-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Banjir Bandang Rusak Pekerjaan SPAM Guo Kuranji dan Gunung Pangilun, Kerugian Tembus Rp300 Juta

Rabu, 14 Oktober 2026 | Oktober 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-13T23:11:14Z
Banjir bandang merusak sejumlah aset pekerjaan SPAM Guo Kuranji dan Gunung Pangilun di Kota Padang.


Padang, MP----- Banjir bandang yang menerjang Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (10/10/2026), menyisakan pekerjaan rumah bagi pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Guo Kuranji dan SPAM Gunung Pangilun. Sejumlah aset pekerjaan mengalami kerusakan, akses menuju lokasi proyek terputus, dan waktu pelaksanaan pekerjaan ikut terdampak.

Akses jalan terputus akibat banjir bandang, Sabtu (10/10/2026), menjadi tantangan bagi pelaksana proyek untuk mengejar waktu pekerjaan yang tertunda.


Bencana tersebut bukan sekadar merusak infrastruktur yang sedang dibangun. Di balik kerusakan fisik, ada waktu pengerjaan yang harus kembali disesuaikan, sementara kebutuhan masyarakat terhadap layanan air minum yang aman dan berkelanjutan tetap menjadi perhatian.

Project Manager PT HK, Asih Abdulrahma, kepada wartawan menjelaskan dampak banjir bandang terhadap aset dan waktu pelaksanaan pekerjaan SPAM, Selasa (13/10/2026).


Project Manager PT Hutama Karya (HK), Asih Abdurrahman, mengungkapkan nilai kerusakan aset akibat banjir diperkirakan mencapai lebih dari Rp300 juta. Namun, menurutnya, dampak yang paling sulit dipulihkan bukan hanya kerugian material, melainkan waktu yang telah terpakai dalam pelaksanaan proyek.


“Kalau dirupiahkan sekitar Rp300 juta lebih. Namun, yang tidak tergantikan itu waktu yang sudah berjalan,” kata Asih saat berbincang dengan wartawan di kantornya, Selasa (13/10/2026).


Ia menjelaskan, dampak banjir paling terasa di kawasan Guo Kuranji. Bak Pengumpul Eksisting jebol, sementara pipa transmisi dan distribusi milik PDAM dilaporkan putus. Kondisi tersebut diperparah dengan terputusnya akses jalan menuju lokasi pekerjaan sehingga mobilisasi pekerja, material, dan peralatan menjadi terkendala.


“Bak Pengumpul Eksisting jebol, terus pipa transmisi dan distribusi milik PDAM putus. Akses jalan ke proyek juga terputus,” ungkapnya.


Kerusakan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan proyek SPAM yang berperan penting dalam mendukung ketersediaan air minum bagi masyarakat Kota Padang. Pemulihan infrastruktur yang terdampak bencana perlu dilakukan secara cermat agar pekerjaan dapat kembali berjalan tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan mutu konstruksi.


Kerusakan di Kuranji Lebih Besar


Berdasarkan penjelasan Asih, kerusakan aset yang telah terpasang di lokasi SPAM Guo Kuranji diperkirakan mencapai 4–5 persen. Sementara itu, dampak di kawasan SPAM Gunung Pangilun tidak sebesar yang terjadi di Kuranji.


Di Gunung Pangilun, dampak yang paling dirasakan sejauh ini berupa kehilangan waktu kerja akibat kondisi lapangan pascabencana. Meski tingkat kerusakannya berbeda, kedua lokasi tetap menghadapi tantangan untuk menjaga kelangsungan pekerjaan di tengah kondisi cuaca yang memasuki musim penghujan.


Dalam dokumentasi rencana penanganan SPAM pascabencana untuk Kabupaten Agam, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kota Padang, pekerjaan SPAM Guo Kuranji mencakup rehabilitasi intake, pengadaan dan pemasangan pipa GIP berdiameter nominal 250 milimeter, rehabilitasi kawasan instalasi pengolahan air (IPA), pembangunan jembatan pipa sepanjang 25 meter, serta pembuatan mercu sementara dalam kondisi tanggap darurat.


Adapun pekerjaan di SPAM Gunung Pangilun meliputi pembangunan prasedimentasi, pengadaan dan pemasangan pompa penyedot lumpur, perbaikan accelerator, pengadaan dan pemasangan media filter, pengerukan sedimen di sungai atau intake Pangilun, serta pekerjaan groundsill.


Rangkaian pekerjaan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan SPAM tidak hanya berkaitan dengan perbaikan bagian yang rusak, tetapi juga menyangkut pemulihan fungsi sistem pengambilan, pengolahan, dan penyaluran air.


Percepatan Pekerjaan di Tengah Cuaca Ekstrem


Sebelum banjir terjadi, progres keseluruhan pekerjaan telah mencapai sekitar 49 persen. Untuk menjaga agar pelaksanaan proyek tetap berjalan, PT HK mengaku telah melakukan sejumlah langkah penyesuaian, terutama menghadapi cuaca yang semakin tidak menentu.


Upaya tersebut antara lain menambah peralatan, mendatangkan excavator, menyesuaikan tenaga kerja dengan kebutuhan dan kondisi lapangan, serta melaksanakan pekerjaan pengecoran.


Namun, kerusakan akses jalan menjadi persoalan yang perlu segera ditangani sebelum kegiatan konstruksi dapat kembali berlangsung secara optimal. Perbaikan jalur menuju lokasi proyek menjadi salah satu prioritas agar mobilisasi peralatan dan material tidak terus terhambat.


“Kalau aksesnya sudah hancur seperti ini, kita perbaiki dulu. Kemudian tanggul penahan airnya kita perbesar,” jelas Asih.


Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memulihkan kondisi lapangan sekaligus mengurangi risiko gangguan terhadap pekerjaan apabila hujan kembali turun. Meski demikian, efektivitas perlindungan di lokasi proyek juga bergantung pada kondisi aliran sungai, stabilitas tebing, serta penanganan material sedimen yang terbawa arus.


Berharap Penanganan Hulu Sungai Dipercepat


Asih menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) Padang akan melakukan penanganan di bagian hulu sungai, antara lain melalui pembangunan Check Dam atau Sabodam.


Bangunan pengendali tersebut diharapkan membantu mengendalikan aliran dan menahan sebagian material sedimen sehingga tidak seluruhnya terbawa deras ke arah hilir saat hujan dengan intensitas tinggi. Pelaksanaannya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi sungai dan hasil kajian teknis dari instansi berwenang.


Selain pembangunan pengendali aliran, Asih berharap pendangkalan sungai dapat segera ditangani. Menurutnya, kondisi sungai yang mengalami pendangkalan berpotensi membuat debit air cepat meningkat ketika hujan turun, sehingga dapat kembali mengganggu aktivitas pekerjaan.


Harapan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pemulihan infrastruktur pascabencana membutuhkan koordinasi lintas pihak. Penanganan pada lokasi proyek saja belum tentu cukup apabila risiko dari bagian hulu dan kondisi alur sungai di sekitarnya belum tertangani secara menyeluruh.


Pelayanan Air Minum Menjadi Taruhan


Di tengah upaya memperbaiki kerusakan, persoalan waktu menjadi perhatian penting. Keterlambatan pekerjaan berpotensi memengaruhi tahapan penyelesaian proyek, sementara masyarakat menantikan peningkatan layanan air minum yang menjadi tujuan pembangunan SPAM tersebut.


Karena itu, percepatan pekerjaan perlu berjalan seiring dengan pengendalian mutu konstruksi, keselamatan pekerja, dan upaya mengantisipasi bencana susulan. Pemulihan yang dilakukan secara terburu-buru tanpa memperhitungkan kondisi lapangan justru berisiko menimbulkan persoalan baru.


Asih pun meminta dukungan masyarakat agar pekerjaan dapat segera diselesaikan dan memberikan manfaat sesuai tujuan pembangunan.


“Kami mohon doanya supaya pekerjaan kami cepat selesai, karena jika lama ini berdampak juga kepada pelayanan air minum untuk Kota Padang,” katanya.


Bagi PT HK, tantangan setelah banjir bukan hanya mengembalikan pekerjaan ke kondisi semula, tetapi juga mengejar waktu yang hilang. Sementara bagi masyarakat, keberhasilan pemulihan SPAM akan dinilai dari sejauh mana infrastruktur tersebut dapat berfungsi dan mendukung pelayanan air minum secara berkelanjutan.


Ke depan, percepatan perbaikan akses, pemulihan aset yang rusak, serta penanganan sungai dan sedimen menjadi faktor penting untuk menjaga pekerjaan tetap berjalan. Koordinasi antara pelaksana proyek dan instansi teknis terkait diharapkan dapat memperkecil risiko gangguan berulang, sehingga pembangunan SPAM Guo Kuranji dan Gunung Pangilun dapat dilanjutkan dengan aman, berkualitas, dan memberi manfaat bagi masyarakat Kota Padang.


(Sb/MP)

×
Berita Terbaru Update