![]() |
| Olahraga bersama menjadi agenda rutin TPQ-TQA Masjid Baitul Arafah setiap Minggu keempat. |
Padang, MP----- Minggu pagi biasanya menjadi waktu bagi para santri Taman Pendidikan Al-Qur'an–Ta’limul Qur’an lil Aulad (TPQ-TQA) untuk mengikuti Didikan Subuh (DDS). Namun, pada Minggu ini tanggal 27 September 2026, suasana berbeda terlihat di Masjid Baitul Arafah, Perumahan Banuaran Indah, Kelurahan Banuaran Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.
Puluhan santri bersama para guru pengajar keluar dari rutinitas belajar di dalam masjid. Mereka mengenakan pakaian olahraga, berjalan kaki berkeliling kawasan perumahan, kemudian melanjutkan aktivitas dengan olahraga ringan di lapangan sekitar masjid.
Tawa dan keceriaan anak-anak mewarnai suasana pagi. Tak terlihat sekat antara guru dan santri. Sesekali terdengar gurauan kecil di tengah barisan, sementara para guru tetap mengarahkan agar kegiatan berjalan tertib.
Kepala TPQ-TQA Masjid Baitul Arafah, Deflamiq, mengatakan kegiatan olahraga tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap Minggu keempat setiap bulan.
“Kalau Minggu keempat, anak-anak memang kita arahkan menggunakan pakaian olahraga. Ini berbeda dengan Minggu pertama hingga Minggu ketiga, ketika mereka mengenakan pakaian mengaji untuk mengikuti Didikan Subuh,” ujar Deflamiq.
Kegiatan diawali dengan salat Subuh berjamaah di Masjid Baitul Arafah. Setelah itu, para santri mendapatkan arahan dari guru sebelum bersama-sama berjalan kaki mengelilingi kawasan Perumahan Banuaran Indah.
Usai berjalan kaki, rombongan berhenti di sebuah lapangan yang tidak jauh dari masjid. Di lokasi tersebut, guru mengajak para santri melakukan sejumlah gerakan ringan untuk menjaga kebugaran tubuh.
Puluhan santri terlihat antusias mengikuti setiap gerakan. Bagi mereka, Minggu pagi bukan hanya tentang belajar membaca Al-Qur'an dan mendapatkan pendidikan keagamaan, tetapi juga kesempatan untuk bergerak, bermain, bersosialisasi dan membangun kebersamaan.
Belajar Tidak Selalu di Dalam Kelas
Rahmat, salah seorang santri dari kelas TPQ, mengaku senang mengikuti kegiatan olahraga tersebut. Menurutnya, berjalan kaki bersama teman-teman membuat suasana Minggu pagi terasa berbeda.
“Senang, karena bisa jalan-jalan bersama teman dan guru. Biasanya kami belajar mengaji, sekarang bisa olahraga bersama,” ujar Rahmat dengan wajah ceria.
Sementara Arkhan, santri dari kelas yang berbeda, memiliki kesan tersendiri. Ia mengaku kegiatan tersebut membuat dirinya lebih bersemangat karena dapat berolahraga sekaligus berkumpul dengan teman-temannya.
“Enak dan seru. Bisa olahraga, bercanda dengan teman, tapi tetap bersama guru. Saya ingin kegiatan seperti ini ada terus,” katanya.
Perbedaan kesan kedua santri itu menunjukkan bahwa kegiatan sederhana di lingkungan masjid dapat memberikan pengalaman yang beragam bagi anak-anak. Bagi sebagian santri, olahraga menjadi kesempatan menjaga kebugaran. Bagi yang lain, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membangun persahabatan dan menikmati suasana belajar yang tidak monoton.
Orang Tua Melihat Sisi Lain Pendidikan Anak
Salah seorang orang tua santri, Darmen Rajo Alam, yang turut melihat kegiatan tersebut, menilai aktivitas yang dilakukan TPQ-TQA Masjid Baitul Arafah memiliki nilai positif karena menyentuh aspek pendidikan anak secara lebih luas.
Menurutnya, pendidikan agama penting, tetapi pembentukan karakter anak juga membutuhkan ruang untuk berinteraksi, menjaga kesehatan, disiplin dan belajar bekerja sama.
“Sebagai orang tua, saya melihat kegiatan seperti ini memberikan suasana yang berbeda bagi anak-anak. Mereka bukan hanya belajar mengaji, tetapi juga diajarkan menjaga kesehatan, kebersamaan, kedisiplinan dan menghargai lingkungan sekitar,” kata Darmen.
Ia melihat antusiasme para santri menjadi bagian menarik dari kegiatan tersebut. Anak-anak tampak menikmati perjalanan sambil tetap berada dalam pengawasan guru.
“Yang paling terasa adalah kegembiraan anak-anak. Mereka bisa belajar sambil bergerak dan bersosialisasi. Hal sederhana seperti berjalan kaki bersama ternyata bisa menjadi pengalaman yang berkesan bagi mereka,” ujarnya.
Menurut Darmen, pola kegiatan seperti ini juga dapat menjadi jembatan antara pendidikan di masjid dengan kehidupan sosial anak di lingkungan tempat tinggalnya. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah dan belajar membaca Al-Qur'an, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak.
Masjid sebagai Ruang Tumbuh Anak
Kegiatan Minggu pagi di TPQ-TQA Masjid Baitul Arafah memperlihatkan bahwa pendidikan anak tidak selalu harus berlangsung dalam suasana formal.
Ada saatnya anak-anak duduk menyimak pelajaran. Ada pula waktunya mereka berjalan, bergerak, bermain dan tertawa bersama. Dari aktivitas sederhana tersebut, nilai-nilai disiplin, kebersamaan, kepedulian dan tanggung jawab dapat tumbuh secara alami.
Di tengah rutinitas pendidikan anak yang semakin beragam, kegiatan olahraga bersama di lingkungan masjid menjadi pengingat bahwa membangun generasi tidak hanya berbicara mengenai kemampuan akademik dan keagamaan.
Kesehatan, karakter, persahabatan serta rasa memiliki terhadap lingkungan juga merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang mereka.
Pagi itu, langkah kecil puluhan santri yang berjalan mengelilingi perumahan bukan sekadar olahraga. Di balik keceriaan mereka, ada pesan sederhana: belajar bisa dilakukan di mana saja, dan masjid dapat menjadi salah satu ruang penting tempat anak-anak tumbuh, belajar, bersahabat dan mengenal kehidupan bersama.
(Red)
