-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Kementan Pulihkan Ribuan Hektare Sawah Terdampak Bencana di Sumbar

Jumat, 16 Januari 2026 | Januari 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-16T12:32:19Z
Alat berat ekskavator diturunkan ke lokasi untuk membersihkan material banjir dan sedimentasi sebagai bagian dari rehabilitasi sawah terdampak bencana di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Solok, MP----- Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat memulihkan sektor pertanian pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Barat. Ribuan hektare sawah yang terdampak kini mulai direhabilitasi guna memastikan ketahanan pangan dan keberlanjutan mata pencaharian petani.

Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Sam Herodian, memberikan keterangan kepada wartawan saat meninjau lokasi sawah terdampak banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Sam Herodian, mengatakan rehabilitasi sawah ini dicanangkan secara serentak di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Khusus di Sumatera Barat, tercatat sekitar 6.451 hektare sawah terdampak bencana dan tersebar di 14 kabupaten dan kota,” ujar Sam Herodian saat berada di Kabupaten Solok, Kamis.

Dari total tersebut, Kementan mengelompokkan tingkat kerusakan sawah ke dalam kategori ringan, sedang, dan berat. Sawah dengan kerusakan ringan hingga sedang mencapai 3.624 hektare, sementara sawah dengan kategori rusak berat tercatat lebih dari 2.000 hektare.

Menurut Sam, sebelum proses rehabilitasi dimulai, pemerintah daerah melalui dinas terkait perlu menuntaskan tahapan administrasi. Setelah itu, pemulihan sawah akan dilakukan secara serentak di seluruh daerah terdampak.

Tahapan awal rehabilitasi difokuskan pada pembersihan material sisa banjir bandang, seperti pasir, batu, dan kayu yang menutup lahan pertanian akibat bencana yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Untuk tahap pertama, Kementan memprioritaskan sawah dengan kategori rusak ringan hingga sedang, dengan target pengerjaan pada Januari hingga Februari 2026.

“Kami memastikan seluruh areal persawahan terdampak akan dibantu rehabilitasinya,” tegas Sam.

Selain pemulihan lahan, pemerintah pusat bersama kementerian terkait juga melakukan normalisasi sungai melalui pengerukan sedimen. Langkah ini dinilai mendesak mengingat keberlangsungan sawah sangat bergantung pada kelancaran aliran irigasi.

Sejak bencana terjadi, Kementan bersama Kementerian Pekerjaan Umum telah mengoperasikan sejumlah alat berat untuk membersihkan sedimentasi di beberapa aliran sungai di Sumatera Barat.

Tak hanya itu, Kementan juga menyiapkan berbagai bantuan pendukung bagi petani, mulai dari benih dan bibit, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pupuk, yang disalurkan kepada petani di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bagian dari program pemulihan pascabencana.

(PP/red)

×
Berita Terbaru Update