-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Tutup Diksarmil Menwa Pagaruyung ke-49, Fadly Amran Tekankan Wawasan Kebangsaan dan Kesiapsiagaan Bencana

Kamis, 29 Oktober 2026 | Oktober 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-28T23:02:47Z
Fadly Amran menekankan pentingnya disiplin, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan bagi anggota Menwa.


Padang, MP----- Wali Kota Padang, Fadly Amran, secara resmi menutup Pendidikan Dasar Militer (Diksarmil) Angkatan ke-49 Resimen Mahasiswa (Menwa) Pagaruyung Sumatera Barat di Taman Hutan Raya (Tahura) Bung Hatta, Rabu (28/10/2026). Penutupan yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda itu menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memperkuat disiplin, kepemimpinan, dan semangat pengabdian kepada bangsa.


Kegiatan yang berlangsung selama 10 hari, sejak 18 hingga 28 Oktober 2026, diikuti 54 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat. Mereka dibekali nilai-nilai kedisiplinan, solidaritas, tanggung jawab, serta kesiapan menjalankan peran sebagai bagian dari generasi muda yang berkarakter dan berjiwa kebangsaan.


Dalam sambutannya, Fadly Amran menegaskan bahwa Resimen Mahasiswa memiliki peran strategis dalam menumbuhkan wawasan kebangsaan, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta membangun kepedulian terhadap berbagai persoalan masyarakat.


“Anggota Menwa harus mampu menjadi generasi muda yang disiplin, memiliki jiwa kepemimpinan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan keutuhan NKRI. Semangat pengabdian itu hendaknya diwujudkan melalui tindakan nyata, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat,” demikian pesan Fadly Amran.


Ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kepedulian sosial dan kesiapan untuk berkontribusi membantu masyarakat ketika terjadi keadaan darurat, terutama di daerah yang memiliki risiko bencana.


Selain itu, anggota Menwa diharapkan mampu menjadi teladan di lingkungan perguruan tinggi, menjaga solidaritas antarmahasiswa, serta menyampaikan kritik yang konstruktif terhadap pembangunan. Sikap kritis tersebut perlu disertai tanggung jawab, semangat kebangsaan, dan komitmen terhadap kepentingan masyarakat.


Momentum Hari Sumpah Pemuda, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa persatuan dan semangat gotong royong merupakan modal penting dalam menghadapi tantangan bangsa. Perbedaan latar belakang perguruan tinggi maupun daerah asal hendaknya menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas dan memperkuat persaudaraan.


Berakhirnya Diksarmil Angkatan ke-49 bukan sekadar menandai selesainya pendidikan dasar, tetapi juga menjadi awal bagi para peserta untuk menerapkan nilai-nilai yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan bekal kedisiplinan, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan, 54 peserta diharapkan mampu berkontribusi secara positif di lingkungan kampus dan masyarakat, sekaligus mengambil bagian dalam upaya memperkuat persatuan serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.


(Bt/MP)

×
Berita Terbaru Update