-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

BATU GADANG DI JALAN PINTAS Ketika Perubahan Dimulai dari Satu Orang yang Bersedia Bertindak

Minggu, 31 Mei 2026 | Mei 31, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-31T04:53:13Z

Di sebuah nagari yang tenang di pedalaman Sumatera Barat, seorang laki-laki paruh baya menyimpan kegelisahan yang tak pernah benar-benar hilang dari pikirannya. Setiap hari ia melewati jalan pintas menuju sawah dan kebun karet. Jalan itu memang sederhana, penuh lubang dan semak yang mulai merambat ke badan jalan. Namun, yang paling mengusik hatinya bukanlah kondisi fisik jalan tersebut, melainkan sikap sebagian warga yang semakin acuh terhadap lingkungan mereka sendiri.


"Jika jalan di depan rumah sendiri saja tidak dipedulikan, bagaimana kampung ini bisa maju?" pikirnya suatu hari.


Kegelisahan itu kemudian mendorongnya melakukan sebuah ujian sederhana. Pada suatu pagi, ia mengangkat sebuah batu besar yang berada tidak jauh dari jalan dan meletakkannya tepat di tengah jalur yang biasa dilalui warga menuju sawah dan ladang.


Setelah itu, ia bersembunyi di balik pohon durian tua yang rindang, memperhatikan apa yang akan terjadi.


Satu demi satu warga melintas. Ada yang membawa hasil panen, ada yang memikul cangkul, ada pula yang mengendarai sepeda motor. Mereka melihat batu besar itu. Mereka mengeluh. Mereka menggerutu. Namun tak seorang pun berhenti untuk memindahkannya.


Mereka memilih mencari jalan memutar.

Batu itu tetap berada di tempatnya.


Beberapa jam kemudian, datang sekelompok anak muda dengan sepeda motor. Sang pria paruh baya berharap tenaga dan semangat mereka mampu menyelesaikan persoalan sederhana itu.


Harapannya tidak terwujud.


Mereka hanya menurunkan kecepatan, menghindari batu tersebut, lalu melontarkan kritik dan keluhan.

"Pemerintah nagari tidak peduli!" teriak salah seorang.


"Camat dan bupati kerjanya cuma duduk di kantor!" sahut yang lain.

Setelah mengumpat, mereka pun pergi.

Batu itu masih tetap berada di tengah jalan.


Pria paruh baya itu hanya menggeleng pelan. Ia menyadari satu hal: banyak orang mampu menunjukkan kesalahan, tetapi tidak semua bersedia menjadi bagian dari solusi.


Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat, seorang pemuda datang dari arah ladang. Di tangannya terdapat keranjang berisi sayuran segar hasil panen. Tubuhnya tampak lelah, namun langkahnya mantap.


Begitu melihat batu besar yang menghalangi jalan, ia berhenti.


Tanpa banyak berpikir, ia meletakkan keranjang sayur di pinggir jalan. Ia mencoba mendorong batu itu dengan kedua tangannya. Batu tersebut tidak bergeser sedikit pun.


Ia mencoba lagi. 

Dan gagal lagi.


Keringat mulai mengalir di dahinya. Namun ia tidak menyerah.


Setelah beberapa saat, ia menemukan sebatang kayu besar di dekat parit. Kayu itu ia gunakan sebagai tuas untuk membantu mengungkit batu.


Dengan napas tersengal dan tenaga yang hampir habis, ia berdoa pelan.

"Bismillahirrahmanirrahim... Allahu Akbar."

Kekuatan fisik berpadu dengan akal dan ketekunan.


Perlahan-lahan batu itu bergerak.


Tak lama kemudian, batu besar tersebut berhasil dipindahkan ke pinggir jalan. Jalur yang sebelumnya terhalang kembali terbuka untuk siapa saja yang akan melintas.


Ketika hendak mengambil kembali keranjang sayurnya, kakinya menyentuh sebuah plastik kecil yang sebelumnya tertutup batu.


Di dalam plastik itu terdapat sebuah amplop.


Dengan rasa penasaran, ia membuka amplop tersebut dan menemukan secarik surat berisi ajakan menghadiri Musyawarah Besar Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) yang akan diselenggarakan di Kota Padang.


Pemuda itu terdiam.


Belum sempat ia memahami maksud surat tersebut, terdengar langkah kaki mendekat.


Dari balik pohon durian, muncul pria paruh baya yang sejak pagi mengamati semua peristiwa itu.

Sambil tersenyum, ia menghampiri sang pemuda.


Pada saat itulah keduanya memahami makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memindahkan batu.

Masalah tidak akan selesai hanya dengan keluhan.


Perubahan tidak lahir dari umpatan.


Kemajuan tidak datang dari menunggu orang lain bertindak lebih dulu.

Kemajuan selalu dimulai dari seseorang yang berani mengambil langkah pertama.


Sejak hari itu, pemuda tersebut dikenal luas di kampungnya sebagai sosok yang selalu bergerak ketika melihat persoalan. Ia tidak lagi menunggu pemerintah, tidak pula menunggu tetangga.


Ketika ada saluran tersumbat, ia mulai membersihkannya.

Ketika ada jalan rusak, ia mengajak warga bergotong royong memperbaikinya.

Ketika ada masalah di lingkungan, ia hadir lebih dulu untuk mencari jalan keluar.

Perlahan-lahan, sikap itu menular kepada warga lainnya.


Jalan pintas yang dahulu hanya menjadi jalur menuju sawah kini menjadi simbol kebersamaan. Warga mulai memahami bahwa membangun kampung bukan semata tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.


Batu besar yang pernah menghalangi jalan itu akhirnya menjadi pelajaran berharga bagi seluruh nagari.


Sebab dalam kehidupan bermasyarakat, "batu-batu besar" selalu ada. Ia bisa berupa kemiskinan, kebersihan lingkungan, pendidikan, hingga persoalan sosial yang dihadapi bersama.


Dan sebagaimana batu di tengah jalan itu, semua masalah tidak akan pernah hilang hanya karena dikritik.


Ia baru akan tersingkir ketika ada tangan yang bersedia bekerja, pikiran yang mau mencari solusi, dan hati yang yakin untuk memulai.

Karena sering kali, ujian terbesar bukanlah bencana yang datang sekali-sekali.

Melainkan persoalan kecil yang kita lihat setiap hari, tetapi terus kita abaikan.

Perubahan selalu dimulai dari satu langkah.

Dan langkah pertama itu, bisa jadi, dimulai dari diri kita sendiri.

×
Berita Terbaru Update