![]() |
| Akibat akses jalan di blokir warga, berdampak terhenti nya proses pengerjaan MAN 4 Pasaman Barat yang tengah direvitalisasi melalui program PHTC. |
Pasaman Barat, MP----- Pelaksanaan revitalisasi MAN 4 Pasaman Barat di Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, menjadi perhatian setelah ditemukan sejumlah bagian pekerjaan yang belum tuntas di lokasi. Di antaranya pekerjaan pondasi yang terlihat belum selesai serta bagian plafon bangunan yang telah direhabilitasi namun mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut sebelumnya memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan pekerjaan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tersebut.
Namun, pihak Kementerian PU memberikan penjelasan bahwa pekerjaan yang terlihat berhenti di lokasi bukan karena proyek ditinggalkan atau mangkrak, melainkan berkaitan dengan persoalan akses menuju lokasi pekerjaan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis (Satker PPS) Sumatera Barat, Kementerian PU, Ivan Pratama Setiadi, menjelaskan bahwa kegiatan di MAN 4 Pasaman Barat terpaksa dihentikan sementara setelah akses jalan menuju lokasi diblokir warga.
Ivan menyampaikan penjelasan tersebut kepada wartawan di Padang, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, persoalan muncul setelah pihak pelaksana melakukan pembenahan akses jalan dengan menimbun material sirtu agar kendaraan pengangkut material dapat keluar-masuk menuju lokasi pekerjaan.
“Sebelumnya tidak ada penolakan dari warga. Tapi anehnya, setelah akses jalan masuk ke lokasi kita benahi dengan menimbun pakai material sirtu, setelah jalan bagus dan mobil pengangkut material sudah bisa keluar masuk, kemudian baru ada warga tiba-tiba memblokir jalan masuk,” ujar Ivan.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap mobilisasi material dan kelancaran pekerjaan konstruksi. Kendaraan pengangkut material tidak dapat lagi memasuki lokasi sehingga pekerjaan yang membutuhkan pasokan material tidak dapat dilanjutkan secara normal.
Pihaknya, kata Ivan, telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah nagari setempat untuk mendapatkan penyelesaian.
Namun, hingga saat ini belum diperoleh solusi yang dapat menjamin kelancaran akses kendaraan menuju lokasi pekerjaan.
“Hal ini sudah disampaikan kepada wali nagari, namun tidak ada solusinya. Warga malah minta memutar ke akses jalan lain dekat lokasi,” jelasnya.
Menurut Ivan, opsi menggunakan akses alternatif tersebut juga belum dapat diterima pihak pelaksana karena mempertimbangkan potensi munculnya persoalan serupa di kemudian hari.
“Kita tentu tidak mau, karena takut nanti terjadi pemblokiran serupa. Ketika jalan kita benahi warga diam dan melihat saja, tapi setelah selesai jalan mereka blokir. Jadi tidak mau lah kita seperti itu,” katanya.
Bukan Mangkrak, Pekerjaan Dihentikan karena Kendala Akses
Ivan menegaskan, kondisi pekerjaan di MAN 4 Pasaman Barat tidak tepat apabila disebut sebagai proyek mangkrak.
Ia mengatakan penghentian pekerjaan di lokasi merupakan konsekuensi dari terhambatnya akses mobilisasi material akibat pemblokiran jalan.
“Karena tidak ada juga solusi dari pemerintah setempat, sehingga pekerjaan dihentikan dan kita fokus pada pengerjaan yang berjalan. Jadi tidak benar pekerjaan itu mangkrak. Pekerjaan di lokasi itu kita hentikan karena ada aksi warga memblokir jalan akses masuk ke lokasi pekerjaan,” tegasnya.
Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat kondisi pekerjaan secara utuh. Sebab, dari hasil pantauan lapangan, memang terlihat adanya pekerjaan yang belum terselesaikan, termasuk bagian pondasi dengan pasangan batu dan pembesian yang belum dilanjutkan.
Pada sisi lain, beberapa bagian bangunan utama telah menunjukkan hasil rehabilitasi, seperti pengecatan dinding, perbaikan rangka dan penutup atap, plafon, lantai, serta pembaruan kusen pintu dan jendela.
Temuan adanya bagian plafon yang mengalami kerusakan juga menjadi perhatian karena kualitas dan keberlanjutan hasil rehabilitasi merupakan bagian penting dari tujuan program revitalisasi madrasah.
Infrastruktur Pendidikan untuk Kenyamanan Siswa
Program revitalisasi MAN 4 Pasaman Barat merupakan bagian dari agenda pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan keagamaan.
Pekerjaan revitalisasi tidak hanya menyentuh aspek fisik bangunan, tetapi diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, sehat dan nyaman bagi siswa serta tenaga pendidik.
Karena itu, persoalan teknis di lapangan, termasuk akses material, pekerjaan yang belum selesai maupun kerusakan pada bagian bangunan, perlu diselesaikan secara terbuka agar tidak mengganggu tujuan utama program.
Bagi siswa MAN 4 Pasaman Barat, keberadaan ruang belajar yang aman dan layak bukan sekadar persoalan konstruksi. Infrastruktur sekolah menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka menuntut ilmu, membangun cita-cita dan mempersiapkan masa depan.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman Barat, Dr. H. Thomas Febria S.Ag., M.A., ketika dikonfirmasi sebelumnya menyampaikan apresiasi atas informasi mengenai kondisi pekerjaan tersebut.
“Terima kasih atas informasi yang diberikan. Kita akan lihat dan cek informasinya,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan revitalisasi tersebut merupakan program yang menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Kementerian PU, sementara pihak madrasah berkedudukan sebagai penerima program.
Hingga berita ini disusun, pihak media masih berupaya memperoleh keterangan dari Kepala MAN 4 Pasaman Barat terkait kondisi bangunan, pekerjaan yang belum selesai, serta dampak pemblokiran akses terhadap aktivitas pembangunan.
Klarifikasi dari seluruh pihak menjadi penting agar persoalan revitalisasi MAN 4 Pasaman Barat dapat dilihat secara proporsional. Di satu sisi terdapat pekerjaan fisik yang masih perlu dituntaskan, sementara di sisi lain terdapat persoalan akses yang menurut PPK menjadi kendala utama mobilisasi material.
Penyelesaian persoalan akses secara bersama-sama antara pemerintah, masyarakat, pelaksana kegiatan dan pihak madrasah diharapkan dapat membuka kembali jalannya pekerjaan, sehingga tujuan utama revitalisasi—menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan layak bagi siswa—tetap dapat diwujudkan.
(Rj.alam/MP)
