![]() |
| Sejumlah pekerja melaksanakan pembangunan tanggul Batang Maransi yang ditargetkan rampung pada 16 Desember 2026. |
Padang, MP----- Pembangunan tanggul Sungai Batang Maransi, Kota Padang, yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDA-BK), terus berjalan. Hingga Jumat (23/10/2026), progres pekerjaan dilaporkan mencapai 22 persen atau dua persen di atas target rencana kerja sebesar 20 persen.
Proyek yang berorientasi pada penguatan tebing sungai dan perlindungan kawasan sekitar tersebut memiliki nilai kontrak Rp1.207.748.151. Pekerjaan dilaksanakan CV Yonetta Cahaya Kelbi dengan pengawasan CV Kifikra Graha Konsultan.
Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, pekerjaan ini tercatat dalam kontrak Nomor 04.79/PPSDA-SDABK/APBD/IX-2026, tertanggal 16 September 2026, dengan masa pelaksanaan 107 hari kalender. Pekerjaan ditargetkan rampung pada 16 Desember 2026.
Azim, pelaksana lapangan CV Yonetta Cahaya Kelbi, mengatakan pekerjaan telah berlangsung sekitar lima minggu. Saat ini, kegiatan difokuskan pada pembuatan beton siklop sebagai struktur penahan tebing sungai dengan panjang penanganan sekitar 130 meter.
“Pekerjaan di lapangan sejauh ini berjalan lancar. Tidak ada kendala berarti, baik dari sisi tenaga kerja, peralatan maupun ketersediaan material. Sebelum pekerjaan dimulai, kegiatan juga telah disosialisasikan kepada masyarakat,” ujar Azim kepada wartawan di lokasi proyek, Jumat (23/10/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar tenaga kerja yang dilibatkan merupakan warga setempat. Selain memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar, pelibatan tenaga lokal diharapkan dapat mendukung kelancaran pelaksanaan pembangunan.
Untuk mengantisipasi cuaca yang kurang mendukung, pihak pelaksana mengupayakan ketersediaan material di lapangan, menambah tenaga kerja, serta menyesuaikan jam kerja. Saat ini, sekitar 25 pekerja terlibat dalam kegiatan pembangunan tersebut.
“Progres sudah mencapai 22 persen, sedangkan rencana kerja berada pada angka 20 persen. Artinya, realisasi sementara lebih cepat dua persen dari target,” katanya.
Meski demikian, capaian tersebut masih merupakan progres sementara. Konsistensi pelaksanaan, mutu konstruksi, keselamatan kerja, dan kesesuaian hasil pekerjaan dengan spesifikasi teknis tetap menjadi aspek penting hingga proyek diselesaikan.
PPK Tekankan Tanggung Jawab Pelaksana dan Konsultan Pengawas
Sementara itu, Rahmat Yuhendra, ST. M.Sc, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, meminta kontraktor pelaksana dan konsultan pengawas menjalankan tanggung jawab masing-masing secara profesional sesuai kontrak kerja yang telah disepakati.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan pekerjaan harus mengacu pada ketentuan kontrak, spesifikasi teknis, jadwal pelaksanaan, serta standar mutu dan keselamatan kerja yang berlaku.
Penekanan tersebut menjadi penting agar capaian progres tidak hanya terlihat dari persentase pekerjaan, tetapi juga dibuktikan melalui kualitas konstruksi dan kesesuaian hasil pekerjaan dengan perencanaan.
Pelaksana bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan sesuai ketentuan kontrak, sedangkan konsultan pengawas harus memastikan proses pelaksanaan, penggunaan material, metode kerja, dan hasil konstruksi memenuhi persyaratan teknis.
Dengan pengawasan yang konsisten, potensi keterlambatan, ketidaksesuaian spesifikasi, maupun persoalan keselamatan kerja dapat diidentifikasi dan ditangani sejak dini.
Konsultan Pengawas Soroti Penerapan K3
Di lokasi yang sama, Iksan, inspektur dari CV Kifikra Graha Konsultan selaku konsultan pengawas, menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan pihaknya, progres pekerjaan telah mencapai 22 persen, atau dua persen di atas rencana kerja.
Menurut dia, pelaksanaan di lapangan sejauh ini berjalan mengikuti instruksi dan tahapan pekerjaan yang diminta. Namun, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tetap menjadi perhatian yang perlu dipastikan oleh kontraktor.
Aspek K3 tidak boleh dipandang sebagai pelengkap administrasi proyek. Pekerjaan di sepanjang aliran sungai, terutama yang melibatkan pengerjaan struktur beton dan perkuatan tebing, memerlukan pengendalian risiko, penggunaan alat pelindung diri, serta penataan area kerja yang aman bagi pekerja maupun masyarakat.
Konsultan pengawas juga memiliki peran penting dalam mengingatkan pelaksana apabila ditemukan kondisi yang perlu diperbaiki, sehingga kegiatan pembangunan tetap berjalan sesuai ketentuan.
Perlindungan Sungai Harus Sejalan dengan Kualitas Pembangunan
Pembangunan tanggul dan perkuatan tebing Sungai Batang Maransi diharapkan dapat mendukung pengendalian aliran air serta mengurangi risiko pengikisan tebing yang berpotensi mengancam kawasan di sekitarnya. Namun, efektivitas bangunan tersebut sangat ditentukan oleh ketepatan desain, mutu material, metode konstruksi, dan pemeliharaan setelah pekerjaan selesai.
Karena itu, capaian progres dua persen di atas rencana patut menjadi indikator awal pelaksanaan, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan proyek. Konsistensi mutu dan kepatuhan terhadap kontrak tetap harus dijaga hingga pekerjaan dinyatakan selesai.
Masyarakat juga berkepentingan memperoleh hasil pembangunan yang aman, kokoh, dan bermanfaat dalam jangka panjang. Pengawasan teknis yang memadai, keterbukaan informasi proyek, serta koordinasi antara PPK, kontraktor, dan konsultan pengawas menjadi bagian penting dalam menjaga akuntabilitas penggunaan anggaran daerah.
Dengan tenggat penyelesaian pada 16 Desember 2026, seluruh pihak diharapkan menjaga ritme pekerjaan tanpa mengabaikan kualitas dan keselamatan. Pembangunan tanggul Batang Maransi pada akhirnya bukan sekadar mengejar target waktu, melainkan memastikan infrastruktur yang dibangun benar-benar memberikan perlindungan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
(MP)
