Dharmasraya, MP----- Dugaan calo BGN bermain di wilayah Kabupaten Dharmasraya mulai terkuak. Rekan yang pernah menjadi satu tim bersama Poniman cs dengan gamblang menceritakan sepak terjang yang mengatasnamakan dari Yayasan di Jakarta dan BGN.
Hal tersebut diutarakan kepada media oleh Hengki Purnanda, ketika dihubungi menceritakan, bahwa ia awalnya diajak bergabung satu tim dengan Riza Suryadi, Poniman, dan Fadli selaku pihak yang mengaku kepadanya dari yayasan di Jakarta yang sudah bersama - sama BGN.
Dengan gamblang, mengawali ceritanya, Hengki Purnanda membenarkan yang disampaikan oleh Defrino kepada media terkait ajak ikut bergabung serta soal adanya permintaan uang dalam proses sebagai calon pemilik dapur.
" Yang disampaikan oleh Defrino itu benar, adanya uang yang diminta untuk proses daftar calon pemilik dapur SPPG. Dan memang saya yang mengajak Defrino untuk ikut program BGN, karena terlebih dulu saya telah bergabung bersama Poniman cs, " kata Hengki.
Kemudian masyarakat yang berminat menjadi calon pemilik dapur SPPG dikumpulkan oleh Poniman, Riza Suryadi, Fadli dalam sebuah pertemuan. " Tapi dilapangan tidak seperti itu, maka akhirnya saya menyatakan tidak bergabung lagi dengan mereka (Poniman cs-red), " katanya lagi.
Setelah mengeluarkan pernyataan itu, kemudian Hengki mengajukan sendiri dengan memakai nama Muhammadiyah. " Alhamdulillah kini saya ditunjuk oleh Muhammadiyah sebagi Korda untuk pengurusan MBG. Dan kami punya 8 titik hari ini yang sedang dibangun, " sebutnya.
Hengki juga menceritakan awal bergabung bersama Poniman, Reza, dan Fadli. " Saya diajak bergabung oleh Pak Poniman, Riza, dan Fadli. Saat itu, mereka mengatasnamakan dari yayasan yang bekerjasama dengan Kemenhan dan BGN, " kata Hengki menguraikan.
Setelah melakukan segala macam survei dilapangan, ketika itu Hengki menanyakan nama yayasan tersebut yang kemudian dikirimkan dua nama yayasan. " Begitu kita cek nama yayasan itu di portal BGN, ternyata yayasan itu tidak terdaftar sebagai salah satu yayasan yang bekerja sama dengan BGN. Lalu kemudian kita carilah aturan - aturan ternyata memang boleh, kemudian kita lihat cek di Dirjen AHU di Kemenkumham itu yayasan ternyata baru berumur sekitar 3 Minggu, " kata Hengki membeberkan.
Adapun kedua nama yayasan itu adalah yayasan Karawang Angkasa Bagja dan Yayasan Abiyakta Sejahtera Mandiri. " Dasar inilah mereka bergerak mencari mitra, kalimat yang disampaikan ke masyarakat kita bahwa yayasan kita ini telah bekerjasama dengan BGN, " kata Hengki mengulasnya.
Setelah masyarakat calon pemilik dapur SPPG tertarik, disampaikan akan ada nanti survei dari tim yayasan serta tim BGN dari Jakarta. " Disitulah mereka menyampaikan untuk mendatangkan orang itu perlu akomodasi, transportasi, uang saku, dan oleh - oleh, " urainya lagi.
" Waktu itu ada yang membayar 21,8 juta, ada 11,8 juta, ada yang sampai 27 juta, macam - macam besaran nya, hanya saya bagian waktu itu biaya hotel, " ujarnya.
Tim dari yayasan dan BGN yang akan datang ke Dharmasraya itu ada sebanyak 4 orang dari Yayasa, BGN, dan Pengawas. " Cuma sampai di Dharmasraya, mereka berempat itu (tim dari Jakarta-red) tidak satu suara lagi, terpecah pula sampai disini, sehingga ketika selesai di survei, ketika balik kembali ke Jakarta, sebagian naik bus, sebagian lagi naik pesawat, " kata Hengki menuturkan bahwa ternyata Keempat orang itu semuanya dari yayasan tidak ada dari BGN dan Pengawas.
Terungkapnya hal tersebut, kata Hengki, ketika sudah berjalan beberapa hari bersama dengan Keempat orang dari Jakarta itu. " Tentu kita bertanya, ternyata mereka dari yayasan semua, " ungkap Hengki.
Seminggu setelah Keempat nya sampai di Jakarta, diadakan pertemuan zoom. " Disitu kembali saya mempertanyakan bagaimana progres, katanya bapak ada investor ? seperti apa investor nya ? kalau ada investor bagaimana hitungan kita dengan investor ? skema hutangnya bagaimana ? skema bayarnya bagaimana ?, tidak bisa mereka menjawabnya. Kalau seperti itu, tolong di stop dulu yang saya ajukan, tapi malah marah - marah mereka sama saya, " ulasnya.
Kepada yang sudah bergabung diingatkan bahwa hal ini sudah tidak bagus lagi, sehingga ada yang memutuskan bergabung nya, ada yang berdiri sendiri, ada juga yang tetap lanjut disitu.
" Defrino Anwar berdiri sendiri, dia buat yayasan sendiri. Karena saya orang Muhammadiyah kemudian saya gandeng Muhammadiyah, karena ada Korwilnya, ada Kornas nya yang mengurus itu ada jenjang yang jelas. Alhamdulillah sekarang kami ada 8 titik, dan sedang proses bangun hari ini, ada yang 30 persen ada yang 40 persen, " jelasnya.
Hengki menyampaikan pada hari Minggu kemaren, ada Sekretaris Deputi datang ke Dharmasraya, seluruh yayasan diundang. " Mereka (Poniman cs-red) rombongan tadi ternyata mereka bukan dua yayasan saja yang dipegang, ada empat yayasan yang mereka kelola termasuk dua yayasan lokal, " ungkap Hengki.
Pertemuan yang berlangsung di auditorium Kantor Bupati, Poniman cs menyampaikan sudah mendaftar 19 titik, dari jumlah itu baru 4 titik yang masuk tahap persiapan artinya yang boleh untuk melanjutkan pembangunan dan selebihnya belum. " Kita tidak tahu, apakah yang 4 titik ini sudah bangun atau tidak, " tutur Hengki dengan nada bertanya.
Sebagai Korda di Muhammadiyah, Hengki mengakui saat ini sedang fokus mengontrol 8 dapur nya. " Saya lebih fokus mengontrol dapur - dapur saya yang 8 itu, " sebutnya.
" Progres kami di portal jelas, ada yang 20, 30, 40 persen. Keseluruh dapur kami yang 8 itu hari besok diundang oleh BGN ke Medan untuk klarifikasi menyatakan kesiapan beroperasi, " sebutnya lagi.
Pada kesempatan ini Hengki menghimbau kepada masyarakat yang sudah terlanjur bijak saja menyikapi, program nya jelas. Kepada orang yang memanfaatkan kesempatan ini sangat disayangkan, kenapa program yang begitu bagus ini malah dijadikan ajang untuk kepentingan pribadi.
" Kalau program ini berjalan dengan lancar, penerima manfaat nya warga kita juga, diminta masyarakat untuk lebih berhati - hati lagi, pastikan legalitas mereka seperti apa baru mengambil satu tindakan, " katanya.
" Saya sangat menyayangkan adanya oknum - oknum atau orang orang yang memanfaatkan momen ini untuk kepentingan - kepentingan dan keuntungan pribadi, sehingga mengorbankan masyarakat dan mengorbankan penerima manfaat kita, karena itu juga terhalang yang lain, titik sudah terkunci oleh mereka tapi mereka tidak juga bergerak. Orang mau mendaftar tidak bisa lagi karena sudah terkunci titik karena ulah mereka, " pungkasnya.
Poniman : Membantu Mengeluarkan id Masyarakat yang Ingin Membuat Dapur, Riza Suryadi : Tidak Ada Calo - calo Untuk Mendapatkan Investor
Poniman yang dikonfirmasi terkait hal tersebut, menyampaikan bahwa Ia dari yayasan angkasa bagja yang membantu mengeluarkan id masyarakat yang ingin membuat dapur. " Masyarakat pingin membuat dapur kita bantu untuk mengeluarkan id nya, ini sudah berproses, kita ada yang mensupport dari IKN, yayasan Angkasa Bagja, " jelasnya singkat sembari menyambungkan komunikasi kepada rekannya Riza Suryadi.
Dikesempatan itu, Riza menyampaikan bahwa ia beserta rekannya yang lain adalah relawan yang mendatangkan yayasan dari Jakarta ke Dharmasraya. " Kita hanya sebagai Relawan untuk mendatang kan yayasan yang datang dari Jakarta ke Dharmasraya, " jelasnya.
Semua yayasan tersebut sudah terdaftar dan sudah bekerjasama dengan BGN. " Yayasan yang kita datang kan dari Jakarta semua nya sudah bekerja sama - sama BGN, sudah terdaftar resmi, " jelasnya lagi tanpa menyebut nama yayasan dimaksud.
Kemudian melalui pesan whatsapp yang dikirimnya, Riza Suryadi menuliskan 4 nama Yayasan yakni Yayasan Pembangunan Bu Rawiyanah, Yayasan Karawang Angkasa Bagja, Yayasan Tarbiyatul Athfal Dharmasraya, dan Yayasan Abiyakta Sejahtera Mandiri.
Riza Suryadi tidak membantah terkait adanya permintaan sejumlah dana kepada calon pemilik dapur SPPG, namun Riza menegaskan bahwa itu bukan pungli. " Pendaftaran memang gratis, ke calon pemilik dapur dari awal sudah ada komitmen, kita sudah ngomong ke calon pemilik dapur ini ada nanti kita panggil orang yayasan dari Jakarta, untuk mendapatkan titik - titik perlu ongkosnya, akomodasi, dan uang saku, bukan pungli itu yang kita minta, " kata Riza.
Secara regulasi, dalam persyaratan memang tidak ada mengenai uang, kalau tidak mau silahkan, tidak jadi tidak apa. " Bagi yang bersedia, yang mampu yang bikin id kita jemput orangnya, ongkos pesawat, akomodasi, uang saku dan oleh - oleh, minimal Rp 20 juta, dan itu semuanya baru Rp 10 juta, ada juga yang belum bayar, " ungkapnya.
Ia juga membenarkan dana yang dihimpun dari calon pemilik dapur sebesar Rp 11,8 juta itu, dengan rincian Rp 1,8 juta pertama untuk survei tim ke Jakarta, 10 juta untuk 4 orang tim. " Yang pertama 1,8 juta survei tim kita ke jakarta, 10 juta nya untuk akomodasi 4 orang yakni tim dari yayasan, tim dari korlap, tim dari koperasi, dan tim dari pengawas, itu juga belum sepenuhnya dibayar, silahkan tanya - tanya ke dapur, " imbuhnya.
Menurut Riza, calon pemilik dapur dibawah koordinasi nya sekarang sudah lanjut proses legalitasnya. " Kita sudah ada tiga tekan kontrak, insyaallah nanti Minggu ke dua ini dari PT IKN, " ujarnya.
Terkait ada indikasi calo BGN, menurutnya itu yang perlu diklarifikasi, tidak ada calo - calo untuk mendapatkan investor. " Alhamdulillah investor kita sudah dapat, dapat bangun gedung, alat alat, mobil dua, Alhamdulillah kita dapat sudah kontrak tiga, jadi perlahan - lahan, " pungkasnya.
Ada Dugaan Calo BGN, Pemda dan BGN Akan Melakukan Validasi dan Evaluasi Terhadap Yayasan
Dugaan calo BGN di Kabupaten Dharmasraya telah membuat masyarakat resah. Pasalnya, janji bisnis yang ditawari oleh diduga calo BGN belum kunjung terealisasi sampai sekarang, ironisnya uang puluhan juta telah di setorkan ?
Menanggapi keresahan masyarakat ini, Yefrinaldi, Asisten 2 Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kantor Bupati Dharmasraya yang dihubungi media mp, mengatakan terkait prosedur SPPG sudah dilakukan sosialisasi.
" Pada Minggu kemaren sudah di lakukan sosialisasi terkait prosedur untuk SPPG ini, dari Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola, Badan Gizi Nasional. Dan juga sudah ada yang menyampaikan terkait kondisi di lapangan, Pemda bersama BGN akan melakukan validasi dan evaluasi terhadap yayasan - yayasan tersebut, " katanya.
Benarkah dalam hal tersebut Asisten 2 ditunjuk selaku Satgas, dikatakannya Satgas masih dalam proses. " Satgas nya masih dalam proses, kebetulan kemaren saya di minta ibu bupati, untuk memfasilitasi BGN pada minggu kemaren, " jelasnya.
Datangi BGN Pusat Menyampaikan yang Terjadi Dilapangan
Terkait ada dugaan calo BGN di Dharmasraya, Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani, (dikutip dari harianhaluan.id) sangat menyayangkan adanya korban calo dalam pembangunan dapur SPPG, padahal pendaftaran melalui sistem. Dikatakannya, pengelolaan MBG tidak ada kewenangan bupati, karena MBG merupakan kewenangan BGN pusat.
Bupati mengajak seluruh lapisan masyarakat Dharmasraya yang berminat untuk membuka dapur SPPG MBG supaya sampaikan kepada bupati dan bulan melalui orang - orang yang tidak jelas. " Susah jelas pendaftaran melalui sistem dan sistem saat ini sudah penuh dan sudah terkunci, " imbuhnya.
Masyarakat Dharmasraya yang berminat serius mendirikan dapur SPPG MBG jangan pesimis dulu, karena dengan sudah banyaknya desas - desus yang beredar di tengah - tengah masyarakat terkait pendirian dapur SPPG MBG ini, ia sebagai kepala daerah mendatangi BGN Pusat, guna menyampaikan apa yang terjadi sebenarnya di lapangan.
Karena sistem sudah di tutup karena sudah penuh, namun eksen belum ada, dari 28 dapur SPPG MBG, baru satu yang jalan dan beberapa dapur masih dalam persiapan dan dalam waktu dekat akan berjalan.
Dengan demikian BGN sudah menegaskan pada pertemuan terakhir pekan lalu, apabila dalam waktu 45 hari ini tidak juga ada eksen dari pendaftar dapur SPPG MBG, maka yayasan atau badan hukumnya akan di cabut atau black list dari sistem.
”Kalau sistem sudah dibuka kembali dengan adanya penghapusan vendor, silahkan daftar lagi bagi peminat serius,” himbau Bupati. (R/j/mp)
