![]() |
| Pengendalian banjir Batang Bangko yang telah rampung beberapa tahun yang lalu membuat aliran sungai lebih tertata dan memberikan rasa aman bagi masyarakat sekitar. |
Solok Selatan, MP----- Bagi warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai, pembenahan sungai bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia menyangkut rasa aman, keberlangsungan aktivitas sehari-hari, hingga harapan agar rumah dan lingkungan mereka tidak lagi mudah diterjang luapan air ketika hujan deras turun.
Harapan itulah yang kini dirasakan masyarakat Muaro Labuah, Kabupaten Solok Selatan, menyusul berlanjutnya penanganan Batang Bangko dan Batang Suliti oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada 2026.
Pekerjaan normalisasi kedua sungai tersebut disertai pembangunan bangunan pengendalian banjir melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) Padang. Infrastruktur tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat perlindungan kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai.
Di tengah pekerjaan pemerintah tersebut, masyarakat juga memberikan apresiasi kepada Zigo Rolanda, SE., MM., Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Partai Golkar daerah pemilihan Sumatera Barat I, yang dinilai ikut mendorong perhatian terhadap kebutuhan pembenahan infrastruktur sungai di wilayah Solok Selatan.
Bagi masyarakat, perhatian terhadap sungai memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan fisik. Sungai yang tertata dan memiliki sistem pengendalian banjir yang baik memberikan rasa tenang, khususnya bagi warga yang setiap musim hujan harus berhadapan dengan potensi kenaikan debit air.
“Kalau sungainya dibenahi, tentu kami merasa lebih aman. Kami yang tinggal dekat sungai paling merasakan bagaimana kondisi air ketika hujan deras,” ujar Edi warga Muaro Labuah kepada wartawan, Kamis 27 Agustus 2026.
Syafrizal, warga lainnya menyebut pembangunan pengendalian banjir sebagai langkah positif yang perlu dilanjutkan secara konsisten. Menurutnya, penanganan sungai tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik, tetapi harus disertai pemeliharaan dan pengawasan secara berkala.
“Ini sangat membantu masyarakat. Kami berharap pekerjaan seperti ini terus dilanjutkan, karena sungai adalah bagian dari kehidupan kami. Kalau sungai terawat, masyarakat juga lebih nyaman,” katanya.
Apresiasi serupa datang dari warga yang selama ini beraktivitas tidak jauh dari aliran Batang Bangko dan Batang Suliti. Mereka berharap keberadaan bangunan pengendalian banjir mampu mengurangi risiko luapan air sekaligus memberikan perlindungan lebih baik bagi kawasan di sekitarnya.
Infrastruktur yang Menyentuh Kehidupan Warga
Normalisasi sungai dan pembangunan pengendalian banjir pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang pengerukan, penataan alur, atau pembangunan konstruksi. Lebih jauh, pekerjaan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan ketahanan kawasan terhadap ancaman banjir.
Karena itu, keberlanjutan program menjadi hal penting. Infrastruktur yang telah dibangun perlu dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Pemeliharaan alur sungai, pengawasan bangunan pengendalian banjir, serta kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Masyarakat pun berharap pembangunan Batang Bangko dan Batang Suliti dapat dilakukan secara terukur, transparan dan memperhatikan kondisi lingkungan serta kebutuhan warga yang berada di sepanjang aliran sungai.
“Yang kami inginkan sederhana, sungai aman, lingkungan nyaman dan masyarakat tidak terus dihantui banjir ketika hujan besar,” ujar warga lainnya.
Bagi masyarakat Muaro Labuah, perhatian terhadap Batang Bangko dan Batang Suliti menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur akan terasa manfaatnya ketika benar-benar bersentuhan dengan persoalan sehari-hari masyarakat.
Kini, harapan warga tertuju pada keberlanjutan penanganan kedua sungai tersebut. Bukan hanya agar bangunan pengendalian banjir berdiri kokoh, tetapi juga mampu menjalankan fungsi perlindungan sebagaimana mestinya—menjadikan sungai lebih tertata dan permukiman di sekitarnya semakin aman.
Di titik inilah pembangunan menemukan maknanya, bukan sekadar membangun konstruksi, tetapi menghadirkan rasa aman bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai.
(Rajo.A/MP)
