-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Responsif terhadap Masukan Media, Pelaksana Proyek Preservasi Jalan Sei Dareh–Junction Koto Baru Siap Benahi Bahu Jalan

Kamis, 05 November 2026 | November 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-11-05T14:54:54Z
Perlu pembenahan. Material bahu jalan pada proyek Preservasi Jalan Sei Dareh–Junction Koto Baru terlihat belum padat secara merata sehingga rawan ambles ketika dilintasi roda kendaraan.


Dharmasraya, MP----- Keterbukaan terhadap informasi dan masukan dari media menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong kualitas pelaksanaan pembangunan infrastruktur. Sikap responsif tersebut ditunjukkan Olan Mustafa, Pelaksana PT Paesa Pasindo Engineering–PT Basuki Rahmanta Putra, selaku kontraktor pelaksana proyek Preservasi Jalan Sei Dareh–Junction Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya.

Kondisi bahu jalan yang masih labil memerlukan perhatian serius pihak pelaksana agar tidak menimbulkan risiko kecelakaan, khususnya bagi pengendara sepeda motor.


Dalam pertemuan bersama tim investigasi yang tergabung dalam perjalanan jurnalistik media ASANTARA (Aliansi Media Pers Nusantara), Selasa (3/11/2026), Olan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada insan pers yang telah memberikan informasi terkait kondisi pekerjaan di lapangan.


Informasi yang menjadi perhatian tersebut menyangkut kondisi bahu jalan yang telah dihampar menggunakan material Kelas S. Berdasarkan pantauan tim media, terdapat bagian bahu jalan yang terindikasi belum cukup padat. Kondisi itu dikhawatirkan dapat membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor maupun kendaraan roda empat yang melintas terlalu ke tepi badan jalan.


Bahkan, berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah kendaraan dilaporkan pernah mengalami roda terperosok ketika melintasi bagian bahu jalan tersebut.


Menanggapi temuan itu, Olan tidak menampik perlunya perhatian dan penanganan lebih lanjut. Ia justru menyambut positif informasi yang disampaikan media dan berjanji akan melakukan pembenahan sebelum pekerjaan dinyatakan selesai.


"Kita berterima kasih sekali diberikan informasi ini, karena pekerjaan kita belum selesai. Nanti akan kita benahi dan dipadatkan kembali," ungkap Olan.


Sikap tersebut menjadi bagian penting dari proses pengawasan pembangunan. Sebab, keberhasilan sebuah proyek jalan tidak semata-mata diukur dari panjang ruas yang telah dikerjakan maupun capaian persentase progres, tetapi juga dari kualitas konstruksi, keselamatan pengguna jalan, serta manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.


Progres Pekerjaan Melampaui Target


Lebih jauh, Olan menjelaskan bahwa proyek preservasi jalan tersebut mulai dilaksanakan pada 31 Oktober 2025 dan direncanakan berakhir pada Oktober 2027, dengan total nilai anggaran sekitar Rp168 miliar untuk masa pelaksanaan tiga tahun anggaran.


Berdasarkan laporan progres per 25 Oktober 2026, realisasi pekerjaan telah mencapai 32,245 persen, sedikit melampaui target rencana sebesar 31,69 persen.


Dari sisi pembiayaan, pada tahun anggaran 2025 dialokasikan sekitar Rp28 miliar, sedangkan tahun 2026 sebesar Rp32 miliar. Dengan demikian, total anggaran dua tahun pertama mencapai sekitar Rp60 miliar. Sementara itu, sisa alokasi pekerjaan pada tahun anggaran 2027 diperkirakan sekitar Rp108 miliar.


Olan menerangkan, pekerjaan pada tahun pertama lebih banyak difokuskan pada mobilisasi peralatan, pekerjaan patching, persiapan lapangan, termasuk penyiapan Asphalt Mixing Plant (AMP) sebagai fasilitas pendukung produksi material campuran aspal.


Memasuki tahun kedua, pekerjaan mulai diarahkan pada pelebaran badan jalan dan peningkatan kualitas konstruksi di sejumlah titik.


Salah satu contohnya terlihat pada ruas jalan di depan direksi keet proyek yang sebelumnya memiliki lebar sekitar enam meter, kini diperlebar menjadi delapan meter.


Hingga saat ini, pengaspalan telah mencapai sekitar 10 kilometer. Dari rencana penanganan sepanjang 30 kilometer, panjang efektif ruas yang dikerjakan disebut mencapai sekitar 19 kilometer.


Capaian tersebut diharapkan terus meningkat seiring berjalannya tahapan pekerjaan. Namun, percepatan pelaksanaan tetap harus berjalan beriringan dengan pengendalian mutu, ketepatan spesifikasi teknis, serta keselamatan lalu lintas di sepanjang kawasan pekerjaan.


Tegaskan Penggunaan Solar Industri


Dalam kesempatan itu, Olan juga menanggapi informasi mengenai dugaan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam kegiatan proyek.


Ia secara tegas membantah informasi tersebut. Menurutnya, kebutuhan bahan bakar operasional proyek menggunakan solar industri yang dipasok melalui perusahaan penyedia resmi, di antaranya Petro Insani dan Putra Gajah Mada.


"Kita menggunakan BBM solar industri yang disuplai oleh perusahaan resmi, antara lain Petro Insani, Putra Gajah Mada, dan lainnya. Kami juga pernah ditanyai pihak Bapenda Kabupaten Dharmasraya terkait penggunaan BBM. Bukti-bukti faktur resmi pembayaran sudah kita perlihatkan, karena operasional AMP memang membutuhkan solar dalam jumlah cukup besar," jelasnya.


Keterangan tersebut menjadi penjelasan pihak pelaksana atas informasi yang berkembang. Transparansi administrasi pengadaan dan penggunaan BBM tetap menjadi aspek penting untuk memastikan kegiatan proyek berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.


Hadapi Kenaikan Harga Material


Di sisi lain, Olan mengakui bahwa kenaikan harga sejumlah material konstruksi selama masa pelaksanaan menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan.


Salah satu komponen yang menjadi perhatian adalah harga aspal yang menurutnya kembali mengalami kenaikan. Karena itu, pihak perusahaan berharap pengajuan eskalasi harga dapat memperoleh persetujuan sesuai mekanisme dan ketentuan kontrak yang berlaku.


"Kami berharap pengajuan eskalasi diterima. Saya juga mendengar informasi terbaru bahwa harga aspal kembali naik. Namun, secara prinsip kita tetap berkomitmen melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak yang telah ditandatangani," tuturnya.


Kondisi tersebut menggambarkan bahwa pekerjaan infrastruktur dengan masa pelaksanaan multiyears tidak terlepas dari dinamika harga material dan kebutuhan operasional. Meski demikian, setiap perubahan maupun penyesuaian biaya tetap harus melalui prosedur yang sah, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Pengawasan dan Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas


Proyek Preservasi Jalan Sei Dareh–Junction Koto Baru merupakan pekerjaan Kementerian Pekerjaan Umum yang berada di bawah penanganan PPK 2.5, Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Sumatera Barat, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).


Dengan nilai pekerjaan yang mencapai sekitar Rp168 miliar, proyek ini memiliki arti strategis bagi peningkatan konektivitas dan kelancaran mobilitas masyarakat, termasuk mendukung aktivitas ekonomi serta distribusi barang dan jasa di wilayah Dharmasraya dan sekitarnya.


Karena itu, masyarakat tentu berharap seluruh tahapan pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu dengan kualitas konstruksi yang memenuhi spesifikasi teknis.


Perhatian khusus juga perlu diberikan terhadap bahu jalan, kepadatan material, drainase, serta pemasangan rambu-rambu keselamatan selama pekerjaan berlangsung. Sebab, jalan yang sedang dibangun atau ditingkatkan kualitasnya tetap digunakan masyarakat setiap hari sehingga aspek keselamatan tidak boleh dikesampingkan.


Respons positif pelaksana terhadap informasi yang disampaikan media patut menjadi awal dari perbaikan nyata di lapangan. Pers memiliki fungsi kontrol sosial, sementara pelaksana proyek berkewajiban memastikan setiap pekerjaan dilaksanakan sesuai kontrak dan standar mutu yang ditetapkan.


Pada akhirnya, keberhasilan proyek bukan hanya tercermin dari angka progres yang melampaui target, melainkan dari hasil pekerjaan yang kuat, aman, berkualitas, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.


Masyarakat menaruh harapan agar proyek Preservasi Jalan Sei Dareh–Junction Koto Baru tidak sekadar selesai secara administratif, tetapi benar-benar menghadirkan infrastruktur jalan yang nyaman, aman, dan dapat dinikmati masyarakat hingga bertahun-tahun mendatang.


(Am/MP)

×
Berita Terbaru Update