi bagi para kadet agar terus berjuang meraih prestasi melalui kerja keras, disiplin, dan integritas.
Mewakili Dekan Fakultas Logistik Militer, Wakil Dekan I Hikmat Zakky Almubaroq mengajak seluruh kadet memanfaatkan kesempatan langka tersebut untuk memperkaya wawasan.
"Kehadiran Bapak Wakil Gubernur merupakan kesempatan yang sangat berharga. Jadikan kuliah umum ini sebagai bekal dalam mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa di masa depan," ujarnya.
Dalam paparannya, Johni mengisahkan latar belakang kehidupannya yang sederhana sebagai anak seorang prajurit TNI AD berpangkat Pembantu Letnan Satu yang membesarkan delapan orang anak. Kondisi tersebut, menurutnya, justru menempa mental pantang menyerah dan membangun semangat untuk terus berprestasi.
Ia mengingatkan bahwa para kadet Unhan merupakan generasi pilihan yang dipersiapkan negara menjadi pemimpin masa depan sehingga dituntut memiliki daya saing tinggi, kemampuan akademik yang kuat, serta karakter kepemimpinan yang unggul.
"Dunia saat ini dipenuhi persaingan yang sangat ketat. Tidak ada ruang bagi mereka yang malas atau nyaman berada di zona nyaman. Teruslah belajar dan jadilah yang terbaik di bidang masing-masing," pesannya.
Memasuki materi inti, Johni menegaskan bahwa hukum menjadi instrumen utama dalam menjaga ketertiban kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruh aktivitas masyarakat, mulai dari lahir hingga meninggal dunia, menurutnya berada dalam koridor hukum.
Ia mencontohkan bagaimana hukum mampu mengontrol kekuasaan melalui berbagai kasus internasional, termasuk putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan Presiden Donald Trump terkait kewarganegaraan anak imigran. Contoh tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan yang berada di atas hukum.
Johni kemudian mengulas perkembangan konsep negara hukum sejak pemikiran filsuf Yunani Plato hingga teori modern yang dikembangkan Friedrich Julius Stahl dan A.V. Dicey. Menurutnya, negara hukum harus menjamin perlindungan hak asasi manusia, menerapkan pemisahan kekuasaan, menjalankan pemerintahan berdasarkan undang-undang, serta menghadirkan peradilan yang independen.
Ia juga mengutip adagium Lord Acton bahwa kekuasaan cenderung disalahgunakan apabila tidak dibatasi oleh hukum.
"Kekuasaan harus selalu berada dalam pengawasan hukum. Ketika hukum dapat diintervensi oleh kepentingan politik, maka keadilan akan melemah dan kepercayaan publik terhadap negara ikut menurun," tegasnya.
Johni menilai tantangan penegakan supremasi hukum saat ini semakin kompleks akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi, menguatnya kepentingan ekonomi dan oligarki, rendahnya budaya sadar hukum, serta adanya intervensi politik terhadap lembaga penegak hukum.
Karena itu, ia mendorong seluruh komponen bangsa, termasuk generasi muda, untuk memperkuat budaya hukum sekaligus menjaga independensi institusi negara.
Menurutnya, kepastian hukum menjadi prasyarat utama bagi terciptanya iklim investasi, perlindungan hak masyarakat, serta pencegahan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Di hadapan para kadet, Johni juga mengajak mereka menjadi agen perubahan yang mampu membangun kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat dalam menjaga tegaknya hukum serta memperkuat pembangunan nasional.
Mengakhiri kuliah umum, Johni membagikan sejumlah prinsip hidup yang menjadi pegangan selama meniti karier. Ia menekankan pentingnya memiliki cita-cita besar, disiplin, kerja keras, integritas, kemauan terus belajar, kemampuan membangun jejaring, serta menjaga hubungan spiritual dengan Tuhan.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dengan menghindari rokok, minuman beralkohol, serta kebiasaan begadang.
"Kita harus menemukan keunggulan yang tidak dimiliki banyak orang. Kuncinya adalah terus membaca, terus belajar, dan jangan pernah berhenti mengembangkan diri," pungkas Johni Asadoma.
(Red/nt)
