Dibawah taburan bintang khatulistiwa, Sumatera Barat mendengkur dalam lelapnya, namun denyut nadinya berdetak tak beraturan. Ini bukan lagi kejayaan tambang di zaman kolonial, melainkan drama pilu tentang bumi yang dirampok di siang bolong, di bawah naungan janji-janji pembangunan yang hampa.
Bumi Sungai Pasaman Terkoyak
Pasaman, dulunya elok aliran sungai yang jernih, kini merintih. Aliran batang air yang dulu menjadi sumber kehidupan, kini keruh mengalirkan lumpur, dan merkuri, mematikan ekosistim yang rapuh.
Setiap dayungan alat berat di sana, adalah sayatan pada kulit bumi, meninggalkan parut menganga yang takkan pulih semalam. Di lembah-lembah itu para petani dan nelayan tergerus, digantikan oleh kilau semu logam kuning yang membawa bala.
Sijunjung Bolong, Solok Botak
Melodi pilu ini berlanjut ke Sijunjung dan Solok. Bukit-bukit yang perkasa, bentang alam yang menjaga keseimbangan, kini "bolong" dan "botak", kehilangan mahkota hijaunya. Pohon-pohon besar tumbang, akar-akar yang mencengkeram tanah tak berdaya menghadapi nafsu para pemburu harta karun. Pemandangan dari udara memperlihatkan luka-luka menganga, bagai kanker ganas yang menggerogoti lanskap permai. Alam menjerit, tapi suara mereka teredam oleh deru mesin tambang dan gemerincing koin.
Ulah Tangan-tangan Pemburu Harta Karun
Siapa mereka? Mereka adalah bayangan-bayangan yang bergerak dibawah radar, dengan jaringan yang rapi dan terorganisir.
Tangan-tangan kotor ini tidak hanya merusak alam, tetapi juga menodai hukum dan keadilan. Mereka bersembunyi di balik semak-semak birokrasi yang keropos, mengeksploitasi sumber daya milik bersama demi keuntungan pribadi, meninggalkan warisan kerusakan untuk generasi mendatang.
Andre Rosiade Bermohon ke Mabes Polri
Di tengah keheningan yang memekakkan telinga, muncul suara. Bukan dari penyair di menara gading, melainkan dari arena politik, dari seorang putra daerah yang merasa terpanggil. Andre Rosiade, politisi Partai Gerindra yang mewakili aspirasi masyarakat, tak tinggal diam.
Dalam permohonannya yang sarat kekecewaan. Ia mengadukan jeritan bumi Minang ke markas besar kepolisian Republik Indonesia. Ini adalah panggilan untuk keadilan, sebuah upaya untuk menghentikan para perusak. Rosiade tidak hanya berbicara tentang angka kerugian, tetapi juga tentang hilangnya marwah tanah leluhur, tentang masa depan yang terancam. Ia meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas, membongkar jaringan, dan menyeret pelaku usaha tambang emas ilegal ke meja hijau.
Diamati, Sumatera Barat kini menanti. Apakah permohonan ini akan menjadi embun penyejuk bagi bumi yang terluka, ataukah hanya akan menjadi angin lalu yang hilang di hiruk pikuk ibukota ? Kisah ini adalah pengingat pahit bahwa kekayaan alam, jika dikelola dengan ketamakan, hanya menyisakan tangisan dan nestapa.
Jeritan Sunyi Ranah Minang:Elegi Emas di Hulu Batanghari
Di Ranah Minang, dimana kerinduan bersemi, di setiap lekuk bukit barisan, alunan sunyi kini merayap. Bukan lagi dendang saluang yang membuai, bukan pula kisah pilu Sabai Nan Aluih, melainkan gemuruh luka yang tersembunyi di balik hijau zamrud rimba. Inilah elegi tentang emas, tentang silau fatamorgana yang merenggut nyawa sungai, merobek jantung bumi pertiwi.
Tanah ini, yang berselimut kabut mistis dan dongeng Malin Kundang, menyimpan rahasia kelam. Di hulu Batanghari, di mana air seharusnya bening mencumbu bebatuan, kini keruh laksana air mata kemarau.
Sengketa jiwa terjadi di sana. Mereka datang, para pemburu mimpi, dengan mata menyala dan janji-janji kemakmuran yang fana. Mesin-mesin menderu memerkosa keheningan pagi, merobek rahim ibu ibu demi serpihan logam kuning yang disembah dunia.
Emas, yang dulu mungkin hanya perhiasan di leher bundo kanduang, kini menjadi kutukan.
Mercuri meracuni air, membunuh perlahan ikan-ikan di lubuk nan dalam dan menciptakan hantu-hantu bisu di kampung-kampung tepi sungai. Setiap tetes air yang mengalir kini membawa kisah duka tentang mimpi yang terenggut dan masa depan yang keruh.
Di bawah langit Sumatera Barat yang dulu teduh, kini ada retakan. Retakan di jiwa anak negeri, yang terpaksa antara bertahan hidup hari ini atau mewariskan tanah yang mati esok hari. Ini adalah sajak pilu tentang kehilangan, tentang tanah adat yang tergadai oleh kilauan sesaat, tentang jeritan sunyi alam yang memohon belas kasih, diabaikan di tengah hiruk pikuk peradaban yang haus akan harta.
(Obral Chaniago)
