-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Jalinsum Sedang Tidak Baik - Baik Saja, Perjalanan Panjang Wartawan Sumbar Menuju HPN Serang

Kamis, 05 Februari 2026 | Februari 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-05T00:09:43Z

Jalinsum, MP----- Perjalanan menuju perhelatan Hari Pers Nasional (HPN) di Kota Serang, Provinsi Banten, menjadi catatan jurnalistik tersendiri bagi rombongan jurnalis Sumatera Barat. Perjalanan darat panjang itu dimulai sejak Rabu, 4 Februari, dan berlangsung hingga malam hari, menyusuri Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang kondisinya kian memprihatinkan.

Menggunakan Bus Gumarang, rombongan yang terdiri dari jurnalis lintas media, di antaranya Afridon, Yuddy Malay, Mebri Tanjung, Yuamran, Syamsu Rijon, Darmen Rajo Alam, serta sejumlah jurnalis lainnya, berangkat dengan satu tujuan ! meliput agenda nasional pers. Namun perjalanan itu justru membuka realitas lain yang tak kalah penting untuk dicatat.

Sejak meninggalkan wilayah Sumatera Barat, bus beberapa kali dipaksa melambat bahkan mengerem mendadak. Lubang jalan, badan aspal bergelombang, dan kerusakan parah di sejumlah titik Jalinsum menjadi ancaman nyata bagi keselamatan perjalanan. Hentakan mendadak membuat penumpang terkejut, suasana sesaat menegang, terutama saat bus melaju di jalur gelap menjelang malam.

“Ini perjalanan yang seru sekaligus menegangkan. Jalinsum benar-benar tidak sedang baik-baik saja. Banyak lubang dan kerusakan yang memaksa sopir mengerem mendadak. Kami semua merasakannya,” ujar Afridon, jurnalis media beritaeditorial.com.

Meski demikian, di dalam bus justru tumbuh ruang kebersamaan yang hangat. Sepanjang perjalanan dari pagi hingga malam hari, obrolan antarjurnalis tak pernah sepi. Diskusi soal dunia pers, cerita liputan di daerah, hingga nostalgia perjalanan jurnalistik masa lalu mengalir begitu saja, diselingi canda yang memecah tawa.

Yuddy Malay menyebut perjalanan ini sebagai potret nyata kehidupan wartawan di lapangan.

“Perjalanan ini melelahkan, tapi di sinilah terasa kuatnya solidaritas jurnalis. Kami tertawa, berdiskusi, dan saling menguatkan. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan profesi,” katanya.

Hal senada disampaikan Mebri Tanjung, yang menilai kondisi Jalinsum sebagai persoalan publik yang tak boleh diabaikan.

“Kami menuju HPN, momentum refleksi pers nasional. Ironisnya, kami justru disuguhi jalan rusak yang membahayakan. Apa yang kami alami ini adalah keluhan masyarakat setiap hari,” ujarnya.

Sementara itu, Yuamran dan Syamsu Rijon menilai perjalanan panjang ini justru memperlihatkan wajah asli kerja jurnalistik—penuh risiko, kesabaran, dan komitmen. Bagi mereka, perjalanan menuju lokasi liputan sering kali menjadi bagian dari cerita yang tak kalah penting dari acara yang diliput.

Darmen Rajo Alam menambahkan, suasana di dalam bus menjadi ruang refleksi bersama.

“Di tengah jalan rusak dan perjalanan panjang, kami diingatkan bahwa tugas jurnalis bukan hanya meliput seremoni, tapi juga mencatat realitas yang kami temui di jalan,” ujarnya.

Hingga malam hari, Bus Gumarang terus melaju menembus gelap Jalinsum, diterangi sorot lampu kendaraan dan disertai guncangan di sejumlah titik. Rasa lelah tak terelakkan, namun semangat tetap terjaga.

Perjalanan panjang pada Rabu itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar mobilisasi menuju HPN. Ia menjelma sebagai kisah tentang ketangguhan, kebersamaan, dan dedikasi insan pers. Di tengah jalan yang retak dan perjalanan yang menguras tenaga, para jurnalis Sumbar membuktikan satu hal: suara pers tetap berjalan, meski jalannya tak selalu mulus.

(Rajo Alam)

×
Berita Terbaru Update