-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

FDI Dorong Program Pemberdayaan Gen Z: Bukan Sekadar Lapangan Kerja, tetapi Modal Usaha dan Keterampilan

Jumat, 23 Oktober 2026 | Oktober 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-23T00:54:51Z

Pekanbaru, MP----- Forum Dinamika Indonesia (FDI) mendorong pemerintah mengubah pendekatan pemberdayaan Generasi Z (Gen Z) dengan memperluas akses permodalan, pelatihan keterampilan praktis, dan bantuan peralatan usaha. Langkah ini dinilai penting agar generasi muda memiliki peluang lebih besar untuk mandiri secara ekonomi, tanpa harus bergantung pada pekerjaan di kantor pemerintahan.


Gagasan tersebut berawal dari aspirasi anggota FDI, Syafril, warga Kota Pekanbaru, Riau, yang menilai program kepemudaan perlu lebih dekat dengan kebutuhan dan minat generasi muda saat ini.


Aspirasi itu disampaikan Pendiri Utama FDI, Nof Hendra, melalui keterangan tertulis kepada media di Pekanbaru, Jumat (23/10/2026).


Menurut Syafril, program yang hanya berfokus pada sosialisasi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) belum tentu menarik minat seluruh anak muda. Sebaliknya, program yang menawarkan modal usaha, pelatihan praktis, dan peluang memperoleh penghasilan dinilai lebih relevan dengan kebutuhan mereka.


Menanggapi usulan tersebut, Nof Hendra menilai masukan dari Pekanbaru itu layak menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam merancang kebijakan kepemudaan yang lebih adaptif.


“Keberhasilan program pemerintah seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Mengabaikan suara rakyat, sekecil apa pun, dapat menjauhkan pemimpin dari kebutuhan warganya,” ujar Nof.


Ia menegaskan, FDI berupaya menghimpun ide, usulan, aspirasi, kritik membangun, dan penawaran solusi sebagai bagian dari gerakan lima pilar organisasi tersebut.


Mendorong Gen Z Menjadi Pelaku Usaha


Nof menilai generasi muda membutuhkan ruang untuk mengembangkan kreativitas, menguasai keterampilan yang dibutuhkan pasar, serta memperoleh kesempatan membangun usaha secara mandiri.


Karena itu, FDI mengusulkan lima langkah yang dapat dipertimbangkan pemerintah.


Pertama, memperluas program bantuan modal usaha bagi Gen Z. Pemerintah didorong menyediakan skema permodalan sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta bagi anak muda yang memiliki ide usaha realistis, disertai seleksi, pendampingan, dan evaluasi penggunaan dana.


Kedua, menghadirkan pelatihan yang berorientasi pada peluang penghasilan. Bidang yang dapat dikembangkan antara lain pembuatan konten TikTok dan Reels, barista, administrasi toko daring, pemasaran digital, servis telepon seluler, desain grafis menggunakan Canva, penyuntingan video melalui ponsel, hingga pemasaran afiliasi.


Ketiga, memberikan bantuan peralatan usaha yang siap digunakan. Bentuk dukungan dapat berupa gerobak dagang, mesin jahit, peralatan cukur rambut, serta kompor dan blender untuk usaha kuliner. Dukungan perangkat digital juga dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan usaha penerima.


Keempat, mengembangkan skema dana bergulir dengan pengawasan yang transparan. FDI mengusulkan kolaborasi dengan pemerintah dalam proses seleksi, pendampingan penerima manfaat, dan pelaporan penggunaan dana. Pemanfaatan grup WhatsApp dapat menjadi salah satu sarana komunikasi dan pemantauan, dengan tetap menjaga keamanan data penerima.


Kelima, mengubah pola sosialisasi menjadi kegiatan partisipatif. Pemerintah dapat mengadakan kompetisi ide bisnis, lomba konten kreatif, pameran produk, dan festival karya anak muda agar mereka terlibat langsung, bukan sekadar menjadi peserta yang mendengarkan paparan.


Aspirasi Masyarakat sebagai Dasar Solusi


Menurut Nof, program pemberdayaan generasi muda perlu dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Pelatihan dan bantuan usaha juga harus disertai pendampingan, akses pasar, serta evaluasi agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.


Ia mengapresiasi Syafril yang telah menyampaikan gagasan tersebut melalui FDI. Baginya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendorong kebijakan publik yang lebih responsif.


“Terima kasih kepada Saudara Syafril, warga Pekanbaru, atas ide dan usulannya. Inilah bukti lima pilar FDI berjalan. Kami berharap gagasan ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas,” kata Nof.


Ia juga mengajak insan pers dan media daring untuk bersinergi menyampaikan gagasan konstruktif kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan.


Melalui usulan tersebut, FDI berharap pemberdayaan Gen Z tidak hanya diarahkan pada pencarian pekerjaan formal, tetapi juga pada pengembangan keterampilan, penciptaan lapangan kerja mandiri, dan tumbuhnya wirausaha muda yang mampu berkontribusi bagi perekonomian daerah.


(Nh/MP)

×
Berita Terbaru Update