-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Ibu Zubaidah Berpulang, Duka Mendalam dan Pertemuan Haru Dua Sahabat Lama

Senin, 23 Februari 2026 | Februari 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-23T01:40:58Z
Momen pertemuan dua sahabat lama yang sempat terpisah waktu, di tengah duka kepergian sang ibunda tercinta.

Padang, MP----- Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kabar duka menyelimuti keluarga besar Oyong, yang akrab disapa Boyong, atas wafatnya ibunda tercinta, Ibu Zubaidah, pada Minggu siang sekitar pukul 13.30 WIB di usia 78 tahun. Almarhumah menghembuskan napas terakhir di kediamannya, Jalan Alai Barat 14 B, Alai Parak Kopi.

Informasi duka ini disampaikan oleh Uni Ida, kakak Boyong, pada pukul 13.33 WIB. Sejak kabar itu tersebar, rumah duka dipenuhi keluarga, tetangga, dan sahabat yang datang silih berganti, mengirim doa dan pelukan penguat bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kepergian Ibu Zubaidah meninggalkan duka mendalam. Sosoknya dikenal sebagai ibu yang teduh dan penuh kasih, menjadi tempat pulang bagi anak-anaknya dalam setiap keadaan.

Di tengah suasana haru itu, hadir Darmen Rajo Alam, Pemimpin Redaksi momenpembaruan.com, sahabat masa kecil Boyong. Pertemuan dua sahabat lama itu menjadi momen yang menggetarkan di antara isak dan doa.

Boyong sempat terpaku melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Ia terdiam cukup lama, mencoba menelusuri kembali ingatan masa kecil yang telah terkubur waktu. Da Zay, kakaknya, kemudian menyebut nama Isam, mamak dari Darmen Rajo Alam, sebagai pengingat. Boyong mulai mengernyit, berusaha mengaitkan memori, namun baru sebatas menyebut nama adik Darmen.

“Lupa saya… ndak ingat lagi,” ucapnya lirih.

Namun saat nama lengkap Darmen Rajo Alam disebutkan, senyum perlahan merekah di wajah Boyong. Tawa kecil pun pecah, dan kenangan masa kecil mereka mengalir hangat, seolah waktu kembali berputar ke tahun-tahun silam. Percakapan pun melebar bersama Uda Yan, Uda Ujang, dan Uda Zai, menghadirkan nuansa kekeluargaan di tengah suasana duka.

Dalam perbincangan itu, Boyong sempat menyampaikan perenungan mendalam tentang arti seorang ibu dalam kehidupan anak.

“Baru sekarang benar - benar terasa,” ujar Boyong dengan mata berkaca-kaca. “Orang tua itu besar sekali pengaruhnya dalam hidup kita. Selagi ibu masih ada, rasanya rindu pulang kampung itu kuat sekali. Walau sejauh apa kita merantau, hati ini seperti ditarik untuk pulang. Tapi sekarang… setelah ibu ndak ada, memang ada yang hambar terasa.”

Kalimat itu menggantung di udara, sarat makna. Kerinduan yang dulu begitu jelas arahnya, kini terasa berbeda. Rumah tetap ada, kampung tetap sama, namun sosok yang menjadi alasan utama untuk pulang telah lebih dulu pergi.

Rencananya, almarhumah Ibu Zubaidah akan dikebumikan di TPU Air Dingin, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Keluarga memohon doa agar almarhumah husnul khatimah, diampuni segala dosa dan khilafnya, serta ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT.

Kepergian seorang ibu memang meninggalkan ruang kosong yang tak tergantikan. Namun di balik duka itu, pertemuan dua sahabat lama menjadi pengingat bahwa kenangan, persahabatan, dan nilai-nilai yang diwariskan orang tua akan terus hidup, menguatkan langkah anak-anaknya, bahkan setelah mereka tiada.


×
Berita Terbaru Update