-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Nyawa di Ujung Mesin : Kisah Buyuang dan Risiko Besar di Balik Pekerjaan Sederhana

Rabu, 18 Maret 2026 | Maret 18, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-18T06:00:32Z
Aktivitas Buyuang saat membersihkan lahan perkebunan warga di Korong Tiram. Mesin pemotong rumput ditangannya diayunkan ke kiri dan ke kanan.

Padang Pariaman, MP----- Deru mesin pemotong rumput memecah keheningan kebun di Korong Tiram, Nagari Tapakih, Kecamatan Ulakan Tapakih. Di sanalah Buyuang menggantungkan hidup, di antara rumput liar, batu - batu kecil, dan ancaman yang bisa datang kapan saja.

Endri Gustami Wali Korong Tiram bersama Buyuang dijepret kamera jurnalis mp selepas berbincang santai berbagi kisah hidup

Sekilas, pekerjaannya tampak biasa. Namun bagi Buyuang, setiap ayunan mesin adalah pertaruhan.

“Kalau orang lihat, ini kerja ringan. Tapi kami yang jalani tahu, sedikit saja lengah, bisa celaka,” ucapnya kepada wartawan, Rabu (18/3/2026).

Dengan pengalaman bertahun - tahun, Buyuang telah membersihkan banyak lahan perkebunan milik warga. Bahkan, tak sedikit yang menjadi pelanggan tetap. Namun semakin lama ia bekerja, semakin ia memahami bahwa risiko tak pernah bisa dihindari, hanya bisa diminimalkan.

Ia selalu mengenakan perlengkapan pelindung diri seperti sepatu bot, kacamata, topi, sarung tangan, dan pakaian panjang. Meski begitu, bahaya tetap saja menemukan celah.

Sambil duduk di tepi kebun, Buyuang menunjukkan kakinya yang masih bengkak.

“Ini kena lontaran batu dari mesin. Padahal saya sudah pakai sepatu bot,” katanya.

Benturan batu kecil yang terlontar dari putaran mesin bisa berubah menjadi “peluru” berbahaya. Ia bahkan pernah pingsan karena tak kuat menahan sakit saat kakinya dihantam batu hingga membengkak sebesar mata kaki.

Cerita Buyuang bukan yang paling tragis. Ia menyebutkan, ada rekan seprofesinya yang harus kehilangan kaki akibat pisau mesin yang patah dan menghantam tubuhnya.

“Awalnya masih tergantung sedikit kulit, tapi akhirnya diamputasi juga,” ujarnya pelan.

Peristiwa lain bahkan lebih mengerikan: pecahan pisau mesin menancap ke dada seorang pekerja. Beruntung, nyawanya masih bisa diselamatkan.

Kisah - kisah ini menggambarkan betapa tipis batas antara selamat dan celaka dalam profesi tersebut.

Wali Korong Tiram, Endri Gustami, yang turut mendengar langsung kisah itu, menegaskan bahwa pekerjaan pemotong rumput adalah salah satu profesi dengan risiko tinggi yang kerap luput dari perhatian.

“Kita sering melihat hasilnya, kebun bersih dan rapi, tapi jarang melihat proses dan risiko yang dihadapi pekerjanya. Ini pekerjaan dengan potensi kecelakaan serius, bahkan bisa berujung kehilangan nyawa,” tegasnya.

Endri menilai, sudah saatnya ada kesadaran kolektif untuk lebih memperhatikan keselamatan para pekerja di sektor ini.

“Keselamatan kerja tidak boleh dianggap sepele. Pekerja harus disiplin menggunakan pelindung, dan pemilik lahan juga punya tanggung jawab moral. Jangan hanya menuntut hasil cepat, tapi abaikan keselamatan orang yang bekerja,” ujarnya.

Ia juga mendorong adanya edukasi yang lebih luas serta dukungan nyata bagi pekerja sektor informal, agar risiko kerja bisa ditekan.

“Ini bukan sekadar pekerjaan memotong rumput. Ini tentang keberanian mencari nafkah di tengah risiko. Mereka layak mendapat perhatian, perlindungan, dan penghargaan,” tambah Endri.

Di tengah segala keterbatasan, Buyuang tetap melanjutkan pekerjaannya. Baginya, berhenti bukan pilihan.

Di balik suara bising mesin dan serpihan rumput yang beterbangan, ada keteguhan seorang pekerja yang setiap hari menghadapi risiko demi menghidupi keluarga.

“Yang penting tetap hati - hati. Kita kerja untuk hidup, bukan untuk celaka,” tutupnya.

(Rajo Alam/red)

×
Berita Terbaru Update