-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Malewakan Gelar Suku Malayu, Tradisi Sakral Perkuat Ikatan Kaum di Ranah Minang

Selasa, 14 April 2026 | April 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-14T06:03:55Z
Ketua Umum Limbago Ir. Magel MM Datuak Sati bersama pengurus berfoto bersama usai prosesi adat

Padang, MP----- Nuansa adat yang kental dan penuh makna menyelimuti prosesi malewakan gelar Suku Malayu Paruik Ibu Letje Ika Suwarsih, sebuah tradisi sakral dalam budaya Minangkabau yang menandai pengukuhan peran dan martabat dalam struktur kaum.

Wajah ceria dunsanak Suku Malayu dilokasi acara prosesi manjalang induak di lingkungan Istana Silinduang Bulan di Batusangkar.

Kegiatan adat ini telah berlangsung pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Istana Silinduang Bulan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.

Prosesi adat ini dipimpin langsung oleh Sultan Dr Muhammad Farid Thaib Tuhanku Abdul Fatah selaku Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung. Dalam rangkaian acara, gelar Mandeh Induak Kaum Malayu turut dilewakan oleh Prof Dr Raudha Thaib, yang dikenal sebagai Puti Reno, Yang Dipertuan Gadih Silinduang Bulan Pagaruyung.

Rangkaian adat juga diwarnai dengan prosesi manjalang induak, yang dilaksanakan oleh dunsanak Suku Malayu Koto Tuo Batangkapeh, Banda Sapuluh Nan Tasabuik di Ranji Limbago. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan sekaligus penguatan hubungan kekerabatan dalam kaum yang terus dijaga secara turun-temurun.

Kehadiran unsur lembaga adat turut menambah kekhidmatan acara, diantaranya Ketua Umum Limbago, Ir. Magel, MM, Datuak Sati bersama Sekretaris Umum Jasril Rajo Bungsu, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.

Prosesi malewakan gelar ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi momentum penting dalam meneguhkan identitas, mempererat silaturahmi, serta menguatkan peran perempuan sebagai mande dalam kaum, penjaga garis keturunan dan nilai adat di Minangkabau.

Dalam suasana penuh haru dan kebersamaan, para ninik mamak, bundo kanduang, serta dunsanak yang hadir tampak larut dalam makna acara. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa adat Minangkabau tidak hanya hidup dalam simbol, tetapi juga dalam praktik nyata yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

(Rajo Alam/red)

×
Berita Terbaru Update