![]() |
| Tumpukan sampah berserakan di pinggir jalan nasional Lubuk Selasih–Surian, Jorong Batang Hari, Nagari Air Dingin, Kabupaten Solok, Senin (2/11/2026). |
Lembah Gumanti, MP----- Persoalan kebersihan lingkungan kembali menjadi sorotan. Dua titik penumpukan sampah ditemukan berserakan di pinggir ruas jalan nasional Lubuk Selasih–Surian, tepatnya di sekitar Jorong Batang Hari, Nagari Air Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
![]() |
| Kondisi tumpukan sampah di kawasan perbukitan Kabupaten Solok yang membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah. |
Pantauan lapangan pada Senin (2/11/2026) memperlihatkan tumpukan sampah di dua lokasi yang berada di sepanjang jalur penghubung antardaerah tersebut. Kondisi ini memunculkan keprihatinan masyarakat karena sampah yang dibiarkan menumpuk tidak hanya mengganggu kebersihan, tetapi juga berpotensi merusak keindahan kawasan perbukitan yang menjadi salah satu daya tarik wilayah itu.
Sejumlah warga menyebutkan, persoalan pembuangan sampah di lokasi tersebut bukan kejadian baru. Tumpukan sampah bahkan disebut telah berlangsung cukup lama, namun hingga kini belum terlihat penanganan konkret yang mampu menghentikan persoalan tersebut.
Bau tidak sedap yang berasal dari sampah turut mengganggu pengguna jalan maupun masyarakat sekitar. Apabila terus dibiarkan, kondisi itu dikhawatirkan menimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan, terutama jika sampah bercampur dengan limbah rumah tangga yang membusuk.
Oyon, seorang pengemudi angkutan rute Padang–Sungai Penuh, mengaku prihatin melihat kondisi tersebut ketika melintas dan berhenti di sekitar lokasi.
"Setahu saya, sampah di lokasi itu sudah lama juga. Tentu akan mengganggu keindahan lingkungan dan menebarkan penyakit," ungkap Oyon kepada wartawan, Senin (2/11/2026).
Sementara itu, berdasarkan keterangan warga setempat, sampah yang menumpuk diduga tidak seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar. Mereka menyebut adanya sampah yang dibawa dari luar wilayah dan kemudian dibuang di kawasan tersebut.
Jika dugaan ini benar, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengangkut sampah yang sudah menumpuk. Diperlukan pengawasan terhadap aktivitas pembuangan, penelusuran sumber sampah, serta langkah pencegahan agar lokasi itu tidak terus dijadikan tempat pembuangan liar.
Masyarakat khawatir, tanpa tindakan tegas dan pengawasan berkelanjutan, dua titik tersebut berpotensi berkembang menjadi tempat pembuangan sampah permanen secara ilegal. Dampaknya bukan hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga dapat mencemari kawasan sekitar dan menurunkan kenyamanan pengguna jalan.
Pemerintah Diminta Tidak Menunggu Sampah Semakin Menggunung
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Solok melalui instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan pembersihan, mengidentifikasi pihak yang membuang sampah, serta menyiapkan langkah pengawasan secara berkelanjutan.
Selain penanganan darurat, pemasangan papan larangan membuang sampah, penyediaan sarana pengelolaan sampah yang memadai, dan pengawasan berkala dinilai penting untuk mencegah persoalan serupa terulang.
Persoalan ini juga membutuhkan koordinasi antara pemerintah nagari, kecamatan, pemerintah kabupaten, serta pihak yang berwenang menangani ruas jalan nasional tersebut.
Jalan nasional bukan sekadar jalur transportasi yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya. Kebersihan kawasan di sepanjang jalur itu juga mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan dan wajah daerah di mata masyarakat maupun pendatang.
Kini, yang dibutuhkan bukan sekadar imbauan menjaga kebersihan, melainkan tindakan nyata. Jangan sampai sampah yang awalnya hanya menumpuk di dua titik justru berkembang menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar akibat pembiaran dan lemahnya pengawasan.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari pemerintah daerah maupun instansi terkait mengenai penanganan dua titik penumpukan sampah tersebut.
(MP)

