-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Progres JSDP Zona 1 Pluit Capai 76 Persen, AHY: Solusi Lingkungan dan Ketersediaan Air Bersih Jakarta

Sabtu, 07 November 2026 | November 07, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-11-07T11:51:22Z
Menko Infrastruktur AHY meninjau progres pembangunan Jakarta Sewerage Development Project (JSDP) Zona 1 di Pluit, Jakarta Utara.


Jakarta, MP----- Pemerintah terus memperkuat pembangunan infrastruktur sanitasi perkotaan melalui proyek Jakarta Sewerage Development Project (JSDP) Zona 1 di Pluit, Jakarta Utara. Proyek strategis nasional senilai sekitar Rp7,7 triliun ini ditargetkan menjadi solusi jangka panjang dalam pengelolaan air limbah domestik, peningkatan kualitas lingkungan, serta mendukung ketersediaan air bersih bagi masyarakat Ibu Kota.

Menko AHY bersama jajaran pejabat dan pihak terkait berfoto bersama usai peninjauan pembangunan JSDP Zona 1 di Pluit, Jakarta Utara.


Optimisme tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat meninjau langsung perkembangan pembangunan JSDP Zona 1, Kamis (5/11/2026).


Dalam kunjungan tersebut, AHY menyebut pengelolaan air limbah merupakan bagian penting dari pembangunan perkotaan, terutama di Jakarta yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi. Infrastruktur sanitasi tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.


“Ketika sampah atau limbah tidak bisa kita kelola dengan baik, ini akan menjadi permasalahan serius bagi kesehatan masyarakat,” ujar AHY.


Berdasarkan laporan pelaksanaan proyek, pembangunan JSDP Zona 1 telah mencapai progres sekitar 76 persen. Capaian tersebut disebut lebih cepat dibandingkan jadwal yang direncanakan, dengan target penyelesaian pada September 2027.


Proyek yang dikembangkan melalui kerja sama dengan Jepang ini nantinya diproyeksikan mampu melayani sekitar satu juta penduduk atau setara dengan 220 ribu rumah tangga. Dengan kapasitas layanan tersebut, keberadaan JSDP diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap sistem pengelolaan air limbah yang lebih terintegrasi dan modern.


Namun, AHY mengingatkan bahwa keberhasilan proyek tidak cukup hanya ditentukan oleh penyelesaian pembangunan instalasi pengolahan. Ketersediaan jaringan perpipaan yang menjangkau kawasan permukiman juga menjadi faktor penting agar fasilitas tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat.


“Pipa-pipa yang harus disiapkan juga harus sama-sama kita bangun dan kawal. Tentu Kementerian PU dalam hal ini bekerja sama secara ketat dengan Pemerintah DKI Jakarta dan pemerintah kota,” katanya.


Kurangi Ketergantungan Air Tanah


Lebih jauh, pembangunan JSDP juga memiliki keterkaitan dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air di Jakarta. Selama ini, pengambilan air tanah secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan permukaan tanah di sejumlah kawasan Ibu Kota.


Karena itu, penguatan sistem pengelolaan air limbah dan penyediaan sumber air bersih yang berkelanjutan perlu berjalan beriringan dengan kebijakan pengendalian pemanfaatan air tanah.


AHY menegaskan, pemerintah ingin menghadirkan solusi yang lebih permanen untuk menjawab persoalan kebutuhan air bersih masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan perkotaan.


“Sekali lagi, hari ini kita sama-sama ingin menghadirkan solusi yang lebih permanen terkait ketersediaan air bersih,” tuturnya.


Selain berfungsi sebagai infrastruktur sanitasi, kawasan pembangunan JSDP juga diarahkan memiliki nilai edukasi. Keberadaan observation deck atau area pengamatan di lokasi proyek diharapkan dapat dimanfaatkan pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum untuk mengenal proses pengolahan air limbah secara langsung.


Fasilitas tersebut juga berpotensi menjadi ruang pembelajaran dan penelitian mengenai teknologi sanitasi, pengelolaan lingkungan, serta pentingnya menjaga kualitas sumber daya air.


Keselamatan Pekerja Jadi Perhatian


Di tengah percepatan pembangunan, AHY turut mengingatkan pentingnya penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja. Menurutnya, target penyelesaian proyek harus tetap diimbangi dengan perlindungan terhadap seluruh tenaga kerja yang terlibat.


“Kita kawal bersama-sama. Tetap safety first. Para pekerja kita harus aman dan selamat dalam melaksanakan pekerjaannya,” tegasnya.


Pemerintah juga mendorong agar pembangunan infrastruktur sanitasi perkotaan tidak hanya terpusat di Jakarta, tetapi dapat dikembangkan di kota-kota besar lainnya yang menghadapi persoalan serupa. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dukungan investasi yang kredibel, serta pemanfaatan teknologi pengolahan limbah yang efektif.


Dengan demikian, JSDP Zona 1 Pluit diharapkan tidak sekadar menjadi proyek pembangunan fisik bernilai besar, melainkan bagian dari transformasi sistem sanitasi perkotaan menuju lingkungan yang lebih sehat, bersih, dan berkelanjutan.


Dalam peninjauan tersebut, AHY didampingi Deputi Infrastruktur Dasar Nazib Faisal, Staf Khusus Menko Sigit Raditya, dan Tenaga Ahli Menko Andi Mattalitti.


Turut hadir Direktur Jenderal Cipta Karya Meike Kencanawulan Martawidjaja, Direktur Sanitasi Ditjen Cipta Karya Sandhi Eko Bramono Poedjastanto, Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Jakarta Metropolitan Reza Rizka Pratama, Ketua CPMU JSDP R. Nuzulina Ilmiaty Ismail, Wakil Wali Kota Jakarta Utara Fredy Setiawan, serta Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto.


(Ns/MP)

×
Berita Terbaru Update